Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Ada apa lagi dengan Daffa


__ADS_3

..."Aku pun tidak ingat pasti, kapan rasa itu hadir, sekalipun aku tidak pernah berharap dengan mu, tapi takdir berjalan lain kita disatukan dengan ikatan sakral pernikahan"...


Flashback on


Zila yang waktu itu masih menggunakan seragam putih abu abu, merupakan adik kelas Daffa , zila duduk di bangku kelas 1 sedangkan Daffa di bangku kelas 3.


Hari ini merupakan Minggu ke dua zila masuk sekolah setelah orientasi selesai. Zila yang kelas nya berada di ujung gedung bangunan, harus melewati lapangan basket agar lebih cepat Sampai di kelas nya. Kebetulan hari ini anak anak basket sedang latihan karena sebentar lagi akan ada pertandingan basket antar sekolah.


Entah apa penyebabnya bola basket yang niatnya Ingin di berikan ke pemain lain malah melambung cukup jauh dan mengenai wajah zila yang berjalan tidak jauh dari mereka.


"Allahuakbar" ucap zila setelah bola basket mendarat mulus di wajah kirinya


zila memegangi wajahnya yang terasa perih karena tamparan bola basket


"Kamu nggak papa, maaf, saya nggak sengaja"


"nggak masalah" ucap zila


Zila bangun dari duduknya dan tatapan nya bertemu dengan tatapan pria yang melempar bola kearah nya


Zila terpaku melihat pria yang berdiri di depannya, Wajah tampan, garis wajah yang terpahat sempurna, hidung mancung, rambut sedikit panjang bergelombang,alis bertaut, tubuh tinggi, siyapa lagi kalo bukan Daffa Saputra , Kaka kelas zila yang sudah berhasil mencuri perhatian zila sejak pertama kali Daffa memperkenalkan diri nya sebagai ketua OSIS


jantung zila berpacu dengan cepat, posisi keduanya sangat dekat, zila yang tersadar akan hal itu lekas mundur memberi jarak di antara mereka


Tidak mau berlama-lama, karena takut terkena serangan jantung tiba tiba jika harus berlama lama berada di dekat Daffa. zila lebih memilih pergi


"Maaf ka, saya duluan"


ucap zila dan pergi begitu saja, Daffa memerhatikan zila dari jauh


"Kayanya tu anak suka sama Lo daf" ucap salah satu teman Daffa mengejek.


"Ya elah rik, kaya ga tau aja Lo, Ucap Adam yang juga satu sekolah dengan Daffa


"Keliatan banget sih tadi tu cewe gemetaran , pas liat muka Lo Daf"


Daffa hanya diam enggan menimpali ucapan Erik


dan berlalu kembali ketengah lapangan


Daf, tu cewek cantik juga , Lo ga tertarik apa"


"ngomong apa sih Lo Rik" Daffa melempar bola ke arah Erik dan langsung di tangkap oleh nya


"Iya daf, keliatan banget Lo , tadi dia salah tingkah pas tau Lo yang nolongin "


"Mau dia cantik, mau dia baik, mau dia suka gw , apapun itu gw ga tertarik sedikit pun sama dia"


"Jangan ngomong kaya gitu daf, kita ga tau kedepannya, siyapa tau tuh cewe jadi bini Lo"


"Ga mungkin"


flashback of

__ADS_1


"Saya ga nyangka anak cewek yang ga sengaja terkena lemparan bola saya, akan jadi pendamping hidup saya kelak" Daffa tersenyum sendiri mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan zila


"Jodoh emang ga ada yang tau , sekeras apapun saya menolak mu Zil, kita akan terus bersama karena kita di takdir kan untuk bersama"


Daffa menatap Poto zila di bingkai pernikahan nya, zila tersenyum manis di Poto itu. Gigi taring yang tidak tumbuh pada tempatnya, membuat senyum zila terlihat lebih manis dari senyum orang pada umumnya


"Aku baru sadar, kamu memiliki senyuman seindah itu Zil"


"Maaf karena baru menyadarinya"


lagi lagi Daffa hanya bisa meminta maaf pada sosok zila di dalam bingka pernikahan.


"Maaf Zil, saya lancang masuk kamar kamu, saya sungguh merindukanmu Zil "


Memang sejak kepergian zila, Daffa lebih sering menghabiskan waktunya di kamar zila, harum tubuh sang istri tercium jelas di kamar nya, harum yang sebenarnya menjadi candu untuknya tapi karena ego Daffa enggan untuk mengakuinya.


hari ini adalah hari kepulangan zila ke Jakarta, Dengan di antar Ali seperti keinginan nya, Zila juga tidak memberitahu Daffa.


Bunda, zila pulang dulu ya"


Zila memeluk erat Farah, begitu pula dengan Farah , Farah tidak bisa ikut ke Jakarta karena satu alasan.


Seakan enggan melepas pelukannya, zila mempererat pelukannya


"Jadi pulang ngga" Ucap Farah karena zila juga tidak melepas pelukannya, Ali mengusap lembut pucuk kepala zila terukir senyum di sudut bibirnya melihat kelakukan manja zila pada Farah .


"Kapan kapan bunda main ya kerumah zila"


Zila melepaskan pelukannya, dan menyalami punggung tangan Farah.


"Zila pulang dulu ya"


Farah terkekeh, karena kalimat itu sejak tadi zila ucapkan.


"Iya nak, ingat jangan stres jangan banyak pikiran"


"Iya Bun"


Ali pergi lebih dulu masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan Farah


"Ayo masuk ke mobil, ayahmu sudah nunggu"


"Zila pamit dulu, assalamu'alaikum'


"waalaikumsallam"


"Daaah, bunda"


"Daah, sayang, hati hati"


Zila masih melambai ke arah Farah di atas mobil yang sudah melaju jauh


.....

__ADS_1


Zila memasang sabuk pengamannya, setelah mampir untuk untuk menunaikan sholat Dzuhur bersama sang ayah


"Nak kita mampir makan dulu ya, Pasti kamu lapar kan"


"Iya yah zila ikut aja"


Ali kembali melajukan mobilnya.


....


"Papah ga mampir dulu"


Ucap zila setelah sampai di depan apartemen milik Daffa


"Ga usah nak, ayah langsung pulang aja , ayah mau mampir ke rumah teman ayah dulu"


zila berhambur kepelukan Ali , Ali mengusap punggung sang putri.


"Kalo Daffa berbuat sesuatu sama kamu bilang ke ayah biar ayah jewer telinga nya"


"iya ayah"


"ayah hati hati di jalan maaf zila ga bisa nganter ayah Sampai Depan"


"Ga papa nak, kamu jaga diri ya ,ayah pulang dulu, assalamualaikum"


"Waalaikumsallam"


Zila memperhatikan punggung Ali yang mulai menghilang , setelah nya zila masuk kedalam rumah yang sudah 1 bulan ia tinggalkan


Matanya menatap ke sekeliling,tidak ada yang berubah, hanya saja keadaan rumah sedikit kotor mungkin Daffa tidak ada waktu untuk sekedar membersihkan debu yang menempel di perabotan rumah.


zila menggeret koper nya masuk ke dalam kamar, di tatapnya kamar Daffa yang tepat berada di depan kamarnya,.


zila belum pernah masuk kedalam kamar Daffa, Daffa yang membuat peraturan dalam rumah tangga mereka, tidak boleh melanggar privasi, termasuk urusan kamar.


Zila masuk ke dalam kamarnya, matanya menatap ke sekeliling kamar, kamar nya bersih seperti biasa, bahkan seprainya berganti, terakhir kali zila memasang seprai warna abu-abu tua , sekarang berwarna coklat gelap.


"Apa Daffa yang menggantinya"


Zila menggeleng , yang ada di pikirannya tidak mungkin Daffa yang mengganti seprai kasurnya, jangankan mengganti masuk saja Daffa tidak sudih.


Tidak mau berpikir terlalu keras zila membuka lemari nya , mengambil setelan piyama tidur warna hijau toska, kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Setelah beres kurang lebih 30 menit zila keluar dari kamar mandi Dengan keadaan lebih segar, tujuannya sekarang tidur , pinggang nya rasanya ingin copot kelelahan.


Brakkk


zila yang baru saja tidur , tersentak dari tidurnya mendengar suara pintu yang di buka cukup keras,


Zila yakin itu Daffa siyapa lagi yang memiliki akses untuk masuk kedalam selain pria itu


"Ada apa lagi ini, kenapa dia membanting pintu, apa keputusan ku salah"

__ADS_1


__ADS_2