
Setau dion luna hanya seorang perempuan lulusan SMA tidak lebih. Bahkan dia pun tidak pernah kuliah. Kenapa dia bisa bekerja di sebuah perusahaan dan sekarang atasan nya seorang CEO menghubungi nya.
"apa Luna ada main dengan Atasan nya itu.sehingga dia bisa bekerja di kantoran" pikir Dion.
saat ini ponsel Luna berada di tangan Dion.tidak ada niatan Dion untuk menyentuh tombol hijau pada layar ponsel yang menghiasi Benda tipis dan pipi milik Luna.
Dion seakan tuli dengan nada dering milik Luna. dia hanya tidak habis pikir dengan alunan nada dering Luna yang lebih seperti anak ABG yang lagi jatuh cinta. seperti zaman sekarang lagu nada dering apa saja akan diganti bahkan setiap hari sesuai perubahan suasana hati seseorang bagus atau jelek.
CEKREK.........KRIEK......
dengar bunyi kamar mandi terbuka.Luna keluar dengan pakaian lengkap nya. yang sudah dia bawa bersama saat masuk ke dalam kamar mandi tadi.
Luna mendengar nada dering ponsel nya berbunyi dan sudah berada di tangan Dion. Luna menjadi kaget ponsel nya sudah berada di genggaman Dion. bagaimana bisa ponsel nya berada di tangan Dion. seingat Luna tadi ponsel nya berada di dalam tas kerja nya. Kenapa mendadak berpindah posisi di tangan Dion hal ini menjadi pertanyaan di benak Luna.
"Kenapa ponsel ku berarti di tangan mu ? " tanya Luna kepada Dion yang penasaran.
"ponsel mu mengganggu konsentrasi ku.maka dari itu aku mengambil ponsel mu dari tas mu. siapa Pak CEO yang kamu maksud di layar ponselmu " tunjuk Dion menampilkan tampilan layar ponsel ke wajah Luna.
"dia atasan ku. Apa kamu tidak bisa membaca nama yang tertera di layar ponsel ku " jawab Luna menggatai Dion Dia segera mengambil dan merampas ponsel nya namun dia tidak memberikan begitu saja.
"berikan ponsel ku jangan menghalangi ku Apa kamu tidak memiliki pekerjaan selain mengurusi kehidupan ku? " maki Luna kesal kepada Dion selalu mencari masalah dengan diri nya.
__ADS_1
"aku memiliki banyak sekali pekerjaan. Bahkan aku memiliki apa yang tidak kamu miliki saat ini " sombong Dion kepada Luna.
"ya kamu memang benar. aku tidak memiliki apa-apa banyak seperti yang kamu miliki. tapi satu yang tidak kamu miliki dari apa yang aku miliki " kata Luna Memutar Balik perkataan Dion.
" Maksud kamu apa?perempuan murahan seperti diri mu apa yang tidak aku miliki Dan yang kamu punya. bahkan membeli diri mu saja aku bisa. diri mu mau aku kasih uang berapa untuk tubuh murahan kamu? " hina Dion seakan Luna perempuan murahan yang selalu menjual diri nya ke banyak laki-laki hidung belang di luaran sana.
Lagi Dan Lagi hati Luna kembali teriris sakit seperti terkena pisau yang disayat-sayat. kecil benda tersebut berirama Sakitnya bukan main.
Mulut Dion tidak pernah lupa dalam menyakiti perasaan Luna. bagai kehidupan yang tidak lengkap tanpa menyakiti hati dan perasaan Luna.
mulut nya enggan membuka suara. rasa nya sakit mendengar perkataan Dion mengatai hal yang tidak pernah Luna lakukan bahkan tidak pernah sedikit pun dibenak Luna. namun dengan mudah nya mulut Dion berkata seperti itu. seperti sudah melihat semua sendiri hal yang dilakukan secara terang terangan dan jelas.
"kenapa kamu diam. Apa betul semua yang aku katakan barusan? " tanya dion mau memastikan dengan diam nya Luna sudah menjawab semua pertanyaan di benak nya.
Dion melihat Luna tidak menjawab sama sekali. melain kan Luna hanya menangis sehingga membuat Dion binggung sendiri.
"Kenapa kamu menangis? " tanya Dion kepada Luna.
Luna tidak menjawab Dion.dia maju mendekati Dion dan langsung merebut paksa ponselnya dari tangan Dion dan berlari keluar dari kamar.
"dasar perempuan murahan gak ada sopan santu nya" teriak dion kesal kepada Luna seperti seorang pencuri mengambil ponsel dari genggaman tangan nya.
__ADS_1
"perempuan itu seperti pencuri saja. Apa dia masuk ke kehidupan ku berniat untuk mencuri harta ku juga? " gumam Dion memandang kepergian luna semakin menjauh dari pandangan nya.
"tapi apa tadi aku nggak berlebihan berkata kasar sama dirinya itu? bagaimana juga Dia perempuan dan istriku. kepekaan dia pasti ada " ucap Dion lagi.
dia bingung dengan perasaannya sendiri.di satu sisi Dia kasihan kepada luna tapi di sisi lain dia merasa ini tidak sebanding dengan semua yang di lakukan oleh Luna kepada diri nya dan juga kepada Intan.
Luna berlari ke taman belakang dengan tetesan air mata yang masih bercucuran di matanya. dia tidak habis pikir apa begitu rendahnya dirinya sampai dibilang wanita murahan.
kata yang paling menyakitkan tidak sanggup untuk dia dengar dari mulut orang adalah sebutan perempuan murahan. kata perempuan murahan bagi Luna adalah sebuah kata paling menyakitkan dari apapun juga. karena dirinya tidak melakukan apa yang telah dituduhkan oleh orang yang menuduhnya.
" hiksss.....hiksss......hiksss.......
" Apakah aku begitu rendahnya sampai dia mengatakan aku ini perempuan murahan. apa Dia melihatku menjual diri pada laki-laki lain dan mengobral tubuhku kepada laki-laki mata buaya. Kenapa begitu kejam mulutnya seperti bom yang bisa menghancurkan banyak orang dengan mulutnya Yang Kejam itu " ucap Luna.Yang masih setia menangis terisak dan sampai matanya sedikit bengkak.
pembantunya tidak sengaja melihat Luna menangis sampai tersisa di taman belakang dengan omongannya yang berkeluh kesah masalah yang sedang dia hadapi kini.
Pembantu tersebut merasa kasihan kepada majikannya itu. Sungguh malang nasib Nyonya mudanya selalu disiksa oleh Tuan Dion. dengan kelakuan dan perkataan kasar yang dilakukan kepada nyonya. mereka berpikir kehidupan Nyonya Luna dan diuji oleh sang Maha Pencipta.
"kasihan Nyonya Luna selalu disiksa oleh Tuan Dion.padahal Nyonya Luna orangnya sangat baik dan ramah. dia selalu menuruti dan tidak pernah membantah ucapan Tuan Dion. tapi kenapa selalu dikasari oleh Tuan Dion tampa ampun. Seandainya aku di posisi Nyonya muda Aku tidak akan sanggup untuk bertahan di posisi ini sekarang. aku akan memilih mundur daripada untuk bertahan. jika ujung-ujungnya nanti akan terluka lebih dalam lagi " kata pembantu tersebut kepada teman pembantu yang lain nya.
di kamar Papi Roni dan Mami Sheila keduanya Sedang membahas cucu yang akan mereka Timang dari anak dan menantunya.
__ADS_1
"Pih Mami sudah tidak sabar untuk menimang cucu" ucap Mami Sheila kepada suaminya dengan penuh semangat.
"Papi juga mi.tapi kapan kira-kira kita akan mendengar kabar bahagia dari Dion dan Luna? " tanya Papi Roni kepada sang istri yang sama-sama antusias menantikan seorang cucu.