Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
keputusan


__ADS_3

...Lantas untuk apa bertahan jika akhirnya harus sakit berulang...


Karena hari ini hari Senin __Daffa harus ke rumah sakit ada operasi yang harus ia tangani, padahal sebenarnya daffa ingin di rumah, jujur ia kawatir dengan keadaan zila, obrolan tadi malam berkahir dengan emosi zila yang kembali meledak, daffa Hanya bisa berucap maaf berkali-kali, merengkuh tubuh zila yang terisak.


Hari ini pun tidak ada sapaan hangat yang biasa Daffa dapatkan dari zila, tidak ada sarapan pagi yang tersaji di meja makan.


zila yang biyasanya sudah sibuk di dapur, menyiapkan segala keperluan Daffa setelah sholat subuh, untuk hari ini biarkan zila tetap berbaring di atas kasurnya, dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


Daffa membuka pintu kamar__ di tangannya sudah ada nampan dengan semangkuk bubur juga teh hangat di sana.


Daffa duduk di pinggir ranjang, meletakkan nampan yang ia bawa untuk zila


"Sayang makan dulu Yo, niyh mas sudah beliin bubur kesukaan kamu Lo"


Tidak ada respon dari zila, Daffa hanya bisa membuang nafas kasar, dan berdiri di samping zila, Daffa mengusap kepala zila dan mencium keningnya.


"Mas kerja dulu yah, Buburnya di makan, kalo perlu sesuatu hubungin mas yah"


Karena tidak ada jawaban__ daffa akhirnya pergi meninggalkan zila di sana , di raihnya kunci mobil yang berada di laci nakas.


Mendengar pintu apartemen yang tertutup __zila bangun dari tidurnya, tidak tidur sebenarnya, hanya berusaha menghindari Daffa.


Di tatapnya sekilas bubur yang Daffa siapkan untuknya, lapar sebenarnya __tapi enggan memakan pemberian Daffa untuk sekarang tidak tau nanti.


zila berjalan menuju lemari bajunya, meraih satu abaya hitam dengan hijab syar'i.


Selesai mengganti pakaiannya, zila mengambil kembali koper yang di letakkan daffa tadi malam ketempat nya


Baju baju yang masih berantakan di dalam lemari di masukkan zila secara acak ke dalam koper, Tas kecil yang selalu ia bawa pemberian Ali ia raih, koper besar yang penuh dengan pakaiannya ia tarik , sebelum seutuhnya keluar dari rumah, zila memandangi seluruh tempat yang hampir tiga tahun ia tempati bersama Daffa, satu tetes air mata akhirnya keluar lagi dari mata sayu nya, Tidak ada lagi bertahan untuk daffa, semua selesai , zila yakin dengan keputusannya sekarang, pergi meninggalkan Daffa adalah pilihan terbaik untuk mereka, merelakan Daffa dengan wanita pilihannya adalah keputusan yang benar.


"Maaf daf aku menyerah" monolog zila


.....


Kurang lebih setengah jam zila akhirnya tiba di bandara, tujuannya satu pergi jauh dari hidup Daffa, luka yang daffa beri terlalu dalam untuknya.

__ADS_1


tadi malam zila sudah memesan satu tiket tujuan Aceh, iya zila ingin pergi ke Aceh bukan ke Bandung, orang tuanya belum kembali dari Korea, entah ada masalah apa di sana hingga orang tuanya bertahan lama di sana. Zila juga tidak ingin orang tuanya tau masalah apa yang terjadi dengan rumah tangga Nya.


sebelum pergi zila juga sudah memberikan surat untuk daffa.


.....


tidak ada satupun orang yang ia beritahu mengenai kepergiannya, tidak orang tua nya , tidak Hana sahabat Nya.


Di Aceh __zila akan tinggal sementara di rumah kakek neneknya dari ayahnya, sebelum nya zila sudah memberitahu mereka tentang kedatangannya, zila tidak bisa berbohong dan jujur dengan semua permasalahannya, untungnya mereka memahami kesulitan zila.


Butuh waktu berjam jam , akhirnya zila tiba di rumah neneknya pukul 5 sore, Zila di sambut hangat kedua paruh Bayah itu


"zila__nak, " nenek memeluk erat tubuh zila, nenek paham betul apa yang sedang di alami cucu terkasihnya itu


"Sekarang kamu masuk, mandi, kamar di bawah juga sudah di bersihin"


"makasih ya nek, kek, sudah mau nampung zila"


....


"iya dam, perasaan gue ga enak , entah kenapa dari tadi due mikirin Khaira di rumah sendiri, sampein salam gue sama anak anak yang lain"


"emm, ok, daf Khaira wanita kuat , dia tulus sama Lo, jangan buat dia kecewa daf" Adam memukul pundak Daffa pelan, dan berlalu meninggalkan Daffa yang terngiang-ngiang dengan ucapan sahabatnya itu.


perasaan Daffa semakin tidak karuan sekarang, pikirannya terus meminta untuk pulang, tapi pekerjaan yang menahannya. apa lagi sejak tadi ponsel zila sulit di hubungi.


Dengan cepat Daffa mengendarai mobilnya, membelah jalan Jakarta yang mulai menggelap


Daffa memukul setir karena panggilan yang tak kunjung terhubung dengan zila


"Ya Allah Zil jangan buat mas kawatir monolog Daffa


Pintu apartemen terbuka, keadaan apartemen sudah gelap, seakan mengingatkan Daffa dengan kejadian beberapa bulan yang lalu dimana zila pergi ke Bandung.


"ZILA" teriak Daffa dari pintu, pikirannya sudah terbayang bayang dengan zila yang kembali pergi meninggalkannya

__ADS_1


pintu kamar ia buka kasar, kamar pun sama gelapnya bubur yang tadi pagi ia bawa untuk zila , masih ada di tempatnya tidak bergerak sedikitpun


Lemari pakaian ia buka , pakaian zila hanya tersisa beberapa lembar, tumpukan baju yang ia masukkan acak ke dalam lemari pun Hilang, Daffa duduk lemas di lantai kamar, ini yang membuatnya Kawatir sejak tadi, zila pergi lagi.


Daffa merogoh kantong celananya, mencari nomor Hana di sana, seingatnya zila meminta Hana untuk mengantarnya ke Bandung,


"Assalamualaikum Han"


"waalaikumsallam" jawab Hana dengan ketus


"Lo bareng zila yah"


"Gue aja belum ada kontek kontekan saa dia"


"serius Lo"


"jangan bilang zila kabur dari rumah" Hana mulai kawatir di sebrang sana


Daffa menutup telponnya secara sepihak, jika zila tidak bersama Hana lalu di mana zila, apa mungkin zila lagi lagi ke Bandung, tapi setau Daffa__mertuanya itu tidak ada di Bandung mereka masih di Korea, lalu kemana zila


Daffa mengacak rambutnya prustasi.


"Arrrrrgh" teriak Daffa


"angkat telpon nya Zil, maafin mas, angkat Zil" tapi Daffa tidak kunjung mendapatkan jawaban


Daffa berniat pergi memastikan keberadaan zila di Bandung, berharap istrinya itu ada di sana.


Tapi langkahnya tertahan dengan satu surat yang berada di atas meja rias zila. Daffa duduk di kursi yang biyasanya digunakan zila untuk berdandan maupun bekerja, kursi itu juga tempat Daffa mencari kesempatan untuk bermanja-manja dengan zila.


"aku pergi daf, aku ga di Bandung, jangan kasih tau siapapun, jangan buat mereka kawatir aku harap kamu ngerti maksud aku daf, setelah anak kita lahir, kita akan urus surat perceraian,maaf daf, aku ga bisa bertahan lagi, Aku mencintai mu daf", dan akan selalu mencintaimu, aku sadar Sampai kapan pun aku ga akan bisa mendapatkan balasan cinta dari kamu daf , ga akan pernah, keputusan ini akan menjadi awal yang baru untuk kita" I love you suamiku"


"ZILAAAAA" Daffa berteriak prustasi, barang barang yang tersusun rapi di atas meja rias zila terhambur dengan sekali tepis


...maaf ya kalo ada typo, belum sempat buat revisi lagi...

__ADS_1


__ADS_2