
Luna membalikkan bola mata menoleh kepada papi dan mami yang kaget dengan penjelasannya barusan. awal Luna tidak ingin membungkam semuanya tapi kalau kelamaan dia terpancing sama ucapan Dion yang menaruh posisi dinyala yang salah.
"pi.....mi... maafkan Luna baru bisa cerita sekarang " ucap Luna tidak enak.
"tidak apa-apa sayang dengan begini kami bisa tahu inti permasalahan kalian. meski Mami sedikit kecewa karena kamu baru menceritakan sekarang tapi mami menghargai keputusan kamu. mungkin dulu kamu ingin menyembunyi kan aib rumah tangga kamu " bijaknya dapat menghargai keputusan luna apapun itu.
"maafkan aku" ucap Dion satu kata keluar dari mulutnya.
"untuk apa maafmu" tanya Luna mengurutkan keningnya bingung.
"semua perkataanku dulu. dan juga kelakuanku terhadap dirimu " kata dia sedikit menurunkan ego nya.
sebelumnya dia tidak pernah meminta maaf kepada siapapun namun kali ini berbeda entah kenapa dia meminta maaf tulus tanpa dan paksaan dari orang lain.
Luna bingung harus menjawab apa. maaf adalah kata yang mudah diucapkan dari dari seseorang entah itu sungguh-sungguh atau palsu. Luna susah untuk menerima kata maaf dari Dion.
Luna tidak menjawab melainkan tarik tangan biar memberikan setarik kertas lalu jalan mendekati babi dan mami menyalaminya untuk berpamitan.
"*maaf Pi....mi jika kedatangan Luna bikin semua jadi kacau dan berantakan. Luna pamit dulu "
"iya sayang tidak apa-apa kami yang seharusnya minta maaf pada dirimu. jaga kesehatan di manapun kamu berada jika tidak sibuk berkunjunglah ke sini. tapi dan Mami akan sangat merindukanmu* " ucap Mami lalu menari peluk Luna.
Luna membalas pelukan dan berkata kepada mami.
"iya mi Luna akan berkunjung lagi kalau ada waktu yang luang dan urusan Luna kalau sudah selesai.
setelah kepergian Luna diam-diam mematung tanpa berkata apapun kepada orang tuanya.
melihat betapa menyedihkan nasib rumah tangga anaknya mereka sedih namun tidak bisa berbuat apapun.
papi Roni sedih namun kecewah nya begitu besar kepada Dion. tidak pernah berpikir anaknya akan kejam dan tegas seperti ini pada wanita yang berstatus istrinya itu.
__ADS_1
papi Roni menari lembut tangan istrinya untuk pergi meninggalkan Dion. ruangan yang tadi ramai dengan perdebatan mendadak sunyi tak berpenghuni.
dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam pikirannya terus yang yang dengan ucapan Luna.
pembantu juga mendengar pengakuan Luna bahkan mereka juga kaget tapi tidak berlebihan seperti Tuan dan nyonya karena mereka sudah sedikit tahu sikap dan kelakuan Dian terhadap Luna selama ini.
di dalam taksi Luna diam kepikiran dengan ucapan Dion yang entah kenapa sangat menyentuh di lubuk hati Luna.
"kenapa dengan diriku apa yang aku pikirkan. ayo Luna jangan lemah seperti ini " ucap Luna menyemangati dirinya sendiri.
Luna tidak tahu kenapa mendadak mengingat ulang wajah Dion saat mengucap kata maaf seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
jalanan yang diambil sopir saat ini sangat macet entah tersebut lihat di GPS atau tidak luna sendiri bingung. namun dari perkiraan depannya sopir tersebut tidak melihat hingga mengambil jalan macet.
Luna terjebak di kerumunan pengendara mobil dan lainnya. yang satu sama lain terus klakson Luna bingung kenapa mereka terus membunyikan klakson padahal sudah jelas dihadapan mereka saat ini banyak mobil yang tidak bisa bergerak.
Luna malah nafas kasar pikirannya kini menjadi tidak tentram dan tidak seimbang antara satu dan yang lainnya. dia ingin rasanya sakit juga berteriak kenapa takdir suka mempermainkan dirinya.
2 jam setengah berada di dalam mobil akhirnya Luna terbebas dari penjara macet yang membuat dirinya kepanasan.
setengah jam melintas jalan dengan mata yang memandang sekeliling sekeliling tempat yang dilewatinya. pepohonan rindang sejuk damai membuat siapa saja melihat menyejukkan hatinya dan pikiran.
bunda merasa damai meski belum sepenuhnya membuang perasaan galau tapi dengan sedikit membuat kegunaan dia bersyukur. dia tiba di halaman rumah. Luna segera keluar setelah membayar ongkos taksi tersebut.
"assalamualaikum "salam Luna masuk mendengar suara seseorang yang tidak dia kenal.
Luna dapat menebak suatu sebut adalah seorang laki-laki. dia penasaran dengan suara tersebut Luna langsung masuk memandang segala arah. dia seperti seorang polisi yang mencari penjahat matanya terus menggeledah sembarang sudut tanpa tersisa.
" waalaikumsalam " sahut mereka memandang kedatangan Luna yang bingung dan penasaran melihat sosok pria yang baru dilihatnya.
Luna melirik bola tersebut sekilas selalu menatap tanya pada mereka. mengertidengan maksud tata peluna ibu mengambil alih jelaskan siapa sosok pria di hadapannya sekarang.
__ADS_1
"sini duduk dulu nggak baik berdiri lama-lama. bukannya kamu penasaran? ibu akan jelaskan semuanya " menepuk sofa di samping menyuruh lunas setelah duduk agar dia dapat segera menceritakan semuanya.
Luna langsung duduk saking penasarannya dengan penjelasan ibunya tapi jika diperhatikan hal tersebut garis wajahnya mirip sama amar. Luna tidak ingin menambah pikirannya dengan terus menerka-nerka akhirnya dia memutuskan berhenti menekan keadaan memilih dia mendengar penjelasan ibunya.
"jadi begini putriku pria dihadapan kamu ini namanya Arya. kakak kamu dan anak kedua ibu. kamu tidak bisa menebak bukannya wajah Arya mirip dengan Amar " bingung karena Luna tidak dapat menebak dengan melihat garis wajah bahkan orang di luar sana dengan mudah menebak hanya sekali ketemu tapi kenapa dengan Luna tidak.
"jadi lelaki ini kakak Luna" kata Luna mencerna penjelasan ibunya.
"ya aku kakak kamu " jawab Arya yang diam akhirnya membuka suara.
lihat wajah kemas Luna bingung membuat dirinya ingin mencubit gemas tapi semua ditunda karena tidak mungkin dia melakukan sekarang dengan situasi rumit yang baru pertama kali bertemu. bahkan belum saling mengenal meski kakak beradik.
Luna mengangguk-nganggukkan kepalanya menandakan dia mengerti di
"dari mana saja kamu kenapa jam segini baru pulang" tanya ayahnya mengalihkan topik.
"dari rumah keluarga Adi jaya " jujurnya tanpa menutup apapun memang pernah dirinya dari sana.
"ada urusan apa kamu pergi ke sana " tanya lagi ingin mendengar kejujuran Luna.
"aku berpamitan kepada mertuaku dan sekaligus memberi surat gugatan cerai kepada Dion " jawab lagi jujur tanpa berbohong.
Arya tidak kaget meski baru awal mendengar semua ini karena dia sudah mendengar cerita tentang kehidupan Luna.
"apa sekarang semuanya sudah beres? apa dia sudah menandatangani surat cerainya? " tanyanya lagi.
"belum ditandatangani ya " jawab jujur Luna ragu.
"apa alasannya dia belum mendatangani surat gugatan cerai kamu " serius dengan sedikit meninggi suaranya.
mendengar nada suara meninggi ayahnya Luna cemas memberitahu semuanya.
__ADS_1