
5 menit kemudian Luna mengendorkan pelukannya dan menatap Mami Sheila lalu menghapus sisa cairan penting di wajahnya.
"Mami jangan seperti ini. Luna pergi bukan untuk selamanya. Luna berjanji akan sering-sering mengunjungi Mami dan papi di sini. jaga kesehatan kalian Luna akan sangat merindukan kalian semua di sini " ucap Luna lalu jalan berpindah ke arah papinya.
"Pi.... jaga Mami jika terjadi sesuatu langsung hubungi Luna " lirik Luna tak dapat menahan air matanya. yang kini tanpa permisi telah terjatuh. ucapannya seakan membuat dirinya sendiri ikut terjatuh sedih.
papi Roni langsung memeluk Luna dan menenangkan dirinya mereka bersyukur bisa diberi kesempatan memilih menantu seperti Luna.
"jangan pernah lupakan papi dan mami. bagaimana juga kamu anak kami " ucapnya menghapus air mata Luna lalu berpindah mengelus ujung rambutnya.
setelah berpamitan Luna mengambil kopernya namun ditahan oleh Dion.
"aku mohon Luna jangan pergi. beri aku satu kesempatan lagi " cegah Dion memohon.
Luna menepis kuat genggaman tangan Dion yang berpegangan pada koper miliknya lalu berjalan tanpa memperdulikan Dion yang tidak menyerah memohon.
"Luna aku mohon jangan pergi " kejar Dion mengikuti langkah Luna. dia langsung dicegah oleh orang tuanya.
"sudah Dion biarkan Luna bahagia dengan keputusannya. bukannya selama ini kamu mengetahui betapa tersiksanya Luna bersama kamu. jika kamu benar ingin melihat Luna bahagia lepaskan dan ikhlaskan dia " nasehat orang tuanya menggenggam tangan putranya agar menyerah mencega Luna.
"tidak mi. Dion ingin memperbaiki semua ini. kenapa papi udah mami tidak mendukung Dion ikut memohon meminta satu kesempatan pada Luna? apa papi dan Mami senang melihat Dion terpuruk seperti ini? sebenarnya anak papi dan Mami itu siapa sih? Dion atau Luna? kenapa tidak mendukung Dion malah mendukung Luna untuk pergi dari kehidupan Dion " frustasi Dion menuduh sikap mendukung kedua orang tuanya kepada lunak untuk meninggalkan nya.
"sebelum menyalakan papi dan Mami ngaca dulu jika tidak ingin semua ini terjadi. kenapa tidak berpikir sebelum melakukan ini. dan sekarang semua telah menjadi bubur kenapa jadi papi dan Mami yang disalahkan dari ulah hasil kamu sendiri " bantal papi Roni lantang membungkam mulut Dion seketika. nyali Dion menciut tak berkata.
dia langsung lari meninggalkan mereka menuju kamarnya. tanpa berkata membalas perkataan yang benar adanya itu.
Dion membanting kelas pintu kamarnya dan mengunci rapat pintu tanpa ingin diganggu seorang pun.
Dion duduk tengkurap dengan menenggelamkan kepalanya masuk ke dalam. Dion menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
...****************...
Luna kini telah berada di dalam taksi. duduk termenung mana jalan yang dilewatinya Dengan pikiran tak berada di sana melainkan di tempat lain yang kini menjadi PR untuk lunas sendiri.
"apa benar kamu sudah sadar Dion. tapi kenapa terlambat. di mana selama ini di saat aku mencoba bersabar menunggu kamu kenapa baru sekarang saat aku mulai capek dan memilih mundur untuk bertahan. kenapa semua harus seperti ini? kenapa lagi Dan lagi jalan takdirku seperti ini " batin Luna sedih termenung mengingat wajah Dion saat memuat serius meminta kesempatan kedua.
Luna menjadi bingung dengan keputusan yang diambilnya. di satu sisi dia ingin memberi kesempatan tapi di satu sisi dia takut semuanya hanya alasan semata untuknya berbohong untuk mengulangi lagi.
tiba-tiba bangsa Luna berdering ada panggilan masuk.
panggilan tersebut dari kakaknya Amar menanyai keberadaan Luna karena rasa khawatir memikirkan adiknya yang baru ditemui sampai saat ini belum tiba di kediaman Edison.
setelah mematikan semua telepon Luna kembali dia memandang sekeliling jalan banyak kendaraan beroda dua bakal lebih berlalu lalang.
satu jam kemudian Luna tiba di kediaman Edison. rumah pak istana dengan motif interior tidak kalah keren dari kediaman adijaya yang ditinggali nya saat itu.
mendengar bunyi mesin mobil penghuni keluarga bisa langsung keluar menyambut tangan putri kesayangannya.
"akhirnya yang ditunggu datang juga. apa kamu tahu Luna sejak tadi ayah dan ibu gelisah bukan main seperti cacing kepanasan meminta jatah " kata Amar melirik kedua orang tuanya dengan ekor mata.
"maaf yah...bu Luna tadi ada urusan yang harus diurus terlebih dahulu jadi sedikit terlambat " kata Luna tidak enak membuat mereka menunggu lama.
"tapi sekarang bagaimana? apa urusan kamu sudah beres? " pandang Amar serius.
Luna bingung harus jawab apa pertanyaan Amar. karena untuk saat ini masalahnya ditolak mentah- mentah oleh Dion. bahkan surat tersebut dirobek-robek menjadi serpihan yang tidak bisa disatukan lagi. jika diurus lagi hasilnya juga akan sama.
hingga akhirnya Luna harus memilih jalan terbaik yaitu menunggu sampai semua membaik lebih tenang baru dia bergerak lagi.
"kenapa Luna? apa semua sudah beres? " tanya ulang Amar yang tidak mendapat balasan melainkan kebingungan dari wajah Luna.
__ADS_1
"lupakan saja kak. tuna baru tiba kenapa langsung menanyai ini? apa kakak nggak tahu Luna sangat capek bahkan lapar. bukan dijamu dengan makanan ini terbalik dijamu dengan tumpukan pertanyaan "cemberut Luna sengaja mengalihkan topik pembicaraannya.
untuk saat ini Luna tidak mau membahas atau mengingat tentang Dion.
"aduh ternyata Putri ibu ini lapar. kenapa nggak bilang dari tadi. biar kakak nggak bikin kamu tambah kelaparan" ujar Amar mengacak rambut Luna dengan gemas melihat wajah cemberut lucunya.
"ih kakak ini apaan sih. rambut Luna jadi berantakan ini. udah susah payah Luna atuh di rumah dengan seenaknya kakak berantakan saja " cemberut Luna memajukan bibirnya.
"aduh tuh bibir anaknya diapain tuh yah...bu ? " tanya Amar menggoda Luna.
"enaknya diapain ya? " pikir ayah sengaja ikut berpikir memangku tangan kirinya di dahi.
"ih ayah apaan sih. kenapa ikut-ikutan kak Amar. Bu lihat ayah " Luna mengadu manja.
"yah...... kak sudah berhenti menjahili Putri kita. apa kalian tidak melihat Luna tambah kelaparan terus dilihat kayak begini "
Luna berpikir ibu nya akan membelanya. ternyata pikirannya salah ibunya juga sama ikut-ikutan mereka meledek dirinya.
"ih kenapa ibu ikut-ikutan juga "cemberut Luna membalikkan bola matanya ngambek memandang mereka.
tawa ketika orang tersebut puas membuat hari pertama Luna masuk diterima dan menjadi cemberut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
di Paris seorang wanita cantik dengan beribu kepintarannya dan kelicikan dibenaknya saat ini sedang mengapa barang ke dalam koper. entah apa yang akan dilakukannya setelah ini. masih belum ada seorangpun yang mengetahui termasuk Rian. rencana yang dipikirkan intan saat ini menjadi pertanyaan dan teka-teki.
intan mengepak barang dengan bersiul riang. bernyanyi mengikuti alunan musik yang diputar melalui ponsel genggamnya.
wajah bahagia dengan seniman manis tidak hilang dari bibir saat ini seakan mendapat kontrak kerjasama yang sangat menguntungkan sampai ratusan miliar.
__ADS_1