
" apa yang ingin kamu lakukan? Saya mohon jangan lakukan itu pada diriku" pinta Luna berharap Dion mendengarkannya. tapi Dion sudah emosi dengan perkataan Luna yang mengatai dirinya seorang lelaki bejat.
dengan cepat Dion menggendong Luna dan melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan sangat kasar.
" saya mohon jangan lakukan ini pada diriku " pinta Luna lagi. dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang mulus.
" semua sudah terlambat. Bukannya kamu sendiri yang bilang ingin tahu arti sesungguhnya kata-kata bejat itu apa? Jadi sekarang saya akan buktikan. kamu cukup menikmati saja permainanku" ucap Dion berada di atas tubuh Luna. Dengan lilitan handuk yang masih melekat di tubuhnya yang mulus.
Luna berusaha memberontak. Namun semuanya Percuma saja. tenaga Dion lebih kuat dibanding kan tenaga Luna. Dion mengunci pergerakan Luna hingga tidak bisa untuk melawan lagi. Dion dengan kasar menarik handuk yang dikenakan Luna dan membuang ke segala arah.
mata Dion terbelalak melihat pemandangann yang begitu indah. melihat tubuh Luna yang putih mulus menggoda. benda yang ada di dalam celananya menjadi menegang dan keras. Luna yang sadar hal itu semakin menangis. Sayangnya dia tidak peduli dengan tangisan Luna. tanpa Abah-aba dia langsung melucuti semua pakaian yang dia kenakan dan membuang ke segala arah
Luna semakin menangis saat dia langsung memasukkan kejantanannya ke dalam lubang Luna tanpa aba-aba dan pemanasan. dia memainkan kejantanannya dengan kasar dan brutal di lubang milik Lunang.
Ini baru pertama kali bagi Luna. Bagaimana Dion bisa melakukan nya dengan sangat kasar tanpa kelembutan sama sekali. Luna menangis menahan rasa nyeri dan sakit di miliknya. Bagaimana bisa hal yang pertama dalam hidupnya dilakukan dengan sangatlah kasar.
tubuh Luna terasa remuk seperti tak bertulang. rasanya seperti tertimpa baju yang sangat berat. dia tak ada tenaga untuk memberontak dan melawan. dia tak cukup tenaga hingga dirinya pasrah dengan apa yang dilakukan Dion. Luna hanya bisa menangisi dan meratapi nasibnya.
satu jam sudah Dian menggagahi Luna. setelah selesai melakukan hal itu Dion langsung meninggalkan Luna. dia terbaring lema dan terus saja menangis. Luna terus saja menangis di atas kasur dengan mata yang sangat bengkak.
__ADS_1
"hiks.....hiks......hiks.... dasar lelaki brengsek tak punya hati. Aku sangat membenci dirimu. Kenapa kau lakukan ini semua pada diriku pada dirimu" tangis Luna sangatlah pilu. Siapa saja yang mendengar pasti akan ikut menangis.
Luna bangun dan duduk menggosok seluruh tubuhnya dengan kedua tangan tangannya pada bagian yang disentuh oleh Dion. dia berjalan dengan tubuh yang polos menuju kamar mandi.
di sisi lain Dion mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia bisa melakukan itu pada perempuan murahan itu. dia merasa jijik sudah menyentuh Luna. Kenapa dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya.
" kenapa aku sangat bodoh bisa menyentuh wanita murahan itu. Kenapa mendengar perkataannya membuat aku menjadi tertantang" maki Dion. dia memijit pelipis dan mengomel pada dirinya sendiri yang sudah melakukan hal yang sangat bodoh.
" tapi kenapa Rasanya sangatlah nikmat dan enak " gumam Dion. dia mengingat semua yang ada pada diri nya luna tanpa meleset sama sekali.
" astaga Aku memikirkan apa sih? kenapa aku bisa berkata begini. bisa-bisa besar kepala dia kalau mendengar semua perkataanku" lanjut Dion.
Awalnya dia hanya ingin memberi pelajaran. tapi kenapa jadi malah terjebak dengan pelajarannya sendiri.
Dion mengacak-ngacak frustasi rambutnya. dia melemparkan semua benda-benda yang ada di kamarnya ke sembarang arah. dia membanting dan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya hingga hancur berantakan dan berkeping-keping. sekarang Kamarnya tampak seperti kapal pecah. banyak berserakan kaca, gelas,vas bunga dan benda yang lain-lain nya.
Dion bangkit dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya supaya pikirannya bisa tenang.
dia tidak ingin terpuruk dengan sesuatu yang sudah telah terjadi. percuma menyesal jika semua tidak akan bisa kembali seperti semula.
__ADS_1
di tempat lain terdengar suara tangisan yang sangat memilukan. tangisan yang tak kunjung berhenti. Luna merasa sangat jijik dengan tubuhnya. Kenapa Dion bisa melakukan hal itu kepada dirinya.
" Aku sangat membencimu. Kau sangat brengsek. kamu lelaki yang bejat" Makian Luna kepada Dion. dia meremas selimut yang ada di atas kasur dengan sangat kuat.
" Kenapa harus diri ini ya Allah. aku tahu kalau dia adalah suamiku. tapi diriku belum siap. Bahkan dia sangatlah membenci diriku. Bagaimana bisa diriku rela disentuh oleh dia" tangis Luna yang sangat rapuh.
saat ini dirinya terpuruk dan sangat hancur hatinya. kehormatan yang dia jaga selama ini sudah direbut paksa oleh suaminya dengan cara yang cukup kasar. di mana banyak lelaki melakukan hal itu dengan lembut dan romantis. Dion malah kebalikan dari semua itu.
Luna terus menangis dan meratapi nasib nya hingga malam.dion yang sudah berada di meja makan menunggu Luna untuk makan malam. tapi Luna belum juga datang dan turun untuk makan malam.
" bibi di mana Luna? Kenapa jam segini dia belum turun juga?" tanya Dion kepada pembantunya dengan melihat jam tangannya.
" Saya tidak tahu tuan. pulang dari kerja Nyonya belum juga keluar dari kamarnya tuan" sahut pembantunya sambil menunduk tanpa menoleh ke manapun.
Dion mulai kepikiran dengan perkataan yang diucapkan oleh pembantunya itu.
" Apa karena masalah yang tadi " gumam Dion yang masih bisa didengarkan oleh pembantunya.
" tidaklah mungkin. wanita murahan itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membalas semua perbuatanku " guman Dion lagi-lagi itu dapat didengar oleh pembantunya.Dan pembantunya pun menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dion yang telah menyiksa nyonya nya lagi tanpa kasian.
__ADS_1