
Dion menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. sambil dia melihat langit-langit atap kamar yang berada di ruangan kerjanya. ruangan tersebut tidak ada yang tahu selain Rendy dan Intan kekasih hatinya itu.
sampai saat ini Dion masih belum mendapatkan kabar dari orang-orang suruhannya. tentang Di mana keberadaan Intan sekarang ini. hal itu menambah kepalanya semakin pusing saja.
" kamu berada di mana sayang. ke mana lagi aku harus mencari dirimu. sudah hampir satu bulan tidak ada yang bisa menemukan dirimu. Aku berharap Dimanapun kau berada selalu dilindungi yang maha kuasa dan diberi kesehatan jasmani dan rohani " gumam Dion.
di sisi lain Rendy asistennya Dion terus mengumpat. dia kesal dengan atasannya sekaligus sahabatnya itu. dia tidak pernah bersikap profesional dalam mengatasi masalah kerjaannya.
ya selalu melemparkan semuanya kepada asistennya. dengan sesuka hatinya sesuai dengan suasana hati nya.Hal itu membuat Rendy selalu kena imbasnya jika suasana hati Dion sedang kacau dan hancur.
" Kenapa Aku harus punya atasan seperti Dion. kalau untuk sahabat aku sih masih bisa baik-baik saja nggak ada masalah " garutu Rendy kesal. dia harus bolak-balik menemui klien di tempat yang berbeda-beda dan juga sangat singkat waktunya.
sudah satu jam lebih dion berada di dalam mimpi yang indah. ponsel Dion terus berdering dan berbunyi. Bagaimana jika itu hal yang sangat penting
Rendy mendekati meja kerja Dion dan melihat nama yang menelpon. yang terus saja menghubungi Dion itu.
" ya Allah... ternyata mama Sheila yang menelpon. Ke mana perginya Dion? Kenapa membiarkan ponselnya berdering begitu saja " ucap Rendy. dia mengambil ponsel Dion lalu mengangkat teleponnya itu.
sebelum sempat rendi mengucap salam Mama Sheila sudah lebih dahulu mengomel tak karu-karuan. dan suaranya sangat keras dan lantang.
" dasar kamu anak yang durhaka. Mama telepon berulang kali tidak ada jawaban dan tidak diangkat. Ke mana saja kamu itu. Apa kamu sudah bosan untuk
hidup? " maki Mama Sheila yang berada di seberang telepon.
" pantas saja Dion kayak begini. Mama Shelah saja seperti petasan rombeng. di sana saja ngomong nggak ada henti-hentinya dan tidak pakai salam lagi. jadi gini nih asal semprot orang tanpa tahu siapa di ujung telepon saat ini " umpat Rendi dalam hatinya yang sangat kesal kepada Mama Sheila. tidak tahu yang diajak mengobrol itu adalah asisten anaknya.
sungguh tragis nasib Dion. ternyata benar juga kata pepatah itu. buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. sikap dan perilaku yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Maman Sheila mulutnya kayak petasan rombeng sedangkan Papa rony seperti macan tutul yang mau memangsa" gumam Rendy lagi.
__ADS_1
Rendy berpikir apa tidak ada seorang anak tidak mengambil gen orang tuanya. Kenapa selalu saja ada sifat yang melekat pada diri orang tuanya dan diturunkan ke anaknya.
" Dion apa kamu mendengarkan ucapan mama? kenapa kamu diam saja dari tadi? apa mulut kamu tak berfungsi lagi untuk bicara? " maki Mama Sheila yang sangat sadis kepada Rendy.
sampai saat ini Mami Sheila belum tahu siapa yang berada di seberang sana yang mengangkat telepon dirinya itu.
Rendy berusaha untuk ngomong tapi selalu dicela oleh Mama Sheila. dia lebih dahulu memotong pembicaraan tanpa membiarkan Rendy untuk ngomong dan mengucapkan sepatah kata untuk memberitahu Mama Sheila.
sekali lagi Rendi menarik nafas kesal. begini kalau sudah bertemu dengan emak-emak rempong. mereka tidak pernah mau ngalah dan membiarkan seseorang untuk bicara. Meski diriku ngomong satu atau dua kata sekalipun tidak akan bisa.
" Untung saja Ini Mama Sheila yang bicara. kalau bukan mama Sheila sudah Ku lempar ke lautan nih orang " gumam Rendy menghelah nafas panjang. dia mengelus dada untuk memperbanyak sabar menghadapi Mama Sheila.
" Hai anak durhaka Apa kau masih di sana? Kau kenapa tidak menjawab mama? " ucap Mama sheila lagi kepada Dion.
" Hallo Tante ini saya Rendy. Dion lagi istirahat di ruangan pribadinya. ponselnya diletakkan di atas meja kerjanya.aJadi tidak kedengaran tante" jelas Rendy kepada Mama Sheila.
"ehh....ehhh apa yang kamu bilang tadi? Dion lagi istirahat ? tanya nya lagi. Mama Sheila mendengar perkataan yang diucapkan Rendy. dia baru sadar sekarang.
" benar Tan Dion lagi istirahat" jawab Rendy singkat.
" Sejak kapan dia mulai istirahat " selidik Mama Sheila curiga. Dion membohongi dirinya tentang bertemu dengan klien.
" mungkin sudah satu jam setengah . Saya kurang tahu Tan. tadi saya menggantikan dia untuk bertemu klien"
jelas rendy tak tau Apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan mereka.
" Emangnya bener-bener anak durhaka ini. berani sekali dia membohongi diriku. Apa dia sudah bosan berbicara dengan ibunya. sampai dia harus berbohong" gumam Mama Sheila di seberang telepon. yang masih bisa didengar oleh Rendy.
__ADS_1
" Waduh gawat nih bisa kena masalah aku kalau Dion sampai tahu. Kalau aku bilang semuanya kepada Mama Sheila" batin Rendy. meratapi nasib yang akan terjadi jika mama Sheila ngomong sama Dion.
entah apa yang akan terjadi. sudah dapat rendy ditebak Dion akan sangat marah seperti orang gila. yang bisa dia lakukan sekarang adalah menyiapkan mental lahir dan batin.
" bangunin Dion sekarang juga. nggak pakai alasan apapun" perintah Mama Sheila dengan tegas.
...****************...
Luna sekarang berada di ruangan CEO nya.setelah mengirim file nya dia langsung di pangil ke ruangan CEO untuk menumui atasan nya itu.
"Siang pak.ada apa memangil saya" ucap luna.
"siang juga.silakan kamu duduk" sahut atasan Luna. menyuruh Luna untuk duduk.
" iya pak terima kasih " jawab luna.
" saya akan langsung pada intinya saja.tujuan saya memangil kamu untuk datang kesih "
atasan Luna yang bernama Amar Ardiansyah Edison biasa di panggil amar.dia anak pemilik perusahaan Alfa Edison.
Nama perusahaan di ambil dari nama keluarga besar Edison yang memiki makna yang besar.
" dilihat dari kinerja kerja kamu yang barusan tepat waktu mengirim dokumen tanpa ada kesalahan sedikitpun. saya sudah memutuskan kamu yang akan menangani klien yang akan mengajukan kerjasama ke perusahaan kita" ucap Amar kepada Luna.
Luna tidak pernah menyangka akan mendengar semua itu. betapa cepatnya atasannya memberikan kepercayaan yang begitu sangat besar kepada dirinya.
Luna baru bekerja 3 hari di perusahaan ini. Bagaimana bisa Pak Amar langsung percaya begitu saja tanpa melihat selanjutnya ke depan nya bagaimana.
__ADS_1
" Apa Bapak sudah yakin dengan keputusan bapak. saya baru tiga hari bekerja di sini. Bagaimana bisa memberikan kepercayaan yang begitu besar kepada saya" ragu luna menerima semua ini. diri nya sadar kalau dia belum pantas untuk menerima kepercayaan yang begitu besar.