Bukan Istri Penganti

Bukan Istri Penganti
terpuruknya Dion


__ADS_3

Luna kini berada di kamar dengan wajah tak menentu. pikiran tak searah dengan apa yang dia ingin melakukan.


mereka yang masih setia berkumpul di ruang keluarga menunggu kedatangan Luna yang sampai saat ini belum juga turun. mereka menjadi penasaran Apa yang dilakukan oleh Luna di kamarnya hingga selama ini.


Arya Ingin menyusul Luna namun dicegah oleh Amar.


" biarkan dia menenangkan dirinya. jangan mengganggu Luna saat ini. dia membutuhkan ketenangan dan berpikir "


" tapi mar......" protes Arya yang masih Ingin menyusul Luna.


" tidak ada tapi-tapian. biarkan dia sendiri dulu. kamu jangan ngeyel " ucap tegas Amar yang tidak menerima bantahan apapun dari Arya.


Arya adalah sosok pria yang sangat perhatian. tapi perhatiannya sangat berlebihan melebihi Amar. jika diartikan pria overprotektif tingkat tinggi.


Entah kenapa Luna bisa memiliki Kakak seperti Arya. itu Sudahlah takdir yang kuasa yang tidak bisa ditolak atau dibantah oleh Luna.


satu jam dia merenung sendiri di kamarnya dia merasa lebih mendingan dari sebelumnya. Luna keluar dengan pakaian santai menuju ruang keluarga. Dia menghampiri mereka yang mungkin sudah menunggu lama. Bahkan mereka sudah berpikir aneh tentang dirinya. Mengapa dia juga datang menghampiri mereka.


Luna menuruni satu persatu anak tangga. mereka memandang Luna yang terlihat menuruni anak tanggal dan melihat kedatangannya yang lebih segar dan Pasti lebih cantik.


" sini putriku duduk di sebelah ibu " tepuk Ibu pada sofa di sampingnya.


Luna langsung duduk di sebelah ibunya setelah mengganggu ia.


" putriku apa kamu marah dengan ayah mu? " tanya ibunya khawatir saat tadi Luna meninggalkan mereka begitu saja.


" tidak Bu. Luna tidak marah. Luna hanya lagi capek saja Jadi terlihat Kurang semangat kayak marah gitu. Tapi sekarang sudah lebih baik kok Bu" kata Luna kepada ibunya.


" alhamdulillah bagus kalau begitu. Ibu jadi senang mendengarnya. Ibu tidak mau kamu marah karena semua tindakan Ayah kamu itu. tindakan ayahmu semata-mata hanya demi kebaikan kamu bukan yang lainnya "


" Iya Bu Luna mengerti. Luna tahu semua yang dilakukan ayah demi kebaikan Luna sendiri "

__ADS_1


" Ya sudah sekarang kamu makan dulu sana. pasti kamu belum makan kan? " tebak ibunya menaikkan alis.


" Iya Bu. Luna dari tadi belum makan " senyum Luna menunjukkan sederetan gigi putihnya.


Luna makan dengan lahapnya. otaknya boleh pusing tapi jangan sampai nafsu makannya berkurang dengan adanya masalah ini.


berbeda dengan Dion yang lebih memilih mengurung diri di kamarnya. dia merasa dunianya benar-benar hancur sekarang.


" Dion ayo makan. sejak tadi kamu belum makan apa-apa" acak Mama mengetuk pintu kamar Dion.


namun panggilannya tidak ada sambutan dari dalam. melihat dari celah pintu terlihat jelas Dion tertunduk lemas di bawah lantai dengan kepala menyandar pada ujung tepi kasur ranjang.


melihat hal tersebut Mami Sheila langsung menerobos masuk.


" Bang ayo kita makan. kasihan Papi sudah menunggu dari tadi " Ajak ulang Mami Sheila memandang wajah lesu putranya itu.


" Mami yakin kamu bisa melewati ini semua. kamu anak mami yang kuat. kamu tidak boleh menyerah " Mami menyemangati Dion sambil tersenyum memberi kekuatan.


mendapat serangan mendadak dari Dion Mami tidak bisa berkata apa-apa lagi. saking terbawa perasaan mendengar pilu tangisan Dion sampai ke dalam lubuk hati.


tak pernah sekali dirinya mendengar atau melihat Dion terpuruk berat seperti ini. sosok Luna begitu berarti hingga bisa mengubah sesuatu yang tidak pernah terjadi menjadi.


" kamu berhasil masuk di kehidupan Dian Luna. Lihatlah sekarang Dian begitu menyesali semua perbuatannya. mami harap hubungan kalian bisa diperbaiki. Mami tidak tega melihat dia seperti ini " batin Mami sedih berharap sama bisa segera membaik seperti semula.


menunggu lama kedatangan istrinya memanggil Dion belum kembali akhirnya Papi memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di kamar Dion.


melihat sesuatu yang langka dilihat Papi Roni berjalan lebih dekat dengan perasaan bercampur aduk. entah bahagia karena akhirnya anaknya sadar atau sedih melihat terpuruknya Dion saat ini.


" Aduh kenapa Putra keluarga Adi Jaya cengeng seperti ini. mana Dion yang Papa kenal kuat dan pemberani itu " ejek papi Roni


" Pi " Panggil Dion dengan suara lesu tak bersemangat.

__ADS_1


" Ada apa jagoan Papi. Kenapa menjadi seperti perempuan yang habis melahirkan. kamu sangat cengeng sekali " ejek Papi Roni lagi.


" aku mohon bicara sama Luna. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki baiki semua kesalahanku " lirik Dion berharap orang tuanya dapat membantu berbicara dan membujuk Luna untuk dirinya.


dengan permintaan Dion kedua orang tuanya saling berpandangan


" Bang tapi juga ingin membantu kamu. bahkan mami kamu juga sama seperti Papi tapi kamu tidak bisa melakukan apapun itu. sebelum kamu meminta kami sudah berbicara dengan Luna. tapi Luna tetap kuat sama pendiriannya itu. sekarang giliran kamu membuktikan kepada Luna Jika kamu sudah berubah. Bukan seperti Dion yang dulu lagi" jelas panjang lebar menatap lekat Dion.


" tapi Pi apa Luna bisa memaafkan Dion? " tanya nya ragu Apakah bisa dia mendapatkan Maaf Dari Luna.


" Jika kamu belum mencoba Bagaimana kamu tahu Luna bisa memaafkan kamu atau tidak " balas tapi meyakinkan Dion Apa salahnya mencoba sesuatu yang baik.


karena keadaan Apa yang dipikirkan tidak pernah selalu terjadi dengan apa yang kita alami. seperti mimpi belum tentu terjadi di dalam dunia nyata.


mendapat support dari kedua orang tuanya Dian menjadi semangat dan langsung menghapus cepat tetesan ini air matanya yang sempat menetes di pipinya.


ion akan berusaha memperbaiki semuanya yang dibuat hancur oleh dirinya meski harapannya itu sangatlah kecil Apa salahnya mencoba untuk itu.


" Nah ini baru anak Papi. Dion Adijaya yang kuat dan pemberani. Tidak tidak jangan seperti anak kecil yang minta jajan tapi tidak dikasih" ejek Papi Roni mengingat wajah lucu terburuknya diam saat ini.


" Sudah Pi jangan mengejekku lagi. Aku tidak ingin membalas semua ejekan Papi saat ini" kata Dion males berdebat dengan Papinya.


" Siapa yang meminta kamu membalas semua ejekan Papi "


" sudah sekarang waktunya untuk makan jangan sibuk seperti ini atau kita tidak akan makan sama sekali " ancam Mami menakuti keduanya.


ini mereka bertiga menikmati makan yang dihidangkan para pelayan itu.


melihat kembalinya Dion tidak seperti tadi Mami Sheila bersyukur Dion bisa bangkit lagi.


" Alhamdulillah anakku sudah kembali ceria lagi. Ya Allah berikan kebahagiaan untuk putra satu-satu ku. jangan kau beri ujian rumah tangganya lagi " batin Mami memandang lahapnya dia menyantap makanan.

__ADS_1


__ADS_2