
para pembantu melihat kedua majikannya sedih dan rapuh atas kepergian nyonya muda.
para pembantu juga ikut sedih mereka juga merasakan kehilangan tersebut.
"kasihan tuan dan nyonya pasti sangat menunjukkan nona muda Luna " ujar salah satu pembantu.
"iya nyonya Luna pakaikan pelita di rumah ini yang sangat berarti dan juga dapat menerangkan apapun dengan ketulusan hatinya " timpal pembantu tersebut menyetujui perkataan pembantu yang satunya.
"kita berdoa saja semoga Tuhan dan nyonya tidak berlarut-larut dalam kesedihan ini. terutama kepada tuan muda Dion agar tidak mengurung diri di kamarnya " ucap pembantu lain melihat kondisi keluarga adidaya sedih berjamaah dengan kepergian luna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
di keluarga Edison kini amat telah mengetahui semua yang terjadi dengan pernikahan adiknya dari orang suruhan yang dia perintahkan untuk mencari kebenaran pernikahan adiknya. ternyata dukanya benar pernikahan adiknya sangat aneh. Amar meremas kuat jemari tangan mendengar laporan orang suruh hanya itu.
mama tunggu tidak terima pelabuhan Dion memperlakukan Luna sebagai istrinya yang sangat kasar. bahkan seringkali melakukan KDRT. wajah tampan Amar mendadak tersebut dibaca orang psikopat.
menuruni anak tangga satu persatu Amar hanya menemui ayah dan ibunya.entah di mana Luna sekarang Amar tidak tahu dan bersyukur Luna tidak ada di sana. dia tidak ingin kebab blasan marahi Luna yang terus menutupi kelakuan Dion yang dianggap suami tapi tidak dengan Dion hanya menganggap permainan yang bisa dirobek apa saja.
melihat wajah aslinya seperti menahan amarah ayah berinisiatif bertanya kepada Amar .
"apa yang terjadi pada dirimu Amar? ada apa dengan wajahmu itu? "
Amar berjalan mendekati orang tuanya dan menjatuhkan badannya di sebelah mereka. pikiran masih bekerja mau kesal marah dan benci bercampur menjadi satu kepada Dion sekali melakukan hal dasar kepada wanita terutama kepada adiknya.
"Amar ayah bertanya kenapa kamu diam " tegur lagi menepuk pundaknya.
__ADS_1
" hah...iya yah ada apa " paket nata bingung ayahnya sebab ada yang dikatakan mereka tadi tidak didengar olehnya.
"apa yang mengganggu pikiran kamu sehingga tidak fokus seperti ini " tanya lagi ayah.
"iya sayang. apa yang mengganggu pikiran kamu. kenapa tidak fokus seperti ini. ibu perhatikan anak ganteng ibu ini banyak pikiran. emang apa yang kamu pikiran sekarang? " timpanya menebak raut wajah amar.
kamar aku menceritakan ini kepada orang tuanya karena dia tidak ingin ayah nya bertindak nekat. biarkan saja dirinya yang mengurus bion sialan itu.
"tidak apa-apa ya h.. bu. di mana Luna sekarang? kenapa aku tidak melihatnya dari tadi? " tanya Amar mengalikan topik pembicaraannya.
"adik kamu lagi beres-beres di atas padahal ibu sudah bilang biarkan saja ada pembantu yang melakukan itu. tapi dia ngeyel nggak mau. katanya mau melakukannya sendiri tanpa merepotkan mereka semua " jelasnya bangga memiliki Putri yang mandiri dan pentingnya dia tidak manja.
"iya Bu Luna memang seperti ini jadi aku nggak kaget mendengar semua itu " balas Amar mengetahui sikap Luna yang mandiri dan dewas.
ayah dan ibu belum mengetahui tentang Luna yang bekerja.
"jadi begini Bu..... ya. selama ini Luna bekerja di perusahaan kita posisinya sebagai sekretarisku " jelasnya mulai dari awal melamar tidak memiliki ijazah sarjana hanya bermodalkan jasa SMA sehingga dia diterima kerja sekarang.
betapa kagetnya mereka mendengar cerita Amar. betapa sulit dari hari yang dilewati Luna selama ini tanpa mereka. satu hal yang masih belum dimengerti mereka kenapa saat sudah menikah saja bekerja. bukannya memiliki suami berarti sudah menjadi tanggung jawabnya. kenapa malah mencari pekerjaan.
ini merekalah yang menjadi curiga. ayah Alfa bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membedakan satu masalah yang sedang ditutupi oleh anaknya.
"Amar apa ada yang kamu tutupi dari cerita kamu? "tanya ayah Alfa mau itu kasih anak sulungnya itu dengan tetapan serius.
" tidak ada ya " bohong Amar kelak kapan tanpa ingin menatap lama bola mata ayahnya.
__ADS_1
ayah Alfa bukanlah orang yang bodoh mudah dibohongi. gerak-gerik kamar sudah terlihat jelas ada sesuatu.
pandangan lekat memicing introgasi kepada Amar membuat dia tak berkutik lagi. mau tidak mau Amar menceritakan semuanya yang dia ketahui dari hasil penyelidikannya.
mereka menjadi pendengar setia mendengar penjelasan amal tanpa mencela. wajah satu persatu dari mereka menunjukkan reaksi berbeda, marah, benci dan lainnya menampilkan ketidaksukaan atas perlakuan buruk kepada putri mereka.
Amar setia menceritakan dengan sedikit mencuri pandang melihat reaksi ayah dan ibunya. ternyata dugaannya benar amarah ayahnya sudah berada di puncak batas kesabarannya.
tanpa mereka ketahui tanpa dari Luna menuruni anak tangga perlahan dan mendengar pembicaraan mereka. betapa kagetnya mengetahui Amar menceritakan semua masalah rumah tangganya yang tidak sembarang orang mengetahuinya.
Luna berpikir sejak kapan Amar tahu bukannya tidak sembarang orang mengetahui selain keluarga Adi jaya dan para pembantunya. kenapa juga Amar harus menceritakan semua ini kepada ayah dan ibunya.
rencana awal ingin menghampiri keluarga nya batal. Luna langsung memutar balik badan dan masuk kembali ke dalam kamar.di dalam kamar bernuansa biru langit dengan lebar ruangannya dua kali lipat besar dari kamar tamu yang ditempati di keluarga Adi jaya. di meja rias menatap wajahnya. dia mengingat kejadian saat dia mendengar percakapan keluarganya mengenai pernikahannya yang hancur berantakan.
kini yang menjadi pemikiran lunas sekarang adalah dari mana Amar tahu. apa dia menyuruh orang suruhan? tapi bagaimana bisa mendapat detail lengkap ceritaku.
Luna bingung apa yang akan dilakukan jika nanti ditanya. cepat atau lambat mereka akan menanyai hal ini kepada dirinya. tidak mungkin bercerita bohong atau menghindari pertanyaan mereka.
"apa yang harus aku lakukan. kenapa semua menjadi seperti ini "gumam luna menatap lekat badannya di pantulan cermin.
Luna tidak berpikir jika mereka akan tahu masa lalunya. karena dia tidak ingin membahas atau menceritakan. biarkan semua beralih waktu tanpa perlu diceritakan siapapun. namun kini semua berbeda dari ekspektasinya. natsi sudah berubah menjadi bubur. tidak ada yang bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi.
peta berada di bangku meja rias Luna bangun berpindah tempat duduk. kini tubuhnya telah berada di ujung tepi kasur atas. dia mengantarkan kepalanya dengan mata menatap langit-langit plafon.
dengan cahaya lampu yang terang tuna melihat jelas cat langit plafon yang berwarna putih. seputih kertas tulis.
__ADS_1
Luna tidak bisa berkata apa-apa selain merenungkan hal apa yang akan dilakukan berikut nya untuk kehidupan barunya.
di ruang keluarga mereka masih terus berbincang hingga sadar sejak tadi tidak ada pergerakan Luna turun.