BROKEN MARRIED

BROKEN MARRIED
ZIDAN


__ADS_3

zidan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah joshua.


tadi pagi istri joshua menelfonya untuk mengantarkanya ke rumah sakit,dan mulai sekarang zidan mulai aktif kembali bekerja menjadi bodyguard istri joshua.


dari dalam dapur zidan bisa melihat seorang perempuan sibuk meraih-raih sesuatu diatas rak piring.


pria itu tersenyum kecil,arimbi terlihat sangat imut.


'brukk'.


tubuh arimbi jatuh terhempas ke lantai,


untung saja kepalanya tidak terhantuk wastafel,bisa-bisa pecah kepalanya.


"aahhhh".arimbi menjerit histeris.


dia menutup matanya rapat-rapat.


suara-suara kardus jatuh terdengar di telinga arimbi,tapi anehnya dia tidak merasakan kardus-kardus itu menimpa tubuhnya.apa dia punya kekuatan sihir yang bisa membua benda terhenti?,itu mustahil.


arimbi membuka matanya perlahan.seorang pria tengah mengukung tubuhnya,menjadikan tubuhnya tameng untuk arimbi,pria itu meringis kesakitan.


"zi...zidan"ucap arimbi tergagap-gagap.


pasalnya wajah zidan terlalu dekat,hanya beberapa inci di depanya,arimbi bisa mendengar suara deru nafasnya ayng terdengar seksi dan bau parfunya yang menggoda.


"kau baik-baik saja?".suara bartonde zidan membuat tubuh arimbi membeku.


dia mengangguk-angguk kaku"i..iya,


pangeran".arimbi keceplosan.


dia mendorong tubuh zidan agar menyingkir dari atas tubuhnya.


arimbi langsung bangkit berdiri"k...kau baik-


baik saja?".


zidan mengangguk-angguk,dia memegangi belakang lehernya yang terasa sakit.arimbi langsing menyadari leher zidan berdarah.


"hey leher mu berdarah tuh".


"hmm".jawab zidan santai.


"zidan aku serius leher mu berdarah!".


namun tetap saja zidan tidak memberikan ekspresi apapun.dia hanya mengangguk-


angguk mengiyakan.


arimbi berdecih,dia ini manusia apa patung sih,selain tanpa ekspresi zidan juga tidak bisa merasakan sakit ya,padahal lehernya sudah berdarah-darah begitu.


arimbi menggeret tangan zidan untuk duduk di meja makan.


"kau tunggu disini ya,aku akan ambil obatnya dulu".


"tidak us....".


"duduk dan tunggulah"


arimbi berjalan masuk kedalam ruangan di belakang dapur.disana ada obat p3k khusus untuk pembantu joshua.


sebelum membawa obat p3k pada zidan,


arimbi berhenti dulu di depan kaca.


"ya ampun arimbi,lihatlah kau sudah seperti gembel begini".gumam arimbi berbicara pada dirinya sendiri."ckckck,bagaimana zidan bisa menyukaimu kalau tampilanmu seperti ini".


arimbi menepuk jidatnya keras.


iya,dari pertama kali kerja dirumah joshua arimbi sudah menyukai zidan.entahlah,


mungkin semua orang juga akan menyukai zidan karna ketampananya.tapi sayangnya bukan itu alasan arimbi menyukai zidan.


dia pria yang sopan,baik,kadang sedingin es menyebalkan tapi itu yang membuat zidan berbedan dengan pria yang lain.


arimbi melangkahkan kakinya


"zidan...."


langkah kaki arimbi tiba-tiba saja terhenti di depan dapur saat melihat zidan dan jesica sedang asik mengobrol di meja makan sana.mereka terlihat sangat dekat,


seolah-seolah mereka memang sudah berteman sejak lama.dan kalau diperhatikan lagi mereka terlihat sangat cocok satu sama lain.zidan yang tampan dan jesica yang cantik.beda sekali dengan arimbi yang tidak ada apa-apanya.


"kau sudah dapat obatnya?".tanya zidan membuyarkan lamunan arimbi.


"i..iya"arimbi berjalan kearah zidan dan jesica.


"ini obatnya"arimbi menyodorkan obat itu ke arah zidan.


"memangnya kau kenapa sampai butuh obat?,kau sedang sakit?".


"lehernya berdarah nona".arimbi yang menjawab.


"apa!".


jesica melihat leher zidan,ada luka gores disana.kenapa jesica tidak menyadarinya daritadi.


"kenapa kau memberitahuku daritadi".


"aku baik-baik saja nona".jawab zidan.


"baik-baik apanya,kemari".

__ADS_1


lihatlah,jesica benar-benar orang yang sangat peduli.sekarang tugas arimbi sudah selesai.


dia berbalik,melangkahkan kakinya kedapur.


"arimbi".pangil jesica.


dengan terpaksa arimbi membalikan badanya kembali"ya,nona?"


jesica bangkit berdiri"obati dia ya,aku ingin ganti baju dulu,kau bisa kan?".


'tentu saja bisa!'batin arimbi semangat.


arimbi mengangguk-angguk kecil"baik nona".


jesica berjalan naik keatas tangga.arimbi langsung duduk di samping zidan.


arimbi mengambil kapas dan membasahinya dengan obat merah.denga sangat pelan arimbi memberishkan luka di leher zidan.


zidan meringis kecil,rasnaya seperti diiris-iris,sangat perih.


"nona jesica cantik ya"ucap arimbi basa basi.


"iya".


'kenapa kau menjawab'iya'.harusnya kau jawab'tidak'zidan,kau tau jawaban mu menyakiti hatiku bodoh!'.gerutu arimbi kesal dalam hati.


"kau menyukainya?".tanya arimbi lagi.


zidan menggeleng


"kenapa?".


"dia sudah punya suami".


benar juga sih,tapi ya bukan itu jawaban yang arimbi mau.zidan memang menyebalkan.


"kalau dia belum punya suami kau mau?".


"tidak juga".


"kenapa?"


"nanti kau cemburu".


tubuh arimbi langsung membeku,apa dia tidak salah dengar.jadi selama ini zidan mengetahui kalau arimbi menyukainya.


entahlah arimbi harus senang atau sedih.


"apaansih ga lucu tau".


"arimbi apa kau sudah menyembuhkam luka zidan?".tanya jesica berjalan menuruni anak tangga.


astaga karena menginterogasi zidan dia sampai lupa mengobati luka zidan.


***


hari sudah semakin siang,matahari sudah tepat berada diatas kepala jesica saat dia turun dari mobilnya.


jesica masuk kedalam rumah sakit cukup besar di kota diikuti oleh zidan di belakangnya.


jesica sudah bilang tunggu saja di mobil,tapi zidan memaksa ikut untuk memastikan kodisi jesica selalu baik-baik saja.jadi jesica hanya pasrah dan memperbolehkanya ikut masuk.


dan sekarang dia menjadi pusat perhatian karna wajah zidan yang hampir kelewat tampan,dia bak model yang berjalan diatas panggung.tubuhnya yang perfect membuat siapapun yang akan berdecak kagum melihatnya.


Langkah jesica terhenti di sebuah pintu dengan nomor d 10,ruangan ibunya.


"kau tunggu disini saja".


zidan mengangguk.


jesica menghela nafas sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan.


Seorang wanita tua terbaring diatas kasur,


infusan membebat tanganya,dia nampak ringkih dan kusam dengan rambut yang berantakan.


"ibu"sapa jesica,menutup kembali pintunya.dia berjalan kearah ibunya.


"jesica,kau kah itu?".


"iya"jesica menaruh tasnya diatas sofa dekat dengan pintu,dia berjalan kearah jendela.


"pengelihatan ibu semakin parah saja".


"kau sedang meledek ku nak?".


Jesica terkekeh kecil.


Empat tahun yang lalu ibunya mengalami kecelakan hebat empat tahu yang lalu.yang membuat mata kirinya jadi tidak berfungsi lagi.urat-uratnya putus dan harus di ganti dengan mata baru,tapi ibu menolaknya hanya karena urusan biaya.


setelah jesica mendapatkan uang perjanjian dengan ibu mirna,dia akan memakai uanganya untuk menyembukan mata ibu.


jesica mengecup lembut kening ibunya,cukup lama.dia menaruh buket bunga di atas nakas,buket bunga dari ibu irma.dia juga memberikan parcel berisi aneka buah-


buahan.


"biar ku bantu".


jesica mencoba membantu ibunya untuk duduk senyaman mungkin.


Jesica menarik kursi tidak jauh darinya,duduk duduk disamping ranjang ibunya.


"ibu sudah makan?".tanya jesica.

__ADS_1


Ibunya melirik keatas nakas di sebelahnya.


sebuah wadah berisi bubur,tempe dan tahu tersampir diatasnya,masih lengkap dan masih terbungkus plastik transparan.itu berarti belum ada yang menyentuhnya.


"ibu tidak memakanya?".


Ibunya menggeleng.


Jesica mendesah pelan,dia memijit keningnya yang sudah berkerut.


"sudah ku peringatkan berapa kali bu,ibu harus makan yang banyak biar ibu cepet sembuh.kalau makan saja susah gimana mau cepet-cepet keluar dari rumah sakit".cecar jesica.


Dia berjalan ke nakas,lalu mengambil nampan itu.


"ibu tidak suka,makanan disini tidak enak jesica,rasanya hambar,coba kau cicipi saja sendiri,memangnya tidak ada yang menjual garam disini".keluh ibu.


Jesica sedikit terkekeh,dia kembali duduk di kursinya,dia membuka plastik transparan.


"sekarang ibu harus makan ya,biar jesica suapin".


"engga"ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Kalau sudah seperti ini akan susah untuk merayu ibu.


"kalau ibu tidak makan jesica akan pergi dari sini dan tidak akan mengunjungi ibu lagi sampai kapanpun".ancamnya.


Ibunya diam,memandangi jesica lekat,jesica tidak tau apa yang sedang ada di fikiran ibunya sekarang.


Dia mengangkat sendoknya lebih tinggi"sekarang ibu makan ya".


"satu suap saja ya".tawar ibunya.


"lima suap".


"satu suap atau tidak sama sekali"ancam ibu


"lima suap atau aku pergi dari sini sekarang".


jesica balik mengancam.


"baiklah,baiklah kau bisanya mengancam saja!".dengus ibu kesal.


Walaupun kesal,pada akhirnya ibu menerima tawaran jesica yang sedikit memaksa,jesica tersenyum puasa saat satu suapan masuk kedalam mulut ibunya.walau pun ibunya memandang dia dengan muka kecut setidaknya ibu masih mau menuruti perkataanya.


Ibu menatap jesica dari atas sampai ke bawah.dia menatap prihatin.


"jesica kenapa kau begitu terlihat kurus,apa kau makan dengan tidak baik disana".


"apasih bu jesica baik-baik saja kok".


"baik-baik saja bagaimana,lihat tanganmu".dia menyentuh tangan jesica"bahkan tangan ibu lebih besar dari tanganmu"


dia membandingkan tanganya dengan tangan tangan jesica.tangan ibunya memang lebih besar,lebih tepatnya membengkak karena terlalu banyak diinfus.tapi sekarang tangan jesica jauh terlihat lebih kecil,tulang,tulangnya bahkan bisa di rasakan.


"seperti lidi.lihat lehermu,lubang besar apa itu?,dan wajahmu ibu bahkan bisa meraupnya dengan satu tangan".


Semua yang dikatan ibunya memang benar.


hari-hari ini jesica kurusan.celana yang sering dia pakai yang sangat pas di punggulnya sekarang sering melorot kebawah,dan baju-baju lama jesica yang tidak pernah tersentuh sejak lama kini mulai di pakai lagi.


"ibu ingin buah?".tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ibu melirik parcel diatas nakas,alisnya berkerut.


"ibu kan sudah bilang,tidak perlu bawa apa-apa kesini,apalagi buah sebanyak itu,siapa yang akan makan?".


"ini ibu irma yang kasih bu,buat ibu katanya".


"ibu irma?".


"huum".jesica mengangguk.tanganya mulai sibuk mengupas kulit jeruk.


"kau bekerja baik disana kan?,kamu repotin ibu irma kan?.gimana sama ellen,dia baik-baik aja?,udah lama ibu engga denger kabarnya".


cecar ibu bertubi-tubi membuat telinga jesica berdengung.


"semuanya baik-baik saja bu".


Itu antonim,banyak hal yang terjadi minggu ini,lebih banyak hal buruk,bahkan hampir semuanya hal buruk.semua terjadi sangat sangat.jesica tidak boleh memberitahu ibunya tentang ini,memberitahu sama saja memberi beban,memberi beban pada orang yang sakit bukanlah tindakan baik.


Jesica memberikan jeruk yang sudah dia kupas kulitnya pada ibu"makanlah,jeruknya segar".


ibu mengambil jeruk dari tangan jesica,dia memakanya.


"manis kan?".tanya jesica,memakan buah jeruk di tanganya.


"iya,jeruknya pasti ma....".


"tok,tok,tok".


Suara ketukan pintu memotong ucapan ibu.tatapan mereka berpusat kearah pintu.


"siapa?".tanya jesica.


Tidak mungkin kalau perawat,perawat akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Ibu mengedikkan bahunya tanda tidak tau.


"biar jesica saja yang buka".jesica bangkit berdiri,berjalan kearah pintu.


Pintu terbuka menampakan seorang wanita seumuran dengan ibunya dan anak kecil laki-laki dengan rambut botak.


"bu astrid"jesica langsung menyalami tangan bu astrid.bu astrid adalah ibu rey,calon mertua kata ibunya.

__ADS_1


__ADS_2