Bukan Istri Penganti

Bukan Istri Penganti
keputusan ayah Alfa


__ADS_3

Luna diam tidak bertanya apa-apa atau yang lainnya. dia sudah pasrah jika harus dipaksa untuk melanjutkan pendidikannya di Jerman.


"putriku hari ini Arya akan datang. ayah harap kamu bisa ikut bersamanya untuk ke Jerman melanjutkan pendidikanmu kamu" jelas ayahnya menyampaikan maksud dan tujuannya.


Luna mengerutkan keningnya.


"Arya "wajah Luna memancarkan kebingungan siapa itu Arya.


melihat wajah bingung polos Luna ibunya mengambil alih jelaskan pada Putri satu-satunya itu.


"iya putriku Arya. Arya adalah kakak kamu. anak kedua kami setelah amal. Arya sekarang di Jerman mengurus perusahaan kita di sana hari ini akan balik untuk menjemput kamu.


Luna mengangguk mengerti kali ini tidak ada ucapan keluar dari bibirnya selain anggukan kepala supaya jawaban iya dan setuju.


lihat tidak ada bantahan Luna seperti semalam Amar menjadi khawatir. iya berpikir kalau Luna marah pada ayah dan ibunya.


"Bu kenapa bunda tak bukannya kita baru berjumpa Luna kenapa sekarang sudah memintanya untuk pergi " ucap amar.


yang dikatakan amar ada benar juga ayah dan ibu juga sama bikin seperti apa yang dikatakan amar. tapi semua sudah mereka putuskan agar burung tidak mengingat suami brengseknya itu.


hati mereka sakit harus mengambil pulsa sebesar ini. namun jika semua demi kebahagiaan Luna apa saja akan mereka lakukan.


"ini sudah menjadi keputusan ibu dan ayah. bagaimana Luna kamu tidak keberatan dengan semua ini kan? "tanya ayahnya memastikan apakah Luna tidak menolak semua ini demi kebahagiaannya bukan semata-mata tidak sayang. tapi mereka sangat sayang kepada dirinya.


"*iya yah...bu... Luna tidak keberatan sama sekali dengan keputusan yang kalian ambil "


"bagus jika kamu tidak keberatan dengan keputusan kami. lusa kamu akan segera berangkat ke Jerman* "


di dalam mobil Luna terus terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. amal yang menyetir melirik bukam nya bibir luna tidak berkata menjadi penasaran. perihal apa yang terjadi. kenapa Luna terus saja diam. pikirannya terjatuh pada salah satu masalah. Luna tidak menyukai keputusan yang diambil ayah dan ibunya meski sudah mengiyakan dan setuju.


"Luna kamu kenapa? apa kamu terpaksa mengiyakan permintaan ayah dan ibu ? " tanya Amar melirik Luna.

__ADS_1


Luna menarik dan membuang nafas kasar. Amar dapat mengetahui sekarang Luna sedang dalam kegundahan dan kebimbangan. yang bisa dia lakukan sekarang memberi dukungan dan support penuh kepada Luna.


"apa dengan Luna mengiyakan semua masalah Luna dapat terselesaikan? " tanya Luna membuka suara setelah lama bungkam.


Amar bingung dengan perkataan Luna kenapa mendadak berkata seperti itu. apa yang dipikirkan Luna saat ini sangat membuat amat tidak paham.


"maksud kamu bagaimana? kakak tidak mengerti ucapanmu? " menaikkan alis nya tidak mengerti.


"aku tahu ayah dan ibu minta Luna untuk menjaga pendidikan di Jerman agar luna dapat melupakan Dion. kalau tidak kalau tidak kenapa minta Luna melanjutkan di jauh tempat jika di sini juga ada universitas yang terbaik " kata Luna memandang Amar.


penuturan Luna ada benarnya juga. Amar juga sempat berpikir sama seperti itu. awalnya dia berpikir jika itu hanya penasarannya saja namun semua salah Luna pun sama juga dengan dirinya berpikiran seperti itu.


amati tak ingin membuat Luna makin sedih dan kepikiran dengan semua ini jika dia mengiyakannya.


" kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? " tanya amar kepada Luna.


" kakak tidak perlu bertanya Luna yakin kakak juga sama berpikir seperti luna sekarang " ucap Luna.


"terserah kakak saja mau bagaimana. nanti pulang kerja aku izin mau pamit sama keluarga Adi jaya "


mendadak Amar menginjak rem memberhentikan mobilnya.


"kakak kenapa mendadak berhenti seperti ini " pekik Luna kesal dahi cantiknya jadi merah.


"maksud kamu tadi apa Luna? apa kakak nggak salah dengar? " tanya balik kamar memastikan yang didengar tadi tidak benar.


"maksud aku yang mana? Luna nggak ngerti " Luna mengelus jidat cantiknya dengan.


"maksud perkataan kamu yang ingin berpamitan kepada keluarga Adi jaya? apa itu benar? " tanya ama serius terlihat tidak suka mendengar perkataan Luna yang ingin berpamitan dengan mereka.


"iya benar. Luna ingin berpamitan sama mereka. emang kenapa apa ada yang salah? " tanya balik belum paham dengan wajah tidak sukanya amar.

__ADS_1


Amar bingung kenapa adiknya ini sangat polos sekali. apa tidak cukup melakukan kasar Dion kepada dirinya hingga masih saja ingin berpamitan dengan mereka.


banyak mobil di belakang sudah mengklakson meminta mobil segera melaju bahkan beberapa menit berhenti sudah memicu banyak keributan antar pengendara lainnya.


"kakak jalan lihat semua ulah kakak yang berhenti mendadak " tegur Luna menyadarkan dan amar segera kembali melajukan mobilnya.


tanpa mereka sadari dia melihat kebersamaan Luna dan Amar berdua di dalam mobil. hal tersebut membuat dia termakan api cemburu.


Dion yang suasana hatinya belum membaik dengan kepergian lunak sekarang kini menjadi hancur. pertemuan yang mendadak tidak sengaja membuat dia berpikir buruk dan bangunan yang ingin segera menceraikan dirinya.


"ternyata ini alasan kamu ingin segera bercerai dari diriku. kamu sudah mendapatkan pria yang lebih kaya dariku " gumam Dion memukul sekuat ganggang setir pengemudi.


setelah tiba di kantor Dion terlihat sangat suntuk dan terlihat begitu marah dengan apa yang dia lihat tadi.


dia tidak pernah membayangkan Luna bisa setega ini bermain di belakangnya. pikirannya kacau memikirkan betapa beraninya Luna.


niat awalnya datang ke kantor untuk menandatangani berkas namun dengan apa yang dilihat hari ini mendadak Dion membatalkan semuanya.


Rendy melihat perubahan wajah Dion yang masuk ke kantor dengan suntuk dia tidak berani menyapa nya. nantinya bukan disapa balik tapi jadi pelampisan dari suasana hatinya yang lagi tidak baik itu.


Dion yang kesal dan tidak fokus mengerjakan semua berkas kantor memilih mengistirahatkan pikiran di ruangan tersembunyi di balik lemari.


sebelum bangun dia sudah mengabari Rendy untuk tidak mengganggu dirinya meski hal tersebut penting atau mendesak.


dia melepas jas kerja dan membuang sembarang arah. dirinya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit plafon dengan jelas. bayangan lunak kembali terlintas saat berbincang akrab dengan seorang pria yang dibencinya.


"sial bagaimana bisa Luna bersama pria itu. apa mereka sudah lama berhubungan di belakangku " ucap Dion.


mata Dion tidak bisa terpejam entah kenapa setiap memejamkan mata bayangan Luna selalu terlintas. hal tersebut membuatnya frustasi ingin rasanya saat ini juga dia menarik paksa Luna saat melihatnya. tapi apa boleh buat pertemuan mendadak tadi di jalan membuat dia tidak bisa melakukan apapun selain dia memandang.


"sial kenapa kamu harus sama seperti kakak murahan mu itu. apa di keluarga kalian semua sama tidak ada yang bersih. kenapa suka sekali berkhianat " maki Dion

__ADS_1


__ADS_2