
...Dan pada akhirnya aku menyerah, bertahan lebih lama dengan masa lalu yang belum usai itu menyakitkan...
Dengan tatapan kosong zila berjalan , sudah cukup jauh dari sekolah nya, pikirannya melayang kemana-mana, ia tidak lagi menghiraukan penampilannya yang sudah acak acakan itu.
Rasa sakit di perutnya pun ia abaikan, rasa sakit itu tidak seberapa dengan rasa sakit di hatinya.
Zila memberhentikan taxi untuk pulang ke apartemen. keputusannya sudah bulat , berpisah dengan Daffa
.....
Daffa memukul setir mobil menyesali perbuatannya, berkali kali ia menghubungi ponsel zila, tanpa sadar ponsel itu berdering di dalam mobilnya sendiri.
perkataan wanita tadi mengenai zila terus berputar di kepalanya, tidak bisa ia bayangkan seperti apa keadaan zila sekarang, Daffa masih berusaha menepis segala kemungkinan , Daffa masih berharap tidak terjadi apa apa dengan istrinya.
karena tidak menemukan zila di manapun, Hana akhirnya menuju apartemen Daffa, berharap sahabat nya itu sedang istirahat atau makan di rumah dengan keadaan baik baik saja.
sesampainya di apartemen , zila menaiki kembali anak tangga untuk sampai ke kamarnya di lantai 2, zila mengeluarkan koper berukuran lebih besar dari sebelumnya, dengan susah payah__zila menarik koper itu turun melewati setiap anak tangga.
"Nak, kita pergi yah, jangan cari papah kamu yah, kita hidup berdua aja , biarin papah bahagia sama Tante Zahra ya, sekarang mamah ga perlu apa apa lagi, ada kamu kan yang selalu Nemenin mamah, janji ya nak" zila mengusap perutnya , zila duduk sebentar di kursi yang sengaja Daffa letakkan di depan pintu kamar tamu untuk zila, katanya sih biar zila kalo capek langsung bisa duduk, zila tersenyum miris mengingat perkataan Daffa
zila kembali masuk ke dalam kamar ruang tamu, tanpa melepas dari gantung nya, abaya, baju baju panjang ia masukkan secara acak ke dalam koper, Poto pernikahan dengan bingkai kecil di atas meja ia lempar Hingga pecah membentur dinding.
tangisan zila pecah, ia terduduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menutup wajahnya.
Terdengar pintu yang terbuka cukup keras
"zila"
"sayang__kamu di rumah" teriak Daffa
zila menutup rapat telinga nya, suara Daffa , panggilan sayang Daffa, sungguh melukai perasaannya.
"sayang" panggil Daffa lirih
"jangan mendekat, satu langkah Lo maju , gue pastiin Lo ga akan bisa lihat anak Lo seumur hidup" zila menatap tajam Daffa, dengan mata yang memerah bengkak, darah di sudut bibirnya sudah mengering, tidak lama Hana, Erik , Juga Zahra datang
Daffa kembali mencoba mendekat , tapi zila melempar alat pengering rambut yang tergeletak di atas kasur ke arah Daffa
__ADS_1
"GUE BILANG JANGAN MENDEKAT" zila menunjuk wajah Daffa
"sayang kamu kenapa, ada apa dengan kamu Zil, jangan bikin mas kawatir"
"ARGHHH, DIIIIIAAAMMMM, "
zila kembali melempar pajangan berbentuk Monas dengan bahan kaca, hadiah yang Daffa beri untuknya beberapa hari yang lalu, ia lempar ke lantai, Hingga pecahan nya mengenai punggung kakinya,
"Zil, tenang jangan seperti ini"
"GUE UDAH BILANG SAMA LO KAN, CEREIN GUE, LO BISA NIKAH DENGAN NYA" zila menunjuk Zahra yang berdiri di samping daffa
"zila" panggil Hana
"Jangan ke mari Han, tunggu gue di luar ya , gue mau balik ke Bandung Lo bisa kan nganter gue"
"iya Zil, gue bakalan antar Lo" hana tidak sanggup lagi sekarang, Melihat kondisi zila yang memprihatinkan, Hana menuruti perkataan zila, menunggu di ruang tamu bersama Erik
zila melanjutkan memasukkan baju bajunya ke dalam tas
"zila" panggil Zahra
"Zila sudah sering minta cerai sama Daffa karena belum bisa lupain mbak, tapi Daffa nya ga mau dan terus mengumbar janji ke zila, andai kami berpisah kalian ga perlu melakukan dosa seperti itu kan, zila juga ga bakal berharap lebih ke Daffa"
"Zila" air mata Daffa jatuh, dengan hati hati mendekat ke arah zila,
"GUE BILANG JANGAN MENDEKAT"
"sayang ini ga seperti yang kamu kira"
"Daf, gue di tampar daf, gue ga tau salah gue apa ke dia, Lo di mana daf, Lo di mana kenapa ga Dateng buat lindungin gw daf, gw istri Lo daf, BUKAN DIA "
zila menunjuk Zahra yang sudah terduduk di atas lantai, dengan tangan mengatup di depan dada
"Lo tau nggak, gw sama ana Lo kelaparan, tapi kami berdua ga bisa makan kalo hanya berdua daf, gw nyariin lo, dan gw justru liat Lo nyuapin perempuan lain , sakit daf, sumpah, aku ga bohong sakit" zila memukul mukul dadanya yang terasa sesak. Daffa mencoba meraih tangan Zila
zila memperlihatkan luka di tangannya akibat cengkraman wanita penggoda di sekolah
__ADS_1
"coba lihat, tangan gw daf, kuku kuku mereka menancap__ke kulit gw daf, sakit banget, Lo bisa nggak ngobatin nya"
Daffa mengelus pergelangan tangan zila yang memerah juga berdarah.
" Duduk yah, biar mas obatin"
zila menarik tangan nya, dan kembali memasukkan baju bajunya
"ga perlu, gw akan mengurus surat perceraian kita" dengan nada datar
" zila jangan gini Zil, kamu salah paham Zil, Daffa cuman bantuin mbak" lirih Zahra
"bantuin dengan dengan memberikan rasa nyaman ke mbak, sedangkan aku tersakiti, IYA__ itu yang mbak maksud" Zahra Hanya bisa menggeleng dengan air mata yang menggenang
"mbak tenang aja, setelah kami resmi bercerai kalian bisa menikah setelah nya"
"GAK, AKU , GA MAU KITA BER CERAI"
zila tidak peduli, di turunkan nya koper dengan susah payah, Daffa menahan ketika zila mulai menarik kopernya
"aku, ga akan biarin kamu pergi"
"lepas, gue mau pulang, gue bakalan minta ayah buat ngurus surat perceraian kita, Lo tinggal tanda tangan aja"
"ga, sampai kapan pun aku ga akan biarin kamu pergi"
zila ambruk membelakangi Daffa, sungguh zila tidak sanggup lagi, terlalu sakit jika di tahan sendiri, Daffa mendekati zila merengkuh tubuh zila ke dalam pelukannya, Zahra keluar membiarkan zila menenangkan diri bersama Daffa
"zila berteriak di sela tangisannya, melepaskan semua beban di pikirannya, dengan kedua tangan yang menutup wajah, zila terisak, Daffa juga tidak sanggup menahan sesak Mendengar isakan perih zila, Daffa mempererat pelukannya , mengusap punggung zila yang sudah naik turun menahan tangisannya
"jahat banget ya Allah" lirih zila
"maaf"
"Kamu di apain sama mereka ziil"
"sakit yang mereka berikan ga seberapa dengan rasa sakit yang Lo kasih daf, gw Malu di hadapan mereka, mereka benar sampai kapan pun gw ga akan bisa mendapatkan cinta lo daf, ga akan pernah"
__ADS_1
Daffa menggeleng, menenggelamkan wajahnya ke celuk leher zila
"Enggak Zil, enggak mereka salah, mereka ga ngerti"