BROKEN MARRIED

BROKEN MARRIED
SALAH SANGKA


__ADS_3

Suara riuh rendah pasar terbawa angin.arimbi turun dari mobil angkot,panas matahari langsung menyengat kulitnya,membakar pori-porinya.


Suara penjual yang mejejalkan daganganya dengan suara keras,dan pembeli yang terus melakukan negosiasi terdengar seperti suara kicauan burung namun berisik.anak-anak kecil berlarian masuk keluar kedalam pasar,kadang menyenggol tubuh arimbi.


"eh balikin mainan aku".ujar seorang anak kecil perempuan dengan rambut kuncir kuda.


"kejar aja kalo bisa!"jawab bocah laki-laki yang berlari kearah arimbi.dia hampir jatuh menabrak arimbi.


"ati-ati kalo jalan".ucap arimbi


"maap bu".lalu dia kembali berlari menyusuri lorong pasar.


arimbi menggeleng-geleng,dia menyusuri lorong pasar.menjejakkan kakinya lebih kedalam.


Langkahnya terhenti di sebuah ruko cukup besar dari ruko lain.diatas rukonya ada tulisan'toko emas berlian'.


Tadi awalanya arimbi ingin langsung pulang saja kerumah,tapi tiba-tiba dalam perjalanan ada sesuatu yang terasa menggangu fikiranya,ucapan ibu tentang biaya sekolah devan yang nunggak enam bulan lebih.


ya,walau ekonomi sinta terbilang cukup sulit dia masih tetap menyekolahkan adiknya.dia tidak mau nasib devan sama seperti dirinya,kurang pendidikan dan akhirnya menjadi beban keluarga.dia mau devan menjadi orang yang berguna dimasa depan.


Belum lagi untuk tunggakan listrik dan uang bulanan kontrakan yang sudah nunggak hampir lima bulan,kalau sampai bulan ini tidak bayar juga mungkin mereka akan diusir dari rumah.


arimbi bisa saja meminjam uang pada nona jesica,majikannya itu pasti akan meminjamkanya.tapi dia malu kalau harus terus meminjam uang dan merepotkan nona jesica,uang pinjaman bulan kemarin saja belum di bayar,entah kapan dia akan melunasinya.


arimbi berdiri di depan etalase yang berisi banyak sekali model emas.


"ada yang bisa saya bantu mba?".tanya pelayan yang tiba-tiba muncul dihadapanya.


arimbi melepaskan cincin di jari tengahnya.


cincin yang di berikan ibunya.dia menyodorkan cincin itu kedepan"apa cincin ini masih bisa di jual?".


Si pelayan mengambil cincin di depanya,dia membolak-balikan cincinya dengan tatapanya sangat serius.


arimbi tidak yakin benda itu masih laku di pasaran.karena cincin itu hanya cincin imitasi,dulu dia beli dengan harga dua ratus ribu,di toko ini.cincin imitasi tidak sama dengan emas yang harganya akan melambung setiap harinya.nilai jualnya pasti akan turun apalagi cicinya sudah terlihat sedikit berkarat.


"ini imitasi".


arimbi mengangguk membenarkan"aku membelinya dua ratus ribu di toko ini,beberapa tahun yang lalu.apa aku masih bisa menjualnya?".


Pelayan itu terdiam,kembali menatao cincinya,lalu menatap arimbi.dia sedikit tertawa kecil,tatapanya sedikit meremehkan.


"apa cincinya tidak bisa dijual?".


"kau tau,cincin imitasi seperti ini sudah jarang peminatnya,di jaman modern ini semua menggunakan barang asli"jelasnya.


"tapi kita masih bisa menjualnya"


"tunggu dulu".arimbi merogoh saku celananya.tidak ada apa-apa didalam sana.seingatnya tadi dia menaruh dompetnya di saku belakang celana.arimbi menggeleng,


mana mungkin dia lupa,dia bukan seseorang yang pelupa,dia yakin seratus persen dia menyimpan dompetnya disana.dia merogoh saku di samping celananya,tidak ada apapun disana,hanya bon makanan kemarin.jesica menengguk ludanya kasar.


 "kau mencari ini?".


 


arimbi langsung berbalik.


Seorang pria tinggi,putih,dengan dimple jelas di pipinya mengangkat dompet berwarna silver di depan arimbi.itu dompetnya,ya arimbi yakin itu dompetnya.


"itu dompetku".arimbi meraih dompetnya segera dari tangan pria asing itu"darimana kau dapatkan dompet ku,kau pencuri ya?!".

__ADS_1


"enak saja kalo nuduh".


"kalo bukan pencuri apalagi!,pencuri!!,


pencuri!!"


pria itu mencoba membebat mulut arimbi agar tidak berteriak seperti itu,tapi terlambat semua ornag-orang di pasar sudah bergerumun di depanya.


"dimana pencurinya neng?".tanya bapak-


bapak tua pada arimbi.


arimbi menunjuk pria di depanya"dia pencurinya".


"engga pak,saya ngga nyuri sumpah".


naasnya orang-orang lebih percaya arimbi,


orang-orang itu mengelililingi pria itu.siap menghakimi.


"maling kaya kamu harus di kasih pelajar biar ga meresahkan"


"tolong jangan...."


'bugh,bughh,bughh!!'


orang-orang itu mulai memukuli pria itu tanpa ampun.


"akhh.....akhh"racau pria itu.


"mba ko ornag itu dipukulin".


"nyopet gimana,orang tadi liat sendiri kok masnya ngambil dompet mba yang jatoh".


"beneran bu".


"masa saya boong sih mba".


wah gawat,kalau begini arimbi bisa masuk penjara karna nuduh orang yang salah,di bisa di tuntut.apalagi kalo orangnya mati di gebug masa,arimbi tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti.


arimbi mencoba menghentikan adegan pengeroyokan itu."pak,pak udah pak jangan pukulin lagi pak".


"lah kenapa mba,biar kita hukum copetnya,biar kapok!!".kata bapak tua sudah tersulut emosinya.


"iya,biar gaada copet yang berani nyopet disini!".tanmbah yang lainya.


"iya bener!!"


arimbi semakin panik dan kalang kabut.


"iya saya tau pak dia copet,tapi jangan main hukum sendiri pak,biar saya aja yang urus copetnya,biar saya bawa sendiri ke polisi".jelas arimbi beralasan.


sebelum arimbi di cecar dan dimaki oleh warga karna kesalah pahaman,dia langsung menarik tangan pria itu pergi meninggalkan pasar.


arimbi membawa pria itu di salah satu minimarket yang letaknya tidak jauh dari pasar.dia menyuruh pria itu duduk di emperan minimarket,karena disini tidak di sediakan bangku.


"duduklah disini,aku akan membeli obat sebentar".ujarnya.


Pria itu tidak menggubris,dia malah sibuk membersihkan jasnya yang sedikit kotor.


memang jas se penting itu untuknya,padahal wajahnya jauh lebih memprihatinkan sekarang.arimbi tidak peduli,dia masuk kedalam minimarket dan meninggalkan pria itu di luar sendirian.

__ADS_1


arimbi mengambil obat merah,kapas,plaster dan dua botol air mineral,untuknya dan untuk pria itu,siapa tau dia haus.setelah itu dia langsung menuju ke kasir,untung saja minimarket sedang sepi,jadi dia tidak perlu lagi mengantri.arimbi menaruh belanjaanya di depan kasir.


"ada lagi?".tanya si kasir.


arimbi mengeleng sambil membuka dompetnya.


"pulsanya sekalian mba?"tawar si kasir.


arimbi menggeleng,dia menatap lama dompetnya,mendesah berat.di dalam sana hanya ada uang dari penjualan cicinya dan uang sisa gajinya kemarin yang rencananya untuk menambah kurangan uang bulanan devan.


"jadi lima belas ribu bu".ujar kasir memasukan barang terakhir kedalam kantong plastik putih.


arimbi memberikan uangnya pada si kasir"ini".


lalu dia buru-buru keluar dari minimarket tersebut.


"minumlah"arimbi menyodorkan air mineral setelah dia berdiri tepat di depan pria itu.


Pria itu menggelengkan kepalanya cepat tanpa menatap wajah jesica.dia masih tetap membersihkan jasnya sampai kepalanya menunduk.


"aduh aku harus teldon bi asih untuk beli banyak sabun".gumam pria itu tidak terlalu jelas.


"apa?!,kau mengatakan sesuatu?".tanya arimbi setelah menenggak air minumnya sendiri.


Pria itu menenggakan kepalanya"tidak".


arimbi duduk di lantai emperan minimarket,


dia menaruh barang belanjaanya di samping.


"duduklah"arimbi menepuk-nepuk lantai di sampingnya.


Pria itu menggeleng cepat.


"kenapa?".


"kotor".


"lalu aku harus bagaimana?,tidak ada tempat duduk disini".dia mengedarkan pandanganya,


mencoba mencari solusi.


Tatapanya terhenti pada setumpuk kardus bekas di ujung sana,dia langsung mengambil satu kotak kardus dan menggelarnya di diatas lantai.


"apa ini cukup?".


Pria itu menatap kardus di depanya,lalu mengalihkan pandanganya pada arimbi.


"kau yakin kardusnya bersih?".


Apa!.apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu,kenapa dia menanyakan hal seperti itu.


Jesica duduk di tempatnya"itu bersih,


duduklah".


Pria itu mengusak-usak lehernya,berfikir cukup lama sebelum dia membuka jasnya,dia kemudian menggelar jasnya diatas kardus yang sudah di gelar tadi.


alis arimbi semakin berkerut.arimbi fikir jasnya sangat penting baginya,tapi sekarang pantatnya jauh lebih penting dari jas tersebut.


arimbi tidak habis fikir ada ya orang seperti itu di dunia.

__ADS_1


__ADS_2