Bukan Istri Penganti

Bukan Istri Penganti
kecemasan Dion


__ADS_3

betapa keras kepala Amar terus menentang membuat Luna pusing. Hal apa yang harus dia katakan untuk membuat kedua Kakaknya mengangguk ia dengan ucapannya.


Arya tidak berkata apapun. dia sama seperti Amar yang menentang kelas tidak setuju Luna memberi kesempatan kedua untuk Dion.


" Ya sudah kalau kakak tidak setuju. Luna akan berbicara sama ayah dan ibu "


" katakan saja sekarang. mereka juga bakal sependapat dengan kami " tantang Amar menatap mengejek Luna yang kesal.


Luna tidak lagi berkata. dia memilih diam berjalan menuju kursi kerjanya. dan dia mengalikan pandangannya pada dokumen-dokumen di depannya.


jika terus berdebat meminta izin pasti akan tetap sama pasti jawabannya tidak.


" Luna Kakak lakukan ini karena Kakak sayang sama kamu. kakak tidak mau Dion menyakiti kamu lagi "


Luna Diam tidak menggubris ucapan Amar. Arya yang hanya menyimak saja tadi akhirnya membuka suaranya.


" Luna jangan terlalu ngeforsir sama kerjaan. Ingat besok kita akan segera berangkat ke Paris. kakak tidak ingin kamu sakit " pandangnya melihat Luna mengotak-atik komputer dengan beberapa kali berbolak-balik mencari file yang diperlukan.


Arya dan Amar bangun meninggalkan ruangan Luna.


setelah melihat kepergian kedua Kakaknya luna segera menghentikan aktivitasnya dengan merentangkan tangannya dengan lebar.


" haduh.... apa yang harus aku perbuat jika semua seperti ini " gumam Luna bingung pada semua yang dibantah keras kedua Kakaknya itu.


kedua mata kini menatap atap dengan menyandar luas pada kursi empuknya. mengingat perkataan Amar jika ayah dan ibunya akan sependapat membuat Luna bimbang dan cemas akan keputusannya. Takut dengan pikirannya yang benar.


jika semua dugaannya benar tidak akan ada kesempatan kedua lagi bagi Dion. tanpa terasa waktu terus bergulir berjalan maju. kini menunjukkan pukul 04.00 sore waktu pulang kerja.


sebelum pulang Luna menghampiri Alfi sahabatnya untuk pamit dan mungkin akan lama tidak bertemu dengan dirinya.

__ADS_1


" Hai Vi " siapa Luna memasuki ruang kerjanya.


" Hai juga Tumben jam pulang kerja Bukannya pulang malahan mampir ke sini duluan. apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan. tidak mungkin kebetulan kamu datang ke sini " tebakan sih mengenal sifat sahabatnya itu.


" kamu tahu saja kalau ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu. ini juga bakal jadi pertemuan terakhir kita " kata Luna mendadak berubah menjadi sedih. mengingat besok akan segera terbang dan tidak akan bertemu sahabat baiknya lagi.


" kok kamu ngomong gitu sih. kayak mau pergi jauh saja kamu "


" Maaf aku baru kasih tahu kamu sekarang. Besok aku akan terbang ke Paris untuk melanjutkan pendidikanku di sana "


" Apa kamu bilang. Kenapa harus di Paris? " kaget Alvin melototkan matanya kepada Luna.


" Ceritanya panjang sekali Fi. Aku akan menceritakannya semua jika waktunya luang. aku ke sini hanya ingin berpamitan sama kamu saja " kata Luna masih belum memberitahu siapa dirinya sebenarnya. Luna berpikir akan memberitahu saat waktu sudah tepat dan sekarang waktunya belum tepat saja.


Alfi yang tak bisa berkata mendengar perkataan Luna langsung menghambur ke pelukan Luna.


...****************...


di sisi lain dion yang menunggu pesan balasan dari Luna gelisah tidak jelas. dia bolak-balik kanan kiri oke. rendy yang setia menemani Dion di ruangan kerjanya juga ikut pusing melihat mondar-mandirnya. Dion tidak jelas setiap hitungan detik selalu menatap ponselnya.


" Aduh Bos Bisakah sedikit saja tidak bolak-balik. mata aku sakit banget ingin keluar dari tempat saking pusingnya lihat kamu mondar-mandir kayak cacing kepanasan gitu. Asal kamu tahu, kamu itu ibarat seperti ikan yang belum diberi makan. akan selalu mondar-mandir. tapi jika sudah diberi makan pasti akan langsung tenang bahkan bisa bahagia.


" mending kamu diam saja kalau nggak mau gaji kamu aku potong " ancam Dian kesel diibaratkan sama seperti ikan.


" selalu saja Ini lagi. seperti di dunia ini hanya ada satu kalimat itu saja atau mungkin dia saja yang tidak tahu kalimat yang lainnya " gerutu Rendy asal. tanpa dia sadar ucapannya masih bisa didengar oleh Dion.


telah tiba Luna langsung menuju kamarnya. dia membersihkan diri. hari ini terasa penuh dan lelah dengan semuanya terjadi tanpa dia pikirkan.


Luna senyum tak jelas sendirian. mengingat semua saat di cafe senyuman Terukir di bibir Luna tak pernah hilang.

__ADS_1


" kenapa aku seperti ini. Ayo Luna pikir sesuatu agar ayah dan ibu setuju dengan keputusan kamu itu " ucap Luna mengingatkan dirinya sendiri.


pikirannya terus mencari akal. kakinya pun tak tenang mondar-mandir seperti kaki yang berusaha mencari akal bukan otaknya yang bekerja.


susah untuk diam hati Luna tak bisa. besok adalah hari keberangkatannya Bagaimana jika semuanya belum dibicarakan dengan kedua orang tuanya. Luna yang berniat ingin membersihkan diri jadi merupakan niat awalnya itu. saking mepetnya dia memburu waktu Luna merupakan ponsel saat mengirim sebuah pesan pada Dion. dia belum kembali mengecek ponsel apa Dion sudah membalas pesan atau belum.


" Aduh kenapa aku bisa lupa sih. di mana ponsel ke aku sekarang " Luna mencari dan menggeledah setiap tempat. dia tidak juga menemukan ponselnya itu.


" kenapa aku bisa lupa menaruh ponselku. kalau udah begini aku sendiri yang pusing " marahnya apa tadinya sendiri meski terus mengoceh tangan dan matanya terus bekerja mencari keberadaan di mana ponselnya.


Luna mengambil ponsel yang entah Sejak kapan berada di meja rias. mungkin bosannya memiliki kaki hingga besar sampai di sini pikir Luna.


betapa kakek Ternyata banyak balasan dari Dion setelah tadi dia mengirim pesan.


" Astaga banyak sekali balasan dari Dion " kata Luna melihat 15 pesan masuk dari Dion yang belum sempat dia baca dan juga balas pastinya.


tempat pikir panjang Luna langsung menekan kontak Dion untuk menghubungi dirinya.


salam luna saat sambungan sudah terhubung.


" Waalaikumsalam. kenapa baru menghubungi aku? Tahukah kamu sejak tadi menunggu balasan dari kamu " salam dan neracation seperti emak-emak kosan yang menagih uang bulanan kepada anak kosnya.


" Kenapa kamu bicara apa seperti ini Dion? Aku tadi tidak pegang ponsel jadi tidak lihat balasan dari kamu. Bahkan aku baru ingat saat tiba di rumah "


" Kenapa kamu baru tiba jam segini? "


" aku tadi ada urusan sedikit. makanya sedikit terlambat pulang "


Luna bingung kenapa mendadak Dian seperti ini. biasanya juga males tahu dan selalu menunjukkan sifat angkuh dan arogannya. kenapa sekarang seolah-olah menjadi pria yang sangat perhatian. meski sudah memberi kesempatan Luna belum sepenuhnya melupakan video yang masih berputar di otaknya itu. Luna tidak lanjut bertanya tadi karena dia berpikir akan menanyai hal ini setelah meminta Restu orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2