
"Zil, kamu kenapa sayang" Hana memutar bola matanya malas, jengah Mendengar ucapan Daffa, Hana tidak tau masalah apa yang terjadi di rumah tangga sahabatnya, tapi ucapan zila sebelum pingsan sudah cukup membuktikan , Hana yakin jika zila begitu kecewa dengan Daffa.
"Dokter Daffa, saya pamit dulu ya" Raka mengulurkan tangan nya untuk berpamitan, dengan berat hati Daffa menerima uluran tangan Raka dan mengangguk mengiyakan.
Selang beberapa menit zila belum juga sadar, Daffa dan Hana masih setia menunggu zila, Hana duduk di sofa yang ada di ruangan zila, sedangkan Daffa duduk di samping ranjang zila
"Han, gua titip zila bentar ya, gua ada operasi sekarang, nanti gua langsung balik kalo udah selesai"
"iya, santai aja, gua bakalan di sini sampai zila siuman"
tidak lama __Daffa pamit untuk melakukan operasi , zila sadar dari pingsannya.
"Zil, gimana perasaan Lo , ada yang sakit"
"ko gua bisa di rumah sakit Han "
"tadi di kantor Lo pingsan"
"Emm, Lo yang bawa gua ke rumah sakit"
"iya, di bantu pa Raka"
zila lama merespon apa yang Hana katakan, Raka ?, raka yang menolongnya, zila membolakan matanya pikiran pikiran tentang raka yang menggendong nya ke rumah sakit berputar di kepala, Hana sadar kekwatiran di wajah sahabatnya
"tenang, beliau yang bawa kita ke rumah sakit, gua sama karyawan cewe yang ngebopong Lo"
akhirnya zila bisa bernafas lega, zila tidak bisa membayangkan Raka yang membopong tubuhnya,
"Daffa ?"
"Tadi dia ada__ terus, katanya ada operasi jadi dia minta gua jagain Lo"
"emm"
"Han, apa yang gua ucapin di kantor tadi anggap angin lalu aja yah"
"iya, Lo belum makan mau gua suapin"
"nanti aja"
Hana juga tidak bisa memaksa zila, kalo zila sudah bilang nanti ya nanti, Hana membantu zila merubah posisinya menjadi setengah duduk, Tidka lama Daffa kembali lagi dengan pakaian yang menandakan dirinya seorang dokter. karena Daffa datang, Hana kembali ke kantor masih banyak pekerjaan yang ia tinggalkan tadi.
Daffa duduk di samping zila, daffa merapikan anakan Rambut zila yang keluar dari kerudungnya.
"kenapa" daffa bertanya dengan lembut, tangan nya masih merapikan kerudung zila yang sedikit berantakan, zila hanya menggeleng __bingung sebenarnya dengan pertanyaan Daffa,
"Mau makan" kalo tadi zila menolak Kali ini zila mengangguk, Daffa melepas jas nya, ia letakkan di atas nakas, Daffa meraih makan siang yang di siapkan pihak rumah sakit untuk zila, dengan telaten Daffa menyuapi zila.
"sedikit lagi Zil" zila menggeleng.
"mau pulang" zila merengek, bau obat obatan membuat nya mual,
"kamu belum pulih sayang"
"Sayang, sayang, Gedeg gw denger nya" zila menggerutu , tapi tidak di dengar Daffa
"Kamu mikirin apa sih, kamu tu lagi hamil , ga baik banyak pikiran kaya gini"
"Ya gua mikirin Lo daf" dalam hati
__ADS_1
Zila hanya diam enggan menanggapi ucapan Daffa, tapi di dalam hati sudah memakai maki pria di depannya.
"Zil"
"apa"
"jangan diam aja , jangan bikin aku Kawatir __sayang"
harusnya zila senang di panggil sayang, tapi sekarang kata sayang yang Daffa ucapkan justru membuat hatinya sakit, panggilan sayang dari Daffa yang dulunya membuat hati zila berdesir tidak karuan, sekarang panggilan itu terasa menyakitkan untuk di dengar.
Zila menundukkan pandangannya tidak sanggup untuk menatap wajah Daffa, zila kembali membaringkan tubuhnya, tangan nya mengusap perutnya, mengabaikan Daffa yang duduk di samping nya
"zila"
"apa sih daf" sekarang zila perlu Ketenangan, siapapun bantu zila memberitahukan Daffa kalo sekarang zila tidak ingin di ganggu
"jangan kaya gini Zil, kamu mau aku kaya gimana"
"aku mau kamu lupain Zahra, ga bisa kan yaudah , jangan tanya terus aku pusing" wanita itu menutup matanya, bukan karena ngantuk, Hanya ingin menghindari tatapan Daffa, yang tidak lepas menatap nya
"jika Dengan melupakannya membuat hati kamu sakit, pergilah bersamanya, cari kebahagiaanmu dengan nya, karena terus bertahan dengan ku justru membuat mu semakin terluka begitupun dengan ku" lanjut zila
"enggak, gak jangan ngomong gitu Zil, Jangan" Daffa menggeleng memohon agar zila mengerti keadaan nya
"Aku sudah berusaha Zil, aku lakukan semua demi kamu, tapi kamu sendiri yang buat aku kepikiran dia lagi"
"jangan salah kan aku daf, harusnya kamu sadar, kamu tu sudah punya istri, hamil lagi, apa pantas di kepala kamu itu ada cewe lain, kalo bukan kamu sendiri yang terus terusan ngasih harapan buat aku , aku juga ga akan nuntut kamu lupain Zahra, rumah tangga kita ga harus banyak drama kaya gini daf, tapi kamu __ " zila tidak bisa melanjutkan ucapannya, terlalu sakit membahas wanita yang sampai sekarang masih mengisi hati suaminya sendiri.
apa yang zila katakan berhasil menampar Daffa, tidak tau seperti apa cara menenangkan wanita yang terbaring lemas di atas ranjang nya, Daffa lebih memilih ikut berbaring di atas ranjang zila , yang memang ukuran ranjang zila hampir seluas kasur di rumah nya.
"jangan marah lagi ya" Daffa berbisik di telinga zila
"Daf , turun nanti ada yang datang"
"ga mau" dengan nada manja
jengah juga zila lama lama , zila pasrah , membiarkan daffa melakukan apa yang ia mau, kalo Daffa sudah mode manja seperti ini, zila tidak tahan untuk membiarkan tangannya menganggur , zila Paling suka mengusap rambut Daffa, salah satu cara membuat nya berhenti marah dengan Daffa.
"Zil"
"Hem"
"Aku ga pernah ngerasain rasa nyaman , selain tidur di pelukan kamu Zil"
"maksud kamu , kamu pernah tidur di pelukan wanita lain " sarkas zila, usapan nya terhenti di kepala rambut Daffa
"eng _ _ engga gitu maksudnya sayang"
"ga gitu apa nya jelas jelas kamu bilang gitu"
Daffa mendongak menatap wajah zila dari bawah
"maksud aku , aku ga pernah ngerasain rasa nyaman selain tidur memeluk kamu kaya gini sayang, rasa lelah aku seharian kerja hilang gitu aja"
"Banyak alasan kamu"
"enggak sayang aku sungguh sungguh "
__ADS_1
"terserah, aku ngantuk mau tidur, kamu ga ada niat pindah ke sofa __sana"
"enggak aku mau tidur di samping kamu"
drett
drett
drett
"daf, itu hp kamu"
"bukan, hp ku ada di saku,hp kamu kali"
"coba ambilkan hp ku di tas"
Daffa bangun dari tidurnya meraih tas zila di atas nakas, Daffa mencari benda pipih milik istri nya itu, benar saja ada panggilan tidak terjawab di sana, yang membuat Daffa berpikir sejenak, nama yang menghubungi istrinya" Zahra"
"siapa daf"
"Zahra" Daffa memberikan ponsel itu ke tangan zila, sedangkan ia kembali tidur.
"mbak Zahra" monolog zila
"astaga" zila baru ingat hari ini jadwal periksa nya, pasti wanita itu menunggunya sekarang
"kenapa"
"hari ini jadwal periksa , aku lupa ngabarin mbak Zahra"
"ooh" Daffa hanya berooh ria,
zila meletakkan benda pipih nya di telinga, setelah mencari kontak Zahra
"assalamualaikum mbak"
^^^"waalaikumsallam Zil, kamu ko ga ke klinik Mbak tunggu Lo dari tadi"^^^
"maaf mbak zila lupa ngabarin, zila di rumah sakit"
^^^"kamu kenapa Zil, kamu sakit, atau lagi jenguk seseorang"^^^
andai zila bisa melihat betapa kawatir nya wanita di sebrang sana mendengar dirinya ada di rumah sakit
"tadi zila pingsan mbak, cuman kecapean aja"
^^^"kamu bilang cuma Zil, kamu pingsan Lo, kamu hamil Zil, itu bisa berpengaruh ke kandungan kamu"^^^
zila menatap perutnya, dengan Daffa secara bergantian, pria itu tidak mengeluarkan suara apapun, mungkin tidur pikir zila
"maaf mbak, zila sudak bikin mbak Kawatir, tapi zila sudah mendingan ko mbak"
^^^"syukurlah Zil, kamu ga boleh banyak pikiran ingat , ga boleh setres"^^^
"iya mbak"
^^^"kalo gitu mbak tutup telpon nya dulu ya Zil, ada. pasien"^^^
"iya mbak, assalamualaikum"
__ADS_1
^^^"waalaikumsallam "^^^