
Luna menatap kedua bola mata Amar dengan penuh kasih sayang. dia bersyukur bertemu dengannya dan menjadi kakak terbaik baginya.
tidak ada kata yang bisa diucapkan Luna kehabisan akal membalas perkataan bijak amar.
"sudah jangan cengeng kayak gini. kakak nggak kenal Luna yang cengeng dan manja seperti ini. yang kakak kenal Luna yang kuat dan pemberani "
mendengar perkataan nama Luna memukul lengan kiri Amar.
"siapa yang cengeng sih Luna bahagia tahu bertemu dengan keluarga Luna lagi " ketusnya menatap segelas selalu berbalik menatap orang lain.
"iya iya Luna nggak cengeng. tapi... " gantung Amar sengaja mengerjainya.
" tapi apa kak? " Luna melotot kepada Amar.
"kakak lupa " balasnya lalu tertawa.
"tahu ah males Luna bicara sama kak Amar gak jelas banget deh " bangun Luna meninggalkan kamar menuju lantai bawah.
melihat kepergian adiknya Amar bangun mengejar langkah luna.
"sabar Luna nggak usah buru-buru ayah dan ibu nggak bakal kemana-
mana " ejek Amar lagi.
"siapa juga yang bilang bakal kabur. lu nama saja dekat-dekat sama kak Amar " ketus luna tanpa menoleh saat berbicara.
mendengar pertanyaan Luna tentang dirinya Amar mengurutkan keningnya bingung. apa yang dimaksud Luna dirinya tidak jelas atau dia sudah merasa bosan bersama nya.
kini mereka sudah tiba di ruang keluarga. mata ayah dan ibu sudah lekat memandang kedua anaknya. yang yang sejak tadi membuat mereka menunggu lama kedatangan nya.
" kenapa baru tiba di acara apa saja kalian di atas? " selidik ayah bingung apa yang dibicarakan hingga selama ini.
" maaf yah " ucapan amar meminta maaf kepada orang tuanya.
"ya sudah kali ini ayah maafkan lain kali tidak boleh kayak gini lagi "
"putriku sini duduk dekat ibu " panggil menabung sofa di sampingnya.
__ADS_1
"iya Bu Luna akan duduk di sebelah ibu " jawab lunas jalan mengikuti perintah ibunya.
Luna duduk anteng di sofa yang ditunjuk oleh ibunya. hatinya sudah seperti bara api kepanasan. gelisah dengan apa yang akan dikatakan mereka.
"putriku apa kamu baik-baik saja selama ini " melihat Luna tidak tenang seperti sebelumnya.
"*iya Bu Luna baik-baik saja. ada apa ibu memanggil Luna? "
"karena kamu sudah di sini ibu nggak mau basa-basi lagi* " ucap serius menatap-lekat wajah Luna.
"ibu dan ayah sudah memutuskan kamu untuk melanjutkan kuliah di Jerman "
utusan orang tuanya tanpa ada perundingan terlebih dahulu luna sangat kaget. bagaimana bisa mereka memutuskan sepihak tanpa pertanyaan terlebih dahulu kepadaku.
" tapi kenapa benda tak seperti ini Bu? " tanya Luna bingung apa alasan sebenarnya hingga ayah dan ibunya memutuskan ini.
" ayah ingin kamu menjadi wanita yang tangguh dan bisa membalas mereka yang sudah menyakiti kamu"
ujarnya menjelaskan maksud tujuan mengambil keputusan ini.
"tidak perlu ya Luna nggak mau balas dendam pada mereka. biarkan semua berlalu seperti ini nggak usah dibalas karena Tuhan tidak pernah tidur. jika alasan ayah dan ibu meminta Luna kuliah untuk balas dendam maaf Luna tidak bisa " tolak keras Luna tidak ingin kuliah dengan alasan tujuan balas dendam.
"terbuat dari apa kamu Luna. kenapa kamu begitu baik meski berulang kali sudah disakiti masih bisa memaafkan. ibu bangga memiliki anak seperti kamu "batinnya terharu dengan kebaikan hati yang dimiliki Luna.
...****************...
Dian masih saja tidak menyerah menghubungi Luna meski hasilnya akan tetap sama.
tekadnya sudah bulat ingin mendapat maaf dan diberi kesempatan kedua dari Luna memperbaiki hubungan ini.
Dian mengelus bantal yang biasa digunakan Luna untuk bersandar saat tidur.
matanya masih belum bisa dipijamkan memori dan ingatan tentang mendadak datang bermunculan.
ternyata seperti ini rasanya menyesal sesuatu yang diperbuat bahkan tidak mendapat maaf dari orang tersebut.
menyesal selalu datang di akhir setelah semua terungkap barulah datang kalimat ucapan bisa menyesal dan meminta maaf.
__ADS_1
apa gunanya kata lisan menyesal dan maaf jika semua tidak bisa diperbaiki lagi. berubah tidak menjamin seseorang merupakan semua yang terjadi. bahkan meski bertahun lamanya telah berlalu kenangan memori menyakitkan tidak akan pernah hilang.
memori perlakuan Dion perlahan ikut bermunculan satu persatu. dinding tembok dekat pintu mengantarnya buat apa kerjamu dirinya memukul dan menampar Luna meski sudah daya tetap saja tidak mengampuni dirinya.
Dian memukul tangannya sendiri dengan benci.
"kenapa aku sangat kejam. kenapa bisa menyakiti wanita sebaiknya" menyesal Dion mengutuk kebodohan nya itu.
Dian bangun berjalan mendekat lemari pakaian yang dulu adalah tempat penyimpanan pakaian Luna dia membuka dan memandang lekat lemari kosong tidak ada sehelai bagian dalamnya. ternyata Luna membawa serta tanpa menyisakan satu pakaian untuk dirinya.
"kenapa begitu menyakitkan melihat semua ini " kata Dion masih berharap ini hanyalah bunga tidur saja. tapi tidak bisa dipungkiri lagi saat membuka lemari.
......................
pagi ini adalah masih segar angin berhembus lembut. hembusannya menembus kulit. dingin terasa dinginnya membuat tubuh manusia menggigil.
Luna merentangkan kedua tangannya level dengan mata belum sepenuhnya sadar. dia mengucap bola matanya dengan satu tangan dan tangan lain membentuk mulut yang memuat akibat serangan ngantuk yang melanda.
setelah mengumpulkan nyawanya secara full Luna bangun dari ranjang segera menuju kamar mandi.
20 menit musikan diri kini Luna sudah selesai dan sekarang berada di kamar ganti. tuna akan tetap bekerja. bukan membantah orang tua untuk melanjutkan pendidikannya hanya saja Luna tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
di ruang makan mereka sudah tutup antum tinggal menyantap sarapan pagi namun sarapan pagi harus ditunda karena menunggu kehadiran seseorang yang belum datang.
10 menit kemudian hendakkan langkah kaki terdengar jelas dari anak tangga. mereka langsung memberikan mata menoleh kepada asal suara itu.
Luna yang dipanas seperti itu sama mereka menggaruk kepala yang tidak gatal menjadi bingung sendiri.
"pagi semuanya " siapa Luna meski bingung dipandang aneh sama mereka tetap saja berusaha tenang dan biasa-biasa saja.
"pagi juga putri kecil " balas serempak dengan senyum bahagia.
" ya sudah ayo duduk kita harapan dulu " ajak ibu menarik tangan Luna agar segera duduk.
semua menyantap sarapan dengan diam tanpa berbicara sepatah kata pun. tidak boleh seorangpun mengucapkan sepatah kata saat makan karena itu adalah peraturan lama hingga sekarang mengenai batuan maka di keluarga Edison.
setelah selesai menyantap sarapan ayah Alfa meminta kedua anaknya untuk duduk sebentar sebelum berangkat bekerja dan keduanya mengiyakan ucapan ayahnya.
__ADS_1
" ada apa ya? " tanya Amar menatap ayahnya tidak seperti biasa meminta berkumpul seperti ini.
"ayah ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua terutama kepada putri kecilku " ucap ayah Alfa.