Bukan Istri Penganti

Bukan Istri Penganti
satu ranjang


__ADS_3

di kamar papy Roni dan Mami Sheila begitu antusias tidak sabar untuk menggendong cucu. mimpi mereka kini hampir tercapai. Tanpa mereka ketahui hubungan Dion dan Luna tidak baik-baik saja. keluarnya tanpa baik tetapi tidak dengan dalamnya begitu hancur dan tersiksa lahir batin perasaan Luna.


Mereka hanya mengetahui rumah tangga anak dan menantunya sangatlah harmonis tidak ada masalah sama sekali. mereka tidak tahu hal perjalanan rumah tangga yang kini sudah sangat. jika sekali ada badai besar datang maka runtuh pertahanan pondasi mereka berdua.


"Pi... Mami ingin cucu pertama Mami perempuan. kalau Papi gimana? " tanya Mami Sheila dengan antusias bertanya kepada sang suami.


"perempuan atau laki-laki tapi akan senang menerimanya semua kembali lagi kepada yang kuasa. dia ingin memberikan kita cucu berjenis kelamin apapun itu harus kita syukuri" sahut Papi Roni menjelaskan kepada istrinya.


tidak mungkin Luna dan Dion bisa mengabulkan keinginan Mami Sheila yang menginginkan seorang cucu perempuan. mereka hanya bisa melakukan tanpa bisa menentukan jenis kelamin apa yang diinginkan. bahkan jika Sang Kuasa sudah memutuskan A dan kita menginginkan B kita tidak bisa berbuat apapun selain menerima dan mensyukuri apapun pemberian darinya.


" Iya mami tahu Pi. Apa salahnya kalau menyampaikan apa yang kita inginkan kepada sang pencipta. Siapa tahu sang pencipta mendengarkan dan menjabah perkataan mami " ucap Mami Saila Tidak ada salahnya berharap daripada tidak sama sekali


Luna duduk termenung di taman belakang dengan menggenggam erat ponselnya tanpa berniat untuk kembali ke kamar Dion. melihat wajah Dion dia tidak sedih lagi. Sudah Cukup selama ini selalu mengalah dengan semua perlakuan Dion kepada dirinya. sekarang tidak lagi dia akan melawan meski akhirnya akan selalu terluka hatinya,


"Ayo Luna bangun jangan seperti ini. dengan kamu tersiksa dia akan sangat senang " kata lu namanya mangati dirinya sendiri.


" sekarang waktunya kamu untuk kuat dan tegar. semangat Luna Kamu pasti bisa melewati ini semua dan bisa melawan sikap Dion yang semena-mena" ucapan Luna lagi


setelah berkata menyemangati dirinya sendiri Luna masuk ke dalam kamar. kali ini dia sudah siap menghadapi Dion.


Dion duduk di sofa dengan memangku laptop di pahanya. tangan lincah dia mengotak-atik keyboard seperti orang yang sudah ahli dalam bidang komputer.


Dion melihat Luna masuk ke dalam kamar dengan keadaan yang berbeda. dia menautkan alisnya dengan wajah yang sedikit bingung.

__ADS_1


" tadi berlari seperti pencuri dengan keadaan menangis. sekarang kembali masuk dengan keadaan seperti tidak ada masalah sama sekali. Sungguh perempuan yang ajaib dan aneh. begitu cepat perubahan suasana hatinya " kuman Dion dalam hati.


merasa ada yang melihatnya saat ini dia menginjakkan kakinya segera masuk ke dalam. tuna langsung menoleh dan melihat ternyata Dion yang sedang melihatnya sejak dari tadi.


Luna malas menegur Dion yang masih setia melihatnya. dia memilih meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


memandang kepergian Luna begitu saja. tidak membuat Dian kesal ataupun marah. dia tidak peduli kemanapun Luna berada. baginya Luna hanya seorang benalu tidak lebih dari itu. tidak ada yang spesial darinya di mata Dion.


Dion kembali mengerjakan pekerjaan Kantornya yang sengaja dia tunda untuk dikerjakan di rumah.


tuna keluar dari kamar mandi dengan wajah segar Setelah membersihkan diri. Dia berjalan menuju lemari mengambil selimut. saat ingin menjatuhkan dirinya tidur di lantai terdengar suara Dion begitu jelasnya di telinga Luna.


" Apa yang ingin kau lakukan di situ? " bingung dia dengan kelakuan Luna yang aneh.


" mau tidur lah. Emang mau ngapain lagi di sini? " jawab Luna dengan singkat.


Luna yang mendengar itu kaget dan bingung dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Dion.


"apa Lelaki kejam itu sedang bersandiwara? Kenapa begitu beda sekarang? mendadak melarangku untuk tidur di lantai ini. sedangkan tadi mati-matian menghina tanpa menjaga perasaan orang lain sedikitpun" batin Luna.


" Hai apa kamu budek? aku ngomong sama kamu bukan sama tembok. Kamu kenapa hanya diam saja? kau bisu atau gimana? " ajakan Dion kepada Luna.


" ya... aku memang tuli setiap mendengar ucapan dan Perkataanmu yang keluar dari mulutmu itu" balas Luna membuka suara dengan lantang sekali.

__ADS_1


"Oh ternyata kamu bisu ya. segeralah kamu ke rumah sakit periksa sebelum semua tambah parah dan terlambat " saudian menyindir Luna dengan senyuman yang mengejek.


" itu tidak perlu. Aku bisu bukan kepada semua orang. disuku hanya untuk satu nama dan satu orang yang tak perasaan dan berhati batu " Sindir balik Luna Menang telak. sehingga membuat dia terdiam entah itu karena kesal atau marah.


melihat tidak ada balasan dari dia Nona kembali ingin menidurkan diri di lantai. namun sekali lagi Dian kembali membuka suaranya dengan keras.


"sudah aku ingatkan Jangan tidur di situ. Bagaimana kalau Papi dan Mami datang melihat semua ini? bisa-bisa menjadi masalah yang sangat besar " ucap Dion tegas. betapa keras kepalanya Luna jika dijelaskan selalu saja melawan dan ngeyel.


Mendengar alasan dari Dion masuk akal. Luna kembali berpikir tentang ucapan Dion barusan itu.


" ucapan lelaki itu benar juga ya! bagaimana kalau Papi dan Mami mendadak masuk ke kamar ini? apa yang harus aku dan Dion Jelaskan kepada mereka? tidak mungkin kita menciptakan semua yang telah terjadi yang sebenarnya pada mereka berdua " batin Luna.


"di mana aku harus tidur. kalau tidak berada di sini. kalau bukan lantai ini sebagai tempat tidurku " tanya Luna kepada Dion.


" Apa kamu tidak memiliki mata hingga halus kecil itu saja harus kamu tanyakan kepada diriku? " Dion kepada Luna.


" Maksud kamu apa aku harus tidur di atas kasur ini " tunjuk Luna dengan jari telunjuk pada kasur di depannya itu.


" iya... kamu mau tidur di mana lagi kalau bukan di sini. Emang di sini kamu lihat ada dua kasur atau selain ini? " Tanya balik Dion kesal kepada Luna. Kenapa begitu bodohnya Luna sehingga hal sekecil itu saja selalu dipertanyakan.


Luna ragu untuk tidur satu ranjang dengan Dion. sudah jelas sekarang dia akan tidur bersebelahan dengan Dion. kasur yang sama tidak ada jaminan kalau Dion tidak akan menyentuh atau melakukan hal-hal buruk terhadap dirinya seperti waktu itu.


" Apa yang sedang kamu pikirkan? jangan mengotori pikiranmu yang sudah kotor tambah kotor dengan pikiran buruk kamu itu. karena sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah terjadi lagi " kata Dion tak tahu apa yang dipikirkan oleh Luna dengan diamnya dirinya dari tadi.

__ADS_1


" tahu apa kau tentang jalan pikiranku? Jangan belagak seperti orang pintar yang bisa menebak jalan pikiran orang lain. kamu juga bukan dukun. sekalipun memang kamu seorang dukun Aku tidak akan pernah percaya kepada dirimu lagi " balas Luna kesal kepada Dion.tidak


Ingin beradu pendapat semakin panjang Luna memutuskan untuk naik dan langsung tidur. meneladani Dion hanya buang-buang waktu saja. besok dia harus bekerja dan bertemu Pak Amar untuk meminta maaf atas ketidak sopan nanya karena dia tidak mengangkat telepon darinya


__ADS_2