Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Sayang


__ADS_3

Ok kita percepat aja kali yaaa cerita nya takut ceritanya makin ke sana makin ke sini kalo kebanyakan bab.


...


Tidak terasa kandungan Kiya sudah masuk usia ke 7 bulan, bukan waktu yang mudah Kiya melaluinya, kondisi yang naik turun membuat Kiya harus lebih ekstra menjaga kandungannya, pernah sekali Kiya benar benar berada di kondisi tidak stabil, untungnya ada zidan yang benar benar menjadi suami yang siaga untuk Kiya, sampai Kiya melupakan suaminya tidak lah lagi setia akan janji pernikahan mereka, Kiya hanya ingin lebih fokus dengan kandungannya, tanpa memikirkan hal lain


Pernah saat usia kandungannya masuk ke bulan ke empat, Kiya mengalami pendarahan hebat, karena pikirannya yang terus terbagi dengan zidan, Kiya tidak ingin lagi memusingkan hal itu, terserah zidan ingin melakukan apa, Kiya tidak lagi ingin mengambil pusing, asal jangan sampai Kiya melihat dengan mata kepalanya zidan dengan wanita yang masih menjadi misteri di hubungan mereka, Kiya tidak nya ingin melabrak wanita itu , Kiya hanya tidak yakin bisa menahan emosi juga hatinya.


"Lucu banget sih anak ibu , masyaallah sudah besar di dalam sana ya nak, udah suka nendang nendang ibu__iyaa, mau ngajak main yaa, anak ibu, buah hati ibu, kesayangan ibu, kebanggaan ibu" Kiya mengelus perut buncitnya, Zidan yang baru masuk melihat sang istri dengan senyum di wajahnya, zidan mendekat, merangkul pinggang naera, tangannya mengelus elus perut buncit sang istri.


"kebanggaan ayah juga Buu, kesayangan ayah, cintanya ayah, buahati ayah" Kiya sedikit memutar tubuhnya menatap zidan yang ikut masuk ke dalam kamar.


"dia nendang ya Kii"


Kiya mengangguk, ia meletakkan tangan nya di atas tangan Zidan. Zidan berpindah duduk berjongkok di depan Kiya, posisinya di sama kan dengan perut buncit sang istri, mengelus lembut dengan sudut bibir terangkat membentuk senyum.


"anak ayah suka nendang istri ayah yah, hemm, nakal yaa, mainnya tendang tendangan, awas aja yaah kalo tendangannya bikin istri ayah ngeluh sakit, nanti kalo keluar ayah jewer loo telinga nya"


Kiya sungguh mencintai pria di depannya ini,Kiya amat sangat berharap bisa hidup dengan waktu lama bersama nya, walaupun nanti sikap zidan berubah kembali, hati Kiya tersayat mengingat kondisinya yang benar benar tidak dapat bertahan lebih lama lagi, bahkan dokter Korea yang memeriksanya pertama kali mengatakan, jika kiya hanya bisa bertahan hidup selama tiga atau 4 bulan lagi, karena penyakitnya yang sudah akut, tapi Alhamdulillah, Kiya bisa bertahan sejauh ini akan kehendak Allah, jodoh, maut rejeki sudah ada yang mengatur, Kiya percaya akan hal itu.


Allah tidak akan pernah salah menentukan takdir terbaik untuk hambanya, hanya menunggu waktu yang tepat saja, jika kebahagiaan itu belum berpihak pada hambanya.


Kiya mengelus rambut zidan lembut, ia tersenyum meskipun hatinya sakit, Kiya tidak dapat pastikan apa mereka bisa hidup bersama, menua bersama, merawat dan membesarkan anak mereka bersama, Kiya tidak tau itu, Kiya hanya ingin menghabiskan waktu terindah bersama mereka, selagi waktu masih berpihak padanya.


Zidan mendongak menatap sekilas wajah sayu istrinya.


"kamu kenapa Kii, Hem?"


"ha_hah, nggak papa, aku sayang kamu zii"


"Aku juga" zidan memberikan ciuman bertubi-tubi di perut buncit Kiya, ia berdiri menyibak rambutnya yang mulai memanjang, sebenarnya zidan tidak suka dengan model rambut seperti itu, menurut Zidan bikin susah, zidan lebih suka potongan rambut sederhana, tapi karena permintaan Kiya , akhirnya zidan memanjangkan sedikit rambutnya.


"kenapa sedih, lagi mikirin apa sih?" Zidan memeluk istrinya, meski sekarang sudah agak susah karena perut Kiya yang besar.


"nggak papa zii, aku senang aja"


"Awas aja kalo lagi nutupin sesuatu, sampai aku tau kamu nyimpan sesuatu dari aku, aku gak akan bisa terima kamu lagi" ancam zidan

__ADS_1


"iyaa sayang nggak ada ko, aku kan sudah bilang aku senang"


Zidan mengurai pelukannya, ditatap nya dalam wajah sang istri.


"kenapa liatin aku kaya gitu sih, aku jadi risih tau, diliatin gitu"


"cuman mau mastiin kejujuran kamu "


"jadi gimana, aku jujur atau bohong "


"emm" zidan merubah mimik wajahnya menjadi bingung, seolah sedang berpikir keras akan jawaban dari pertanyaan Kiya.


"emm"


"cup" satu kecupan zidan berikan di bibir ranum Kiya, zidan tidak bisa menahan senyumnya, melihat keterkejutan sang istri.


"zidaaan, bikin aku kaget ajaa ah, aku dah serius Lo nunggunya "


kekehan kecil terdengar dari zidan, ia suka melihat sang istri yang kesal seperti ini, zidan memang lebih suka bercanda akhir akhir ini


"lucu banget sih kamu Ki" zidan mengelus pucuk kepala Kiya yang sudah kesal dengan tingkah nya.


Zidan mengikis jarak di antara mereka, ia terus menatap wajah Kiya, perlahan wajah kesal itu berubah salah tingkah karena zidan terus menatapnya.


Kiya merasakan jemari zidan yang sudah menyatu dengan jemari tangan nya.


"ayoo makan__aku dah laper"


"a__ayoo" Kiya mengira zidan akan melakukan hal lebih lagi, ternyata pria itu hanya ingin mengajak nya turun untuk segera makan, tapi zidan mampu membuatnya salah tingkah seperti tadi, mungkin sekarang wajah Kiya sudah berubah memerah karena Zidan.


"kenapa muka kamu merah Ki, kamu pakai pemerah pipi itu yaa, tapi kapan, kayanya tadi normal aja tuh"


"ah__hah, a__apa enggak ko" Kiya menangkup pipinya yang terlihat lebih berisi.


Zidan paham betul ada apa dengan sang istri, kejahilan zidan kembali berulah, ia mengecup lagi pipi Kiya yang tepat berada di wajahnya, Kiya membolakan matanya tidak percaya, bukan nya apa , zidan sering melakukan hal itu padanya, hanya saja waktunya yang tidak tepat, jantung Kiya rasanya ingin lepas dari tempatnya sekarang.


"mauu gini terus , atau aku bawa kamu ke atas ranjang, sudah lama juga loo kota nggak ngelakuin ituu" zidan memang suka menjahili istrinya, Kiya sampai terbelalak mendengar penuturan sang suami

__ADS_1


"zidaaaaan"


Zidan kembali terkekeh mendengar respon kiyaa, satu tangannya kembali mengusap pucuk kepala Kiya


"lucu banget sihh, aku cuman Bercanda sayang"


blus


sayang, kalimat itu sangat jarang di ucapkan seorang zidan, jadi jangan heran Kiya jadi tersipu malu saat mendengar nya dari mulut pria di depannya ini.


Kiya tidak merespon ucapan zidan, tidak juga ingin beranjak dari sana, menatap wajah zidan seperti ini sudah bagaikan candu untuknya, menyenangkan.


"ayooo ah, aku lapar" zidan menarik tangan Kiya, mereka bergandengan tangan menuju dapur.


...


Kiya menyendok nasi ke piring zidan, ia meletakkan lauk juga sayur yang tadi di masaknya, kiya juga melakukan hal yang sama di piringnya.


Kiya menuang air dari teko ke gelas, satu gelas ia dekatkan ke arah zidan.


"makasih Ki"


"emm, makan yang banyak zii"


'iyaa__ kalo enak aku bakalan nambah " sebegitu gampang nya memang zidan membolak-balik perasaan Kiya, tadi di ambung ambung, sekarang di hempasan lagi.


Kiya sudah merubah wajah nya datar, terlalu malas meladeni zidan yang mulai berulah.


"bercanda sayang, makanan kamu enak, gak pernah gagal deh kalo masak" zidan melihat perubahan wajah istrinya dari bahagia menjadi datar


"jangan marah yaa gak baik buat anak kita kalo ibunya sering marah kaya gini, anak kita bisa jadi pemarah nantinya "


"makanya kamu jangan mancing mancing "


"iyaa__iyaa"


^^^^^^cerita ini memang dari awal aku pengen buat pendek aja gak panjang, takut alurnya ke sana kemari, jadi kita percepat aja yaa, sedikit lagi tinggal beberapa bab.^^^^^^

__ADS_1


^^^LOVE sekebon ^^^


__ADS_2