Bukan Istri Penganti

Bukan Istri Penganti
rasa bersalah Dion


__ADS_3

"Tidaklah mungkin. wanita murahan itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membalas semua perbuatanku " guman Dion lagi-lagi itu dapat didengar oleh pembantunya.


Tidak ingin membuang-buang waktu dia langsung bangun dari duduk nya untuk menyusul Luna yang berada di dalam kamar.


"Jika kamu sangat membenci Ku, Kenapa kamu menyentuh diriku. Bukannya itu sangatlah memalukan. ucapan mu tidaklah sesuai dengan perbuatanmu dan perkataanmu " ucap luna sambil menangis di dalam kamarnya.


Luna masih saja menangis hingga dia tertidur dengan pulas nya. terlihat raut wajah nya yang sangat sembam akibat banyak nya dia menangis dan meratapi nasib nya terlalu lama.


tempat tidur nya yang masih dalam posisi.semula yang sangat berantakan sekali akibat permainan panas ranjangnya. di atas tempat tidur nya penuh bercak darah keperawanan miliknya yang dibobol oleh Dion dengan paksa dan kasar.


Luna lelah terus menangis Tanpa dia sadari tidur dengan pulasnya dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


dia pun tertidur tanpa menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos itu. kakinya terlentang dan rambutnya sangat acak-acakan.


Dion mengetuk pintu kamar Luna berulang kali namun tidak mendapatkan jawaban dari dalam. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam. karena pintunya tidak terkunci. Dion penasaran Apa yang dilakukan Luna di dalam sehingga dia tidak turun untuk makan malam.


Betapa terkejutnya melihat Luna yang sudah tertidur. Sudah dari tadi dia menunggu Luna dengan sangat lama. ternyata orang yang ditunggu-tunggu lagi enak-enakan tidur.


" dia sangka aku ini pembantu atau Satpam nya yang harus menunggu dia terus apa? " gumam Dion lirih.


Dion sangat kesal kepada Luna. jika tahu dia sedang tidur mending tidak usah ditunggu. Dia berjalan mendekati Luna. dia mendekat lebih dekat dan terlihat sangat jelas matanya yang sembam dan bengkak akibat terlalu banyak menangis. Sudah berapa lama Luna menangis Dion pun tak tahu.


" Sudah berapa lama dia menangis? Kenapa dia seperti ini? apa dia sangat terluka atau dia hanya sandiwara saja hanya untuk mendapatkan Simpatiku saja" ucap Dion lirih sambil menatap Luna yang sedang terlelap tidur.


ada perasaan Dion yang tidak tega melihat Luna seperti itu.tetap saja Dion masih gengsi dengan dirinya sendiri.


" tidak.... itu tidak boleh terjadi. aku harus tega dengan dia. aku tidak boleh lemah hanya karena aku melihat dia menangis. bisa jadi semua ini adalah rencananya" Banta Dion pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sebelum dion kembali ke kamar nya. Dia menutupi tubuh Luna dengan selimut agar dia tidak kedinginan.


di kamarnya Dion masih saja kepikiran dengan keadaan Luna. pikirannya seakan terus ragu dengan apa yang dilihatnya tadi.apa benar yg di lihat nya tadi itu nyata atau hanya sandiwara dari Luna Semata.


dia tidak ingin lebih banyak berandai-andai. Dion mulai memejamkan matanya. meski pirannya tetap sama. memikirkan yang dilihatnya tadi.


tetapi Dion tidak bisa memejamkan matanya dan dia bangun menuju balkon depan kamarnya. dia duduk di kursi yang ada di balkon itu dan melihat pemandangan malam yang indah. yang bertaburan Bintang dan sedikit awan putih.


"huft.... Ada apa dengan diriku ini " bingung Dion frustasi mengacak-acak rambutnya.


" Apakah benar dirinya terpuruk atau hanya sandiwaranya saja. Kenapa susah sekali membedakan antara nyata atau hanya berpura-pura. jika sudah terbiasa dengan dunia kebohongan"


terus mengomel pikiran Dion kembali teringat kejadian tadi. dia merenggut kehormatan luna secara paksa dan kasar.


" jadi perempuan itu masih perawan. Jadi aku orang yang pertama menyentuh dirinya. kenapa aku sangat menyukai hal itu. jadi pikiranku selama ini semuanya salah " gumam dion sambil melihat indahnya bintang yang kelap-kelip di langit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


pagi hari yang sangat cerah. secara sinar sang mentari. tetapi tidak dengan suasana hati Luna. dia masih saja terpuruk. dia merasa jijik dengan tubuhnya saat ini. dia bangun dan membersihkan tubuhnya dari pergulatan kemarin. dia pun mengenakan pakaian kerjanya untuk berangkat kerja sekarang. dia tidak mau melihat wajah lelaki yang sudah mengambil kehormatannya yang sangat dia jaga.


dia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. dia berpamitan kepada pembantunya tanpa menyentuh makanan yang sudah disajikan.


"bi....saya mau berangkat dulu. Assalamualaikum " Salam Luna kepada pembantunya.


" Waalaikumsalam nyonya" sahut pembantunya memandang kepergian istri majikannya sangat lesuh.


terlihat jelas mata Luna yang sedikit sembam dan bengkak. pembantunya yang melihat itu semua yakin ini pasti perbuatan dari Tuan Dion.

__ADS_1


Bagaimana tidak. selama menikah hanya Dion yang selalu menyakiti Luna tanpa belas kasihan.


" nyonya yang sabar ya. Nyonya pasti bisa menghadapi ini semuanya. meski harus melewati lika-liku dan batu yang sangat terjal di pernikahan. karena nyonya adalah perempuan yang sangat kuat dan pemberani. mungkin kalau Bibi yang menjadi nyonya pasti sudah menyerah dari awal dengan perlakuan Tuan Dion " gumam pembantunya. dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


1 jam kemudian Dion turun dari dalam kamarnya. sebelum ke kantor dia sudah terbiasa sarapan pagi. meski hanya susu coklat dan roti coklat.


" Bi dimana Luna? " tanya Dion yang belum melihat Luna sejak dari tadi.


" nyonya Luna sudah pergi sejak tadi pagi tuan " sahut pembantu tersebut.dia Kembali menunduk setelah menjawab.


" pergi Sejak pagi ? " kaget Dion. Dia sangat kesal. bisa bisanya Luna pergi keluar tanpa berpamitan kepada dia terlebih dahulu. bagai mana pun dia sekarang adalah suaminya.


" apa Luna ada titip pesan atau apa gitu dan Apa dia sudah makan? " tanya Dion kepada pembantunya. Bagaimana bisa dia sekarang lebih perhatian pada Luna.


" tidak ada sama sekali tuan. Nyonya Luna langsung pergi tanpa makan " jawab pembantunya lagi.


"dasar perempuan gila. bisa-bisanya dia pergi tanpa makan. Awas aja kalau dia merepotkan diriku. aku akan tambah memberimu sebuah pelajaran " gumam Dion yang masih bisa didengar oleh pembantunya.


" ya Sudah Bibi bisa melanjutkan kerjanya lagi " perintah Dion. lalu menyantap sarapan pagi sebelum dia berangkat kerja.


Luna Baru saja sampai di kantornya. dia baru saja tiba dengan menggunakan angkot yang biasa dia tumpangi. apalagi kalau bukan angkutan umum.


Luna tidak malu menggunakan angkutan umum untuk pergi ke tempat kerjanya yang super duper sangat mewah. mungkin semua karyawan yang kerja di sini adalah keluarga yang berada. semua tidak seperti dirinya. bahkan setelah menikah orang tuanya tidak ingin menghubungi dia lagi untuk menanyakan kabar atau hal-hal yang lainnya.


Luna sadar kalau dia tidak bisa berharap apapun yang lebih. karena hanya anak angkat bukan anak kandung mereka. meskipun dia sudah dibesarkan dan dirawat tidak akan merubah apapun dalam kehidupannya. mereka tidaklah menyayangi Luna.


mereka hanya membutuhkan Luna hanya untuk membantu ekonomi keluarga mereka. Luna hanya bisa menuruti semuanya. bagaimanapun mereka sudah berjasa telah membesarkan dan merawatnya. meski tidak ada kasih sayang untuk Luna. hal itu tidak membuat Luna merasa bersedih dan terpuruk. dia menjalani semua kehidupannya dengan rasa syukur dan bahagia meski tidak ada kebahagiaan untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2