BROKEN MARRIED

BROKEN MARRIED
SALAH SANGKA pt.2


__ADS_3

"aw...aww"ringis pria itu memegangi pinggir lukanya"kau bisa sedikit lebih pelan,ini sedikit menyakitkan".komplenya.


"ini sudah sangat pelan tuan".


"sebegitu kasarnya kau bilang pelan".


sarkasnya.


"baiklah,saya akan mencobanya".


Lalu keheningan mulai menyelimuti mereka,


mereka tidak bicara lagi,arimbi sibuk dengan luka di dahi juna dan pria itu hanya menunggu lukanya diobati.


Sambil terus membersihkan luka pria itu,


arimbi terus mencuri-curi pandang.pakaian pria itu sangat rapih,rambutnya juga,dia pasti memakai shampo setiap hari,rambutnya sangat wangi,bahkan dari jarak setengah meter pun.seperti tidak ada cacat pada kerapihanya.


"tuan ini dokter?".setelah lama akhirnya jesica berani menanyakan ini.


"bukan aku model".jawab pria itu.


"oh"balas arimbi sekenanya.


"kau tidak mengenalku,aku aron,model salah satu brand ternama,masa kau tidak tau".


arimbi menggeleng.aron?,siapa?,namanya terdengar asing bagi arimbi,pasti orang ini hanya sedang halu untuk menjadi model.


ponsel aron berdering cukup keras.tapi aron seolah-oleh tidak mendengarnya,dia mengabaikanya.


"hp anda bunyi tuan".ucap arimbi.


"sudah tau".jawab aron dingin.


LALU KENAPA KAU TIDAK MENGANGKATNYA BODOH.


arimbi ingin mengatakan itu pada juna,tapi dia langsung mengulum kata-katanya sebelum benar-benar keluar dari mulutnya.dia memilih diam.


aron melirik layar ponselnya.disana tertulis manajer muda joshua.dia mengangkat panggilanya.


"ya?".jawab aron di telfon.


arimbi memekakan pendengaranya,dia diam-diam mendengar pecakapan orang di depanya.


"ada orang kurang waras baru saja menuduhku maling"dia melirik arimbi sekilas,membuat arimbi sedikit kikuk"aku diamuk masa dan sepertinya aku agak sedikit telat,aku harus obati lukaku dulu".


aron diam cukup lama,orang yang sedang menelfonya mungkin sedang menceramahinya.


"tidak,hanya luka ringan.aku akan hubungi lagi kalau sudah selesai.baiklah,akan ku usahakan".


aron langsung menutup telfonya,


memasukkan hpnya kembali ke kantong celana.


"cepat selesaikan,aku sibuk hari ini".


arimbi berdecih.sudah menyusahkan sekarang nyuruh-nyuruh lagi.benar kata ibu,


orang kaya memang selalu semena-mena.


tidak semua,tapi kebanyakan.


"seharusnya tuan berterima kasih karena saya mau mengobati tuan,bukanya terus memojok-mojokan saya seolah-olah saya yang salah".arimbi sedikit menekan-nekankan kapasnya lebih kuat.entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.


"oh"pria itu membulatkan mulutnya"sekarang kau merasa seperti super hero yang telah menyelamatkan korban dari sebuah kejahatan ya.kau fikir siapa yang membuatku jadi babak belur begini?".


arimbi memutar bola matanya malas,dia membuang kapasnya dan menggantinya dengan yang baru"kan tadi saya sudah minta maaf".


"kapan?,aku tidak mendengarnya".


Selain aneh pria ini juga mengesalkan ya.


"lagipula ini salah mu kan,kalau kau tidak meneriakki ku maling aku tidak akan jadi seperti ini".tambahnya.


"ya tuan juga,kenapa tuan harus ada disitu saat saya kehilangan dompet,ya saya jadi kehilangan kendali dan menuduh tuan macam-macam".


"kalau aku tidak ada disitu,mungkin kau tidak akan bisa pulang.kau harusnya yang berterima kasih padaku,bukan malah berbalik memaki ku".


arimbi diam,dia tidak tau harus menjawab apa,aron benar,kejadian ini memang salah arimbi sepenuhnya,pria itu hanya korbanya.


aron tersenyum meledek"kau kalah".


ujarnya membuat emosi arimbi meluap.


"saya tidak kalah,hanya saja saya tidak ingin bedebat dengan tuan".kelekarnya bohong.


"kau kalah,dan mengakulah".

__ADS_1


arimbi menyentuh rahang pria itu"diam"dia sedikit menekanya,mengangkat dagu pria itu.membuat pria itu sedikit mendongak keatas"kalau kau terlalu banyak bicara nanti akan jadi lebih sakit".


Pria itu memberenggut"kau bahkan belum menyelesaikan luka di dahiku.kau memang tidak becus ya".protesnya.


Jesica menghela nafas panjang,dia memejamkan matanya sejenak,membiarkan emosinya meredam.


Bebera menit keheningan menyelimuti mereka.pria di depanya diam,dia tidak mau lagi bicara pada orang di depanya,dia tidak mau di pojokkan lagi.


"selesai"arimbi membuang kapasnya setelah tambalan hansaplas terakhir menutup luka di dahi aron dengan sempurna.


Dia merapihkan kembali obat-obatanya ke dalam kantong plastik putih.tidak lupa pula memunguti kapas-kapas yang berserakan di depanya,lalu memasukkanya kedalam tong sampai.


aron memegangi lukanya.


"itu akan sembuh dalam beberapa hari".jelas arimbi.


Dia mengangguk-angguk paham.pria itu bangkit berdiri.mengambil jasnya dengan hanya menggunakan dua jari,dia seperti membawa katong plastik sampah.bahkan dia sama sekali tidak menganggap jasnya.


"kalau begitu saya pamit dulu tuan".


"tunggu dulu,aku bisa beri tumpangan padamu,aku tidak memaksa".


"tidak perlu"jawab arimbi dingin.sebenarnya dia hanya tidak enak saja menerima tumpangan orang yang baru dia kenal.


Pria itu menatap kearah langit.langit sudah sedikit menghitam,padahal masih jam setengah dua siang tapi seperti sudah jam lima sore.


"sebentar lagi hujan,kau bisa kejebak hujan kalau tidak pulang sekarang".


arimbi menggeleng cepat.


"oh baiklah,setidak aku sudah basa-basi".


Setelah mengatakan itu.pria tinggi itu berjalan ke seberang jalan sana,ke tempat parkiran pasar.arimbi menatap bahu bidang aron,sampai sosoknya hilang di telan mobil hitam.


arimbi mendongak keatas,awan hitam mengantung diatas sana,sudah tidak kuat menampung air di dalamnya.aron benar,sepertinya akan turun hujan besar.


Setetes air membasahi wajah arimbi.


kemudian tanpa aba-aba,hujan turun begitu cepat membasahi tubuhnya.


"tet..tett".sebuah mobil berhenti di depanya,


sedetik kemudian kaca mobilnya terbuka.


"ayo masuk!"aron berteriak dari dalam mobil.


Kali ini arimbi tidak bisa menolak,dia membuka pintu mobilnya dan langsung masuk kedalam.


"rumah mu dimana?"tanya aron tanpa menatap arimbi,pandanganya terfokus pada jalanan.


"tuan lurus saja,sebentar lagi ada belokan,


tuan bisa berhenti disana".jelasnya menunjuk jalan di depan.


aron mengangguk-angguk mengerti.


Tubuh arimbi tersentak,pria itu melemparkan selimut----handuk berwarna putih kearahnya.


arimbi menatap pria itu,ternyata walau aneh dia peka dan perhatian.tidak begitu buruk.


"apa?,kau tidak bisa memakai handuk?".


tanyanya sekilas menatap arimbi lalu kembali menatap kedepan lagi.


"terima kasih"entah berapa kali jesica mengucapkan kata terimakasih pada aron.


"kau bisa herhenti disini".


aron membuka kaca jendela disamping arimbi.sebuah rumah besar terpampang jelas sampingnya.dia menatap alamat rumah itu dan alamat yang di berikan oleh joshua padanya.alamat itu sama seperti alamat rumah joshua.apa jangan-jangan ini rumah joshua?.


"itu rumah mu?".tanya aron.


tentu saja tidak,arimbi menggeleng.


"ini rumah tuan joshua?".


alis arimbi berkerut,bagaimana pria itu bisa tau ini rumah joshua.apa dia salah satu peramal.


"bagaimana tuan bisa tau?".


aron tidak menjawab,dia kembali menyalakan mesin mobilnya.


seorang pria paruh baya dari dalam pos berlari membuka pagar rumah.mobil aron masuk kedalam rumah joshua.


arimbi masih tidak mengerti kenapa pak yanto membukkan pagarnya,padahal ini kan mobil asing,pak yanto saja mungkin tidak mengenal aron.


mobil aron berhenti di depan pelataran rumah joshua.

__ADS_1


"turun".katanya.


dia membuka pintu mobilnya lalu turun dari dalam mobil.arimbi yang masih tidak mengerti hanya ikutan turun.


dengan santai aron berjalan melenggang masuk kedalam rumah joshua setelah memencet bel dan sarah membukkan pintu.


joshua sedang duduk di ruang tv.


"hey bro,do you miss me?".sapa aron hangat hendak memeluk joshua,tapi joshua buru-buru mendorongnya kasar.


"wajahmu kenapa tuh?"tanya joshua menatap wajah aron aneh.


"tanya saja pada pembantumu itu".aron melirik arimbi sinis.


"arimbi?,apa yang terjadi?".


"saya menuduh tuan aron copet tuan".cicit arimbi menundukkan kepalanya,takut joshua marah padanya.


namun dugaanya salah,joshua malah tertawa terbahak-bahak.


"hahahaha,pantes arimbi menuduhmu copet,


muka mu mirip copet sih".ledek joshua.


aron mendengus kesal"mati saja sana".


"arimbi kau sudah datang".ujar seorang wanita berjalan melewati joshua dan aron.


"hey jesica".panggil joshua.


jesica membalikkan badanya"ya tuan?"


"buatkan jus dan camilan untuk tamu ku".suruh joshua.


"tidak usah,aku hanya sebentar"ucap rion.


"buatkan saja"


"baik tuan".jesica berjalan pergi kearah dapur.


"itu pembantu mu?"tanya aron terus menatap punggung jesica sampai dia masuk kedalam dapur.


joshua mengangguk-angguk.


"cantik juga ya"


joshua memberikan tatapan tajam pada aron saat melihat pria itu terus menatap jesica.


tanpa sadar tanganya refleks mencengkeram kerah baju aron.


"berhenti menatapnya atau ku bunuh kau!".gertaknya.


"hehehe tenang joshua,tenang aku tidak akan...."


Ucapan aron terhenti saat jesica sudah berdiri di depan mereka sambil membawa nampan berisi jus dan camilan.namun entah apa yang di fikirkan jesica.


'prangg!!'


gelas di tanganya jatuh kelantai berkeping-


keping.


joshua langsung meraih tangan jesica.


"kau bisa sedikit lebih hati-hati,tanganmu akan melepuh kalau begini".joshua meniup-niup punggung tangan jesica sambil sesekali mengusap-usapnya lembut.


Padahalkan air yang mengenai jesica jus jeruk diberi es batu.


"maaf tuan,saya baik-baik saja".


"baik-baik saja gimana,tangamu melepuh tuh".


omel joshua.


"tapikan airnya dingin tuan".


Ucapan itu membekukan tubuh joshua,


bagai disambar petir di siang bolong dia tidak bisa mengucapkan apa-apa.


joshua melepaskan tanganya dari tangan jesica.jesica memunguti pecahan gelas yang bercecer diatas lantai


"akan saya ambilkan yang baru tuan".


jesica pergi kembali kedapur.


aron hanya bisa tertawa lepas menyaksikan drama ini sambil menunggu klarifikasi dari joshua.

__ADS_1


"hahaha ternyata kisah-kisah tuan yang menikahi pembantunya tuh beneran ada ya,hahaha pantas saja waktu aku meliatnya kau marah,kau cemburu toh hahaha"ledek aron senang.


"aku akan benar-benar membunuh mu aron,aku akan benar-benar membunuhmu".


__ADS_2