
flashback on
"Zil Lo kenapa__ muka Lo pucet banget sumpah"
"gua ga tau Han, dari kemaren gua pusing , terus nafsu makan gua juga hiling" zila merapikan barang-barang nya di atas meja, zila mengoleskan minyak angin aromatherapy di bagian lehernya, akhir akhir ini zila terus merasa pusing nafsu makannya juga menurun drastis, tubuh kecilnya semakin kecil sekarang.
Hana mengerutkan keningnya, Hana memegang dagunya menatap intens sahabat nya itu
"jangan jangan Lo hamil Zil?"
zila kaget dengan ucapan Hana, zila tidak berpikir jauh sampai ke sana selama ini , ia hanya mengira mual, pusing, hanya karena kelelahan saja, zila Sama sekali tidak memikirkan hal lain selain itu.
zila menggigit bibir bawahnya, entah perasaan apa yang zila rasakan sekarang , semuanya bercampur.
"hamil?"
"iya, Lo udah datang bulan belum"
"emm, gua ga merhatiin Han, gua bukan tipe orang yang ngitung masa datang bulan gua"
"kalo gitu Lo beli tes kehamilan aja dulu, jangan minum obat-obatan dulu, takutnya lo hamil bahaya"
"emm" keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong kantor tempat mereka bekerja, zila berjalan dengan tatapan kosong mengingat kembali kejadian satu bulan yang lalu, di mana Daffa masuk ke dalam kamarnya dan memperlakukan dirinya layaknya wanita murahan, sesak kembali zila rasakan mengingat kejadian menyakitkan itu, bahkan setelah Daffa menginjak injak harga dirinya__ sampai sekarang zila tidak pernah lagi dan tidak mau berusaha lagi merebut hati pria itu, zila pasrah dengan rumah tangganya, zila pasrah jika Daffa sewaktu waktu menceraikan dirinya, tapi jika zila benar benar hamil, seperti apa anaknya nanti , apa ia harus tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap.
Zila masih berpikir mungkin dia hanya sakit biasa, mereka melakukannya hanya sekali, itu pun sebentar, tidak mungkin kan ia langsung hamil, walaupun begitu zila tetap memastikan kebenarannya, dan di sini lah zila sekarang di dalam kamar mandi dengan tangan terkepal di belakang, memegang benda berbentuk putih panjang kecil , di mana sebelumnya zila sudah mengenai benda itu dengan air seninya, zila menarik nafas panjang dan ia buang perlahan.
dua garis yang berarti dirinya hamil, Tidak bisa di pungkiri rasa bahagia kini zila rasakan, ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di perut ratanya, ada bayi yang akan hadir di tengah kondisi rumah tangga nya yang bisa karam kapan saja.
zila mengelus perut nya yang masih rata, seutas senyum terlihat dari sudut bibirnya.
"Nak, kamu ada di dalam nak, walaupun nanti papah kamu ingin mamah pergi, ga masalah kan kita hidup berdua, Hem"
__ADS_1
Tanpa permisi air matanya jatuh, harusnya zila menunggu Daffa di depan pintu layaknya istri yang lain , dengan membawa hasil tes kehamilan di tangan nya sebagai kejutan untuk suaminya, tapi sayang__ hal itu tidak ada di Kamus rumah tangga nya dengan Daffa.
uweek
uweek
seluruh makanan yang ia makan tadi keluar, tubuhnya melemas, terduduk di lantai dingin kamar mandi, itu yang zila alami belakangan ini, sulit makan, kalo pun makan semua nya keluar lagi.
.....
Hari ini zila mendatangi klinik yang di rekomendasikan Hana , katanya klinik itu milik dokter lulusan terbaik di kampus nya.
setelah mengambil nomor antrian, zila di panggil masuk kedalam ruangan, pandangan nya menyusuri ruangan khusus wanita hamil itu, zila duduk di kursi yang sudah di sediakan, zila membolakan matanya setelah tau siapa dokter yang duduk di depannya,
"Mbak, Khaira fazila" ucap dokter mencari sesuatu di kertasnya, zila hanya mengangguk
"kehamilan keberapa"
"pertama dok"
"iya dok"
"nanti saya resep kan obat ya __biar mualnya berkurang, sekarang Mbak nya tiduran dulu biar saya periksa"
zila menurut dan berpindah ke atas ranjang
"Kalo bisa jangan kerja yang berat berat dulu ya mbak, kandungan nya masih muda, juga lemah, ada baiknya mbak banyakin istirahat aja dulu"
"iya dok" zila menatap lekat dokter kandungan nya, dokter itu yang sampai sekarang masih mengisi relung hati suaminya, dokter itu yang tidak pernah bisa ia gantikan kedudukan nya, Zahra Aulia, wanita yang berhasil membuat suami nya menutup rapat hati untuk dirinya.
"ini resep obatnya , mbak bisa tebus di depan"
"iya makasih dok, kalo gitu saya permisi dulu ya makasih"
__ADS_1
selesai membeli obatnya, zila mengendarai Sepeda motor nya , di jalan __zila terus memikirkan dokter yang memeriksanya tadi, zila tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Zahra, hubungan mereka tidak akrab, bisa di lihat seperti apa Zahra menyikapinya , dari gayanya __zila bisa menebak Zahra belum tau kalo dirinya lah yang sudah membuat Daffa tidak jadi menikahinya.
zila terus beristighfar di jalan, tadi hampir saja ia celaka, karena terus memikirkan Zahra, dan sampai lah ia di toko buah langganan nya, zila sangat ingin makan buah mangga, sebenarnya dari tadi malam ia ngidam buah mangga , tapi ia baru bisa membelinya Sekarang, tidak mungkin kan ia keluar malam mencari mangga , apa lagi meminta tolong Daffa untuk di belikan yang ada ia akan kena amukan Daffa karena berani memerintah nya.
Ketika memarkir kan motornya , zila bertemu Daffa yang baru saja keluar dari mobilnya, zila hanya menatap Daffa sebentar, tatapan nya dan Daffa bertemu, zila berjalan lebih dulu di depan, sedangkan Daffa di belakang. Mereka seperti orang asing yang tinggal di satu rumah, zila ke dapur sedangkan Daffa masuk ke kamarnya tanpa adanya obrolan apapun.
Zila memasukkan mangga yang ia beli ke dalam kulkas , sebenarnya sudah tidak tahan ingin memakan habis mangganya tapi zila belum sholat Dzuhur.
selesai dengan urusannya , zila kembali turun ke dapur dengan pakaian santai, rambutnya ia jepit ke atas beberapa anakan rambut nya keluar dari jepitan nya
zila mengupas 2 mangga sekaligus, sekarang satu mangkuk penuh mangga sudah tersaji di depan nya.
Zila memakan potong demi potong buah mangga nya, sekarang zila tidak perlu kawatir anaknya ngeces karena keinginannya sudah terpenuhi.
zila kembali ke kamarnya, akhir akhir ini tubuhnya mudah lelah, mungkin karena efek hamil.
baru saja ia menutup mata ingin tidur, zila di kejutkan dengan bunyi decitan pintu kamarnya__ ya , itu Daffa yang entah apa maunya pria itu, zila langsung merubah posisinya menjadi berdiri
"a__ada apa anda di kamar saya" Zila sedikit takut, terakhir kali Daffa masuk ke kamarnya malah membuat nya hamil, zila takut Daffa melakukan nya lagi.
Daffa tidak menggubris ucapan zila, ia tutup pintu kamar zila kasar, zila sampai kaget dibuatnya.
"a__ada apa, katakan"
"ini rumah saya, saya berhak kemana saja"
"tapi anda tidak pernah sudih menginjakkan kaki anda di kamar ini kan , setelah saya menempatinya"
Daffa melongo tidak percaya apa benar di depannya ini zila istrinya, zila wanita yang biasanya hanya pergi jika berhadapan dengannya , tapi hari ini zila malah mulai berani berdebat dengan nya
"Ga usah basa basi lagi, karena kamu belum juga hamil, ayo lakukan sekali lagi"
"lakukan sekali lagi?"
__ADS_1
"iya, membuat bayi"