Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Maaf


__ADS_3

Entah mungkin karena kelelahan atau merasa nyaman dengan pelukan Daffa, zila akhirnya mulai tenang, yang Awalnya duduk di lantai dengan keadaan yang berantakan.


Daffa yang tidak tega melihat keadaan zila Memindahkan nya duduk di atas kasur, daffa melepaskan kerudung zila yang sudah tidak berbentuk itu, zila sudah tenang tapi masih terdengar isakan di sana, Daffa juga sudah meminta teman teman nya untuk pulang, awalnya Hana menolak tapi setelah di bujuk__ Hana akhirnya ikut pulang dengan Erik.


Daffa merapikan wajah zila yang sebab karena menangis, diusapnya sisa air mata yang masih menggenang di ujung mata, sudut bibir zila yang berdarah ia bersihkan dengan pelan, zila hanya menatap Daffa dengan tatapan kosong.


Daffa mengusap pipi zila dengan kedua tangan nya, pipih berisi yang selalu ia cubit gemas di pagi hari.


air mata Daffa kembali jatuh, rasa bersalah kian menghantuinya, ia seorang suami tapi lalai menjaga istrinya, malah berduaan dengan wanita lain dengan alasan membantu nya


Daffa berpindah ke belakang zila, menyisir pelan rambut zila yang sudah berantakan, di ikatnya rambut zila menggulung ke atas,


Daffa turun dan keluar dari kamar, tidak lama ia kembali dengan nampan di tangan nya, zila sama sekali tidak merubah posisinya, jangan kan merubah__ bergeser saja tidak , tatapan nya pun kosong, sungguh Daffa Kawatir dengan keadaannya.


Daffa memposisikan dirinya duduk di depan zila


"Makan dulu yah, kamu belum ada makan kan"


Daffa mengarahkan sendok nya ke mulut zila, tidak ada penolakan, zila membuka mulutnya, membiarkan Daffa menyuapinya. Setelah sadar dengan apa yang Daffa lakukan dan ingat dengan perlakuan daffa saat bersama Zahra, zila menepis tangan Daffa yang ingin kembali menyuapinya.


Nasi juga lauk yang ada di sendok itu berhamburan di atas kasur, daffa tidak marah, Daffa memungut nasi nasi yang berceceran itu, Daffa kembali mencoba mendekatkan sendok ke mulut zila, tapi lagi lagi wanita itu menepis kuat tangannya.


Daffa menghela nafas panjang,


Zila merampas Piring dari tangan daffa, zila tidak ingin egois dengan tidak makan, ada bayi yang juga butuh asupan darinya.


Daffa Hanya bisa memandangi zila yang memutar tubuhnya untuk membelakangi nya.


Selagi menunggu zila makan, Daffa membereskan kamar yang sudah seperti kapal pecah, pecahan kaca di mana mana, Daffa juga menemukan cincin pernikahan entah kapan zila lepasnya dari jari manisnya.


Daffa menyimpan cincin zila di saku celananya, dan kembali membersihkan kamar.


Karena waktunya sholat Dzuhur__ Daffa bersiap untuk ke masjid dan berpamitan Seperti biasa dengan zila, tapi zila tidak seperti biasanya, zila acuh mengabaikan kehadiran Daffa dan ucapannya

__ADS_1


"Zil, mas ke masjid dulu yah"Daffa pasrah dan berjalan keluar, zila juga turun untuk melaksanakan sholat zhuhur, rasa perih ia rasakan dari sudut bibirnya saat berwudhu


Zila mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, selesai __zila menggelar sajadahnya untuk sholat, selesai sholat zila tumpakan semua rasa kecewanya, rasa sakitnya di hadapan sang khalik.


Zila melanjutkan dengan mengaji seperti biasanya, satu lembar ke lembar yang lain, tanpa sadar dengan kehadiran Daffa yang sejak tadi memperhatikannya.


Daffa ikut duduk di samping zila, zila tidak menoleh sedikit pun , mengabaikan Daffa dengan rasa bersalah, Daffa menghapus air mata yang jatuh di mata istrinya, Daffa tau seberapa terlukanya zila karena sikapnya


"Jangan menangis lagi Zil, itu hanya salah paham, mas cuman mau nolongin Zahra, ga ada maksut apapun"


zila semakin terisak, mendengar ucapan Daffa, sesakit ini rasanya, mengharap cinta dari sang suami yang ta kunjung ia dapatkan, yang ada malah Melihat sendiri suaminya memeluk wanita yang membuat dirinya tidak mendapatkan cinta dari Daffa.


"zila, jangan diam aja Zil, jangan kaya gini" Daffa memeluk zila , bingung harus seperti apa menjelaskan semuanya pada zila.


isakan zila terhenti, zila berusaha berdiri, meski Daffa masih merengkuh tubuhnya, Daffa yang sadar zila ingin berdiri, melepas pelukannya dan membantu zila untuk berdiri


zila meletakkan Qur'an juga Merapikan alat sholat nya, zila mematikan lampu kamar, hingga kamar gelap gulita, gorden kamar ia tutup rapat hingga ta ada sedikit pun celah cahaya untuk masuk, lampu tidur yang biasa ia nyalakan pun zila biarkan mati. zila tidak tau kapan Daffa ikut berbaring di sampingnya, yang pasti__ zila merasakan tangan Daffa sudah melingkar di perutnya, zila bahkan memaksa memutar tubuhnya agar membelakangi Daffa,


Zila menutup telinga nya, panggil sayang Daffa, malah semakin membuatnya sadar dengan Daffa yang tidak pernah tulus untuknya,


"Aku tuh capek daf, capek sama bayang bayang masa lalu kamu, aku ga bisa gini terus, aku ingin egois, aku ingin hanya ada aku buat kamu, tapi kamu ga bisa kan, sesulit itu kah?"


Zila bisa merasakan gelengan Daffa di belakang nya.


"Maafin mas, mas cuman mau bantu Zahra, ga lebih"


"Sampai lupa sama aku yang juga kelaparan nunggu kamu balik, yang katanya nyariin air buat aku , tapi malah berduaan dengan mbak Zahra, iyaa?"


"Aku menyerah daf, aku ga bisa, aku ga bisa terus di hantui masa lalu kamu"


"gak, mas ga akan biarin kamu pergi"


"TERUS KAMU MAUNYA APA" Zila menjauhkan tangan Daffa dari atas perutnya dengan kasar

__ADS_1


Daffa tersentak dengan perlakuan zila, Daffa kembali merengkuh tubuh zila, kakinya mengunci kaki zila


"mas sayang sama kamu Zil"


"Hahaha" zila tertawa miris mendengar ucapan Daffa, apa katanya__ sayang!!!


Daffa mengerutkan kening. bahkan mengangkat wajahnya untuk melihat wajah istrinya


"Kamu bilang sayang?, ga salah daf!"


"Sayang, sayang, basi" lanjut zila


"Sejak awal juga kamu ga pernah mau kan menikah dengan ku, kamu membenci ku, memperlakukan aku layaknya wanita murahan, hingga akhirnya aku mengandung, andai aku ga pernah mengandung mungkin kamu sudah menendang aku jauh dari hidup kamu"


"Aku sudah pernah bilang kan, andai kamu ga pernah ngasih harapan buat aku, aku juga ga akan nuntut kamu buat jadiin aku satu satunya buat kamu, aku akan sadar diri dan siap buat pergi kapan aja saat kamu minta, tapi_ _"


Zila menarik nafas, dan di buang nya perlahan, menahan agar air mata tidak jatuh lagi membuat dadanya sesak. Daffa hanya diam, mendengar semua ucapan zila


"Tapi kamu berubah sejak aku hamil, walaupun perubahan itu aku rasain saat usia kandungan ku 4 bulan, semua kata kata manis kamu , semua janji kamu , semua sikap manis kamu berhasil buat aku melayang daf, sampai aku lupa sikap kamu itu hanya karena adanya anak di dalam perutku, aku lupa posisi ku di samping kamu, aku lupa , kamu yang ga pernah menganggap aku, hal itu yang membuat aku lebih sakit lagi daf, andai kamu ga pernah ngasih harapan aku akan sadar posisi aku daf"


"Harusnya aku bisa sadar posisi aku, aku hanya wanita yang ga pernah bisa di cintai oleh suaminya, ga akan pernah daf" Zila terisak, sungguh istri mana yang bisa terima, jika rumah tangga nya masih di bayang Bayangi masa lalu.


Daffa hanya diam, Semua ucapan zila sulit ia bantah selain kata maaf, Daffa menyadari semua kesalahannya.


"Hus, jangan menangis lagi Zil, iya aku salah __aku minta maaf, ga seharusnya aku nolongin Zahra yang hampir pingsan Karena kelaparan, harusnya aku biarin dia pingsan di sana"


" yaa, dan ga seharusnya kamu peluk dia, kamu bisa merasakan rasa sakit yang Zahra alami, tapi kamu sendiri selalu ngasih aku luka di hati karena sikap kamu, APA KAMU PEDULI HAH!!, enggak pernah kan"


" Zahra kelaparan kamu tolongin , ngasih makan di suapin, sedangkan aku harus nahan lapar nunggu kamu balik biar kita makan bareng , aku bahkan sudah nyiapin makanan kamu daf, ternyata suami aku lagi sibuk nyuapin masa lalunya"


"Miris banget ya jadi aku, harus hadir di tengah tengah hubungan kalian"


"kami ga punya hubungan Zil"

__ADS_1


__ADS_2