Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
obrolan di atas ranjang


__ADS_3

Seperti biasa zila terbangun di jam 2 dini hari karena merasa tenggorokan nya kering, zila memicingkan matanya menyesuaikan cahaya remang di dalam kamar, zila merasakan perutnya di usap dari belakang.


"Daffa" Monolog zila


"Kamu bangun" Suara berat Daffa terdengar jelas di telinga zila


"Kenapa anda disini"


"Saya melupakan kunci kamar saya lagi"


"Apa saya membangunkan anda"


"Tidak, saya memang belum tidur"


"kenapa" Tanya zila heran


"kamu bilang kan, bayinya gerak pas malam, tidur pas pagi, makanya saya ga tidur buat nungguin anak kita bergerak di perut kamu"


"Saya juga tidak tau pasti daf, bayinya bergerak di waktu waktu yang tidak pasti, kebetulan hari itu malam__ saya baru ngerasa pergerakan dia"


"Jadi bayinya tidak begadang malam ini"


"emm, mungkin" jawab zila polos.


"Yaah, padahal saya sudah berusaha untuk tetap terjaga"


Zila mengelus lembut jemari Daffa, zila tau seberapa kecewanya pria itu, Hal itu membuat mata Daffa yang tadi sudah tertutup Karena ngantuk , kembali terjaga karena tangan nya di elus lembut sang istri, Daffa merasa mendapatkan lampu hijau dari zila mempererat pelukannya.


"Sebentar Daff, saya ingin merubah posisi" zila sedikit kesusahan merubah posisinya ,bukan hanya Karena perutnya yang semakin membesar, tapi juga karena tangan daffa yang tidak mau melepas nya sedikitpun.



Daffa juga merubah posisinya menjadi terlentang, di raihnya tangan zila untuk digenggam, tidak ada penolakan dari zila meski sejujurnya masih ada rasa ragu di hati nya.


"Zil"


"Hem"


"Apa saya boleh tau kenapa kamu mau menerima perjodohan kita"


"Kamu mau saya berkata jujur"


"tentu saja , saya ingin jawaban jujur"


"Karena saya mengagumi anda"


"sejak pertama kali anda mengenalkan diri sebagai ketua OSIS di sekolah" lanjut zila secara gamblang , zila berpikir untuk apa di tutup tutupi toh Daffa sekarang sudah menjadi suaminya.


benar tebakan sahabat nya, kalo zila menaruh hati untuknya. itu yang ada di pikiran Daffa sekarang.


" apa yang menarik dari saya?"


"anda pria pintar, jago bersosialisasi, berprestasi, Sholeh, dan saya ga pernah lihat anda berduaan dengan cewe , kaya 2 teman anda itu Siyapa namanya"


"Adam sama Erik"


"yaa itu, saya paling ga suka sama Erik"


"kenapa"


"Dia suka manggil manggil saya, saya ga suka"

__ADS_1


"Karena Erik suka sama kamu, dia tertarik sama kamu, di bilang kamu cantik, dan tertantang buat dapetin kamu"


Benar Erik memang menyimpan rasa buat zila, Erik pikir zila gadis yang berbeda dengan gadis yang lain, sikap tertutup dari zila menyimpan rasa kagum dan daya tarik tersendiri buat Erik, Erik juga tau kalo zila siswa yang berprestasi , Erik sendiri yang pergi ke kelas zila buat mencari informasi tentang zila.


mendengar apa yang Daffa katakan membuat mood zila berubah,entah apa yang di pikiran wanita itu, zila menarik tangan nya dari genggaman Daffa, Daffa tersentak kaget dibuatnya.


"Zila, kenapa, kamu marah"


"saya ngantuk, tidur lah"


"kamu marah yaa, kenapa"


Daffa memeluk zila kembali


"lepas, saya sulit bernafas"


"kamu marah kenapa Zil, kasih tau saya , biar saya tau, kalo kamu ga kasih tau gimana saya tau apa yang buat kamu marah"


Diam, zila diam, enggan menjawab pertanyaan Daffa, suasana hatinya berubah seketika.


"Zil"


"apa"


"Kamu marah karena saya ngebahas Erik"


"saya kan sudah jujur dengan perasaan saya , kalo saya sudah kagum dengan anda sejak pertama kali anda memperkenalkan diri, kenapa anda malah menyebut lelaki lain yang tertarik dengan saya, teman anda yang suka ngomongin saya di belakang, suka mengejek saya, suka ngata ngatain saya, apa karena anda ingin mengingatkan betapa tidak pantas nya saya untuk anda


"Enggak, bukan gitu maksud saya Zil"


"saya ngantuk, saya mau tidur"


Daffa mengusap wajahnya kasar, di sibaknya rambut panjang bergelombang nya kebelakang, Daffa mana tau kalo zila setidak suka itu dengan Erik, mana Daffa tau kalo membicarakan mengenai perasaan Erik ke zila bisa membuat zila semarah ini, Daffa hanya ingin ngobrol , berbagi kisah dengan zila, Tolong beritahu Daffa cara memahami wanita, sebegitu rumit kah wanita.


"Saya harus apa biar kamu ga marah lagi"


"cukup diam"


"tapi saya ga mau di diamkan"


"zilaaa" lirih Daffa prustasi


"Kalo soal Zahra gimana"


Daffa mengerutkan keningnya, Daffa yang tadi terlentang , beralih menghadap zila dan memeluknya dari belakang, kali ini zila tidak menolak.


"Jadi gimana"


"gimana apa Zil"


"Zahra?"


"Iya Zahra!! wakil ketua OSIS"


Daffa paham sekarang maksud istrinya,


"Kenapa harus Zahra Zil"


"kenapa harus Erik?"


"ok ok , kenapa sama Zahra" Daffa akhirnya pasrah, berdebat dengan zila malah akan membuat zila semakin marah

__ADS_1


"Anda dulu suka kan sama dia"


"Zil"


"iya apa engga"


"iya"


"kalo sekarang gimana"


"zila". nada suara Daffa mulai meninggi tapi tidak membentak, zila membalik badannya dan memeluknya, zila membenamkan wajahnya di dada bidang Daffa, tidak bohong Daffa bahagia melihat zila memeluk nya seperti ini



"ayoo cerita, saya penasaran, nanti anak saya ngeces Lo karena penasaran"


"emang gitu Zil?" Tanya Daffa bingung, setau Daffa kalo ibunya pengen makan sesuatu terus ga dituruti anaknya bisa ngeces , tapi zila kan minta di ceritakan mengenai sosok Zahra , kenapa anaknya bisa berdampak


"iya__ kan aku pengen dengar, ayo cerita"


"ok, ok" Daffa mengusap usap punggung zila, menarik nafas sebelum menceritakan mengenai Zahra


.


"Zil, saya Manusia biasa saya bisa jatuh cinta"


"iya saya juga Manusia biasa saya juga jatuh cinta, tapi sayang cinta saya bertepuk sebelah tangan" potong zila


"Zil kita ga usah ngomongin ini yah"


"iya ga usah, saya kira hati saya sudah kuat sekarang , tapi nyatanya tidak"


"Zil, kamu satu satunya sekarang,tidak ada yang lain"


"iya sekarang__bukan pertama, atau terakhir, engga tau nanti tanpa di ketahui pria itu, zila tertawa miris di dalam dekapan nya.


Daffa juga hanyut di dalam pikirannya, kalimat yang zila ucapkan Selalu terbayang di kepala, Daffa mempererat pelukannya. Daffa tidak bisa memastikan perasaan nya sekarang, tapi Daffa bersungguh sungguh akan memulai nya dari awal.


Daffa mengelus pelan Surai panjang milik zila, keduanya merasa nyaman dengan posisi mereka yang saling berbagi kehangatan di dalam pelukan, meskipun di dalam kepala mereka , sedang bertarung mati Matian.


"Zil sudah tidur"


"belum"


"kenapa"


"Ya, ga papa"


"Daf"


"Hem"


"sampai sekarang saya masih berasa mimpi kalo saya menikah sama anda, laki laki yang saya idam idamkan sejak sekolah, cinta pertama saya dan saya berharap anda lah cinta terkahir saya, iya itu harapan saya waktu tau ayah menjodohkan saya dengan anda, tapi setelah menikah kenapa saya ragu"


Daffa yang sedari tadi mengelus lembut zila , terhenti mendengar ucapan zila, daffa melonggarkan pelukannya menatap wajah zila yang terlihat sayu, daffa bisa melihat wajah istrinya dengan jelas, wajah wanita yang selalu ia buat menangis, wanita yang selalu ia bentak, wanita yang tidak pernah ia ingin kan kehadiran nya, daffa mengerti, mengerti betul kenapa zila berkata seperti itu.


"maaf kan saya"


"maaf Zil"


"maaf"

__ADS_1


Daffa kembali merangkul tubuh wanita itu. lisannya tidak henti hentinya mengucap istighfar, atas apa yang pernah ia lakukan pada istrinya sendiri, wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu untuk anaknya.


__ADS_2