
" Ya sudah kalau gitu Dion berangkat dulu Mi. jangan lupa yang tadi malam " ucap Dion kembali mengingatkan pembahasan mereka semalam.
" Iya mami ingat. entar juga bakalan mami lakukan "
setelah kepergian Dion Mami Sheila segera mencoba menghubungi Luna untuk membuktikan perkataan putranya semalam.
baru sekali menghubungi Luna sangat jelas nada sambung yang terhubung.
" Assalamualaikum Mi. Ada apa pagi-pagi begini Mami menghubungi Luna" salam Luna di seberang sana.
" waalaikumsalam sayang. tidak ada apa-apa " Mami menjawab salam balik Luna.
" apa Mami mengganggu kamu? " tanya Mami lagi takut mengganggu waktu Luna.
" Mami tidak mengganggu Luna kok"
kedua saling berbincang bertukar kabar satu sama lain. tanpa terasa mereka sudah menghabiskan waktu berbincang selama setengah jam. hingga akhirnya Luna memutuskan sambungan karena ada sesuatu yang harus dikerjakan.
setelah sambungan terputus Mami Sheila terdiam sejenak dan berpikir mengingatkan ucapan Dion semalam.
" kontak Luna masih tetap sama. jadi dia memblokir kontak Dien sehingga tidak dapat tersambung" analisa batin Mami Sheila berpikir dengan semua yang baru saja dia buktikan.
" bagaimana Mi? apa benar Luna mengganti nomornya? " tanya Papi Beni yang datang menghampiri istrinya.
"tidak pi. nomor Luna masih tetap sama " mami Sheila menggelengkan kepalanya.
" berarti Luna menaruh kontak Dion di daftar hitam"
" Iya bener Pih " Mami Sheila mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
" Ya sudah mau bagaimana lagi ini sudah keputusan Luna. kita tidak boleh egois dengan semua yang dilakukan Dian selama ini kepada Luna. biarkan diam kali ini yang berusaha sendiri "
" *Iya pih Mami setuju. Mami tidak menyalahkan Luna atau yang lainnya karena Mami dapat memaklumi dengan apa yang diperbuat Luna saat ini "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Luna Hari ini datang ke kantor sedikit terlambat. ibunya meminta Luna menemaninya sebelum pergi meninggalkan Indo. enak menolak permintaan ibunya.selain dia menyetujui semua permintaan ibunya.
__ADS_1
" putriku apakah masih lama kamu di atas? " gerak ibunya dari lantai bawah.
" sedikit lagi Bu. Ibu duluan saja ke mobil nanti Luna akan menyusul" belas Luna dari lantai atas kamarnya tidak kalah berteriak keras kepada ibunya.
" Ya sudah kalau begitu Ibu tunggu di mobil " teriak ibunya lagi sambil berjalan keluar.
setiba masuk di dalam melihat menunya sendiri tanpa Luna Arya langsung bertanya bingung kepada ibunya.
" di mana Luna Bu? kenapa ibu sendiri saja? "
" dia masih dandan di kamarnya " jawab asal ibunya tidak tahu apa yang dilakukan Luna sekarang hingga lama begini.
" Masa sih Luna dandan selama ini" balas Arya sedikit Rabu dengan jawaban ibunya.
beberapa menit kemudian Luna menghampiri mereka.
" maaf kalian jadi lama menunggu Luna" ucap Luna tidak enak membuat mereka menunggu. sebab sejak mahal mengakhiri sambungan telepon dari Mami Sheila Luna lupa meletakkan ponselnya ke arah mana. karena adanya langsung asal membuang handphonenya saat mendengar suara Maminya.
" apa kamu dandan Luna? " tanya Dimas membalik arah pemandangan yang terlihat biasa-biasa saja tidak seperti orang yang sedang berdandan.
" ngapain dandan segala? " Tanya balik Luna.
" tadi kata mami kamu sedang dandan" jawab Arya menoleh maminya yang tersenyum manis. untuk mengikuti Arah pandangan tersebut.
" sudah Ayo jalan sekarang ini juga harus ke kantor nantinya " ucap ibunya mengalihkan pembicaraan kedua anaknya yang menatap tajam ke arahnya.
kini mereka sudah tiba di mall. Luna menemani ibunya keliling Melihat barang favorit yang diincarnya dan Arya memilih duduk di cafe. menemani kaum wanita berbelanja suatu hal yang membosankan bagi dirinya.
" Ibu ingin mencari apa. Kenapa tidak ada satu barang yang Ibu temukan dari tadi? " tanya Luna bingung. Kenapa sudah setengah jam memutar belum juga satu barang yang dipilih oleh ibunya.
" putriku barang yang Ibu inginkan tidak ada. Bagaimana Ibu bisa memilih jika barang tersebut sudah diambil pembeli yang lain "
" Jadi sekarang bagaimana. jika barang incaran Ibu tidak ada "
" kita lanjut keliling-keliling saja"
Luna dan ibunya keliling memutari mall di lantai 2. tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Luna.
__ADS_1
" Luna" panggil orang tersebut.
mendengar namanya dipanggil Luna berbalik dan terkejut melihat orang tersebut.
...****************...
Intan di kamar dengan sebuah benda pipih setangnya tertawa puas.
" aku yakin setelah ini kamu aku tidak akan bisa menolak untuk bertemu denganku Dion. kita berdua sudah ditakdirkan bersama Sekuat apapun kamu menghindar akan banyak cara yang akan menyatukan kita kembali " ucap Intan tertawa keras.
setelah mengirim pesan pada Dion Intan langsung Segera siap-siap. dia yakin kali ini tidak ada penolakan dari Dion lagi.
tempat lain Dion yang mendapat sebuah pesan dari intan berjejak kesal membaca isi pesan tersebut.
" kurang ajar mau apalagi wanita ini. Jika dia berani sedikit saja menyentuh Luna tidak akan memaafkan. tangannya akan hilang dari anggota tubuh dan hal tersebut akan menjadi harta dan melihat matahari terbit " marah dia meremaskuat ponselnya.
Dion segera memencet telepon kantor.
" segera ke ruanganku sekarang" perintah Dion tanpa menunggu balasan orang tersebut langsung mematikan panggilan sepihak.
" kurang ajar kebiasaan selalu saja tidak pernah hilang. apa tidak bisa dia menunggu setelah aku berbicara baru mematikan sambungan teleponnya" maki Rendy kesal
" aku yakin pasti ada masalah lagi. mana ada seorang dia tadi Berarti tidak menghubungi seseorang jika tidak ada masalah. apa dia pikir aku ini mesin pengurus masalah yang dialami apa " pikir Rendy meski mulut mau ngoceh malas tapi dia tetap bergerak maju ke ruangan Dion.
" Ada apa Kamu memanggilku. jangan bilang ada masalah lagi? " terus terang dia yang sudah dapat menebak.
Dian mendengar tebakan Rendy yang benar tidak perduli dengan wajahnya yang kusut.
" temui Intan di tempat ini. beri dia peringatan untuk tidak bermain-main dengan diriku. Jika dia masih menyayangi nyawanya "
" Kenapa harus aku. Kenapa bukan kamu saja yang ke sana Bro. ini urusan kalian berdua kenapa harus aku yang mengurusnya. ini tidak ada kaitan dengan pekerjaanku " protes Rendy malas menemui Intan wanita gila itu.
" ini perintah bukan minta tolong. lakukan saja apa perintahku. atau kamu akan aku......." senyum Dian menggantung kenyataannya dengan senyuman yang sangat sinis.
" Ya elah gitu aja udah ngancem. nggak seru banget sih lo"
" kalau kamu nggak mau diancam ikuti saja perintahku. nggak usah banyak protes lagi.
__ADS_1