
"dimana Putri kita ? kenapa sejak tadi belum turun juga. bukan katanya hanya sebentar tidak lama karena barang bawaannya hanya sedikit saja "ucap ibunya memandang arah atas tangga tak ada pergerakan Luna untuk turun.
" apa perlu aku panggil Bu ? "menawarkan diri.
"boleh..... sudia turun ada hal yang ingin ibu katakan padanya "perintah menyetujui tawaran amal.
tidak menunggu lama lagi amal segera bangun dan berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Luna yang berada di lantai atas.
mereka melihat begitu antusias Amar memanggil Luna menggeleng-gelengkan kembali tak percaya dengan sikap kekanak- kanakannya.
"lihatlah anak kamu Bu betapa antusiasnya dia disuruh panggil Luna "kata ayah tak habis pikir betapa semangatnya dan senangnya Amar bertemu dengan Luna.
"anak kamu juga itu ya. bukan anakku sendiri " balas tidak terima dikatakan anaknya saja.
dipikir buat anak tidak ada bantuan dari pria hingga dia bilang anaknya saja.
mendengar ketukan dari luar Luna yang berbaring malas alasan perlahan membuka mata mengumpulkan tenaganya yang enggan untuk bangun.
dia berjalan mendekati pintu dan membukanya dan sekarang pintu pun terbuka Luna melihat orang yang berdiri tegak di pintu adalah Amar. wajahnya sok cool dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Matanya yang tajam memandang Luna hingga merasa tak nyaman dengan pandangannya.
Luna merasa ada yang tidak beres tapi masih bisa diatasi dengan belakang tidak tahu apa-apa yang terjadi.
"ada apa kak? "tanya Luna memasang wajah lugu tidak curiga dengan kedatangan Amar pasti ada sangkut pautnya dengan apa yang didengar tadi.
"boleh kakak masuk dulu. tidak mungkin bicara begini terus " kata Anda langsung menerobos masuk ke dalam kamar Luna.buat apa izin masuk kalau ujung-ujungnya akan tetap masuk. mending langsung masuk saja.
Luna menggerutu kesal yang sudah bisa menduga pembahasan apa yang akan dikatakan Amar nanti.
__ADS_1
"kak aku sangat lelah hari ini. apa tidak bisa besok saja bicaranya? " kata Luna mencoba bernegosiasi menunda pembahasan yang dapat mengingatkannya dengan masa lalunya.
"tidak bisa harus hari ini juga. ibu juga ingin membahas sesuatu sama kamu " tolak ama tegas memandang lekat luna berusaha menghindar.
"jadi kakak ke sini disuruh sama ibu. ya sudahlah kalau begitu kita langsung turun saja. biar cepat gelar dan Citra bisa lanjut istirahat lagi "
"iya tapi tunggu sebentar. ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu sebelum bertemu dengan ibu " Amar menatap lekat membuat Luna mendengar jadi tegang tak karuan.
" apa yang ingin kakak bicarakan sama aku? " Luna tidak tahu apa-apa yang akan ditanyakan.
meski Luna sudah tahu arah pembicaraan ke mana yang akan dibahas nantinya.
"kenapa kamu sering disiksa oleh Dion Adi jaya? " tanya serius Amar yang penasaran belum tahu apa alasannya dia membenci Luna. sehingga sebuah bulan menjalani kehidupan rumah tangga tidak ada kebahagiaan meski sebagai tempat persinggahan atau lainnya.
Luna ikut tidak tahu harus menjawab apa. jawaban dari pertanyaan amal sangat gampang dan mudah. tapi mulut Luna mendadak membeku hingga tak bisa berucap sepatah kata pun.
Amar melihat adiknya diam beribu bahasa kembali membuka suaranya.
mendengar ancaman amal guna menggeleng kepala jangan. dia tidak ingin papi dan Mami kena imbas dari aksi balas dendam keluarganya kepada Dion. bagaimana juga di sini yang salah Dion bukan orang tuanya.
"kalau kamu tidak mau ceritakan sekarang jangan diam saja" tugas Amar terus mendesak agar Luna menceritakan tanpa menutup-nutupi lagi.
"aku mohon jangan lakukan apapun kepada keluarga Adi jaya. biarkan semua seperti ini saja. Luna tidak mau berurusan lagi sama dia. orang tuanya sangat baik sama Luna jadi aku mohon jangan membuat mereka menanggung kesalahan yang tidak mereka berbuat sama sekali. tidak adil jika mereka yang harus menanggung kesalahan dari anak nya " mohon Luna berharap didengar permohonannya ini.
" kakak tidak janji ceritakan sekarang jangan berkata apapun selain penjelasan kamu " tugas ama tidak ingin mendengar perkataan lain lagi sebelum penjelasan yang dia tanyakan.
Luna tidak memiliki opsi lain untuk bernegosiasi perkataannya sudah buntu sekarang. berbohong rasanya percuma saja Amar pasti bisa mencari tahu ulang dan pasti akan marah jika mengetahui kebohongan nya.
__ADS_1
" baiklah akan Luna katakan " singkat Luna menarik nafas dalam dalam mulai menciptakan satu persatu pertanyaan yang ditujukan amar kepadanya. seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat dengan pertanyaan bertubi-tubi atas tuduhan mencurigakan.
kamar sudah memasang serius pendengarannya untuk mendengar semua penjelasan dari Luna. entah itu benar atau palsu anda tidak tahu yang tahu hanya luna.
tanpa mereka sadari ayah dan Mami sudah menunggu lama di bawah. bahkan setia menanti kedatangan anak-anaknya.
kamar masih belum menyadari hal tersebut pikirannya sekarang mendengarkan apa yang dia inginkan dan penasaran sejak tadi.
Luna busana dalam menceritakan dalam masalah awal hingga akhir pemberontakan seperti ini. dia tidak ingin ada kesalahpahaman Dan makin panjang melebar ke mana-mana.
Amar mengganggu paham setiap detail penjelasan Luna. Mama sudah berusaha sabar tidak hilang kendali dengan kekejaman orang tua angkat lunam mengungkit balik jasa mereka membesarkannya.
kamar menyesal tidak bisa cari keberadaan adiknya itu jika saat itu dia lebih cepat balik ke Indonesia dan kembali membuka kasus hilangnya Luna tidak menutup kemungkinan Luna tidak akan menderita seperti ini menanggung pernikahan dan malu keluarga.
amal meremas jemari tangan mendengar penjelasan Luna. Amar berjanji akan membalas mereka yang zalim kepada adiknya dua kali lipat dari apa yang mereka perbuat. intinya tak boleh diketahui oleh Luna.
lihat Luna tidak sanggup misalkan lagi Amar menghentikan perkataan Luna.
"sudah Luna hentikan jangan dipaksa lagi jika tidak kuat. maaf kakak terlalu memaksa kamu " hujannya menarik tubuh Luna masuk ke dalam pelukannya.
mata Luna sudah berakhir dengan bendungan yang kapan saja bisa keluar. hati Luna sakit jika mengingat betapa tega takdir menguji hidupnya
Luna membalas memeluk erat kamar tanpa bisa ditahan lagi bendungan tersebut runtuh juga.
tetesan air mata jatuh mengenai baju milik Amar. namun tidak dicegat ataupun ditahan karena sengaja membiarkan Luna lega melepaskan ke kugundahan nya.
kamar yakin saat ini yang dibutuhkan Luna hanyalah dukungan dan support dalam melewati semua ini.
__ADS_1
"kakak akan selalu di sisimu tenanglah tidak akan kakak biarkan seorangpun menyakiti kamu lagi " janji Amar kepada Luna.
penengah perkataan Amar hatinya tambah terharu dan perlahan melepaskan pelukannya.