Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
ehemm


__ADS_3

Daffa mulai bekerja seperti biasa berusaha bertanggung jawab pada pekerjaannya seperti janjinya dengan zila, walaupun sekarang ia bekerja di rumah sakit kecil__tidak mengurangi semangat Daffa di dalam ruang operasi


zila membantu daffa mengeringkan rambut, sedangkan Daffa mengancing bajunya.


selesai di keringkan zila, Daffa menata rambutnya, sedangkan zila sudah lebih dulu ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Sayang, hp aku di mana"


"di laci mungkin"


"ga ada loh ini"


"cari dulu yang benar daf, aku lagi siapin sarapan"


"sudah sayang, tapi nggak ada "


zila menghela nafas, kompor terpaksa ia matikan dulu, kesal juga mendengar Daffa teriak teriak mencari hp nya yang jelas jelas ada di atas nakas


tuh kan benar hpnya ada di atas nakas samping lampu kecil, entah seperti apa Daffa mencarinya, benda sebesar itu sampai tidak kelihatan di matanya


"Tadi aku sudah nyari sayang, tapi jujur ga ada hp di situ"


"terus kamu mau bilang di rumah kita ada hantu, yang bisa Mindah mindahin barang gitu, orang jelas jelas hpnya ada ,kamu nya aja yang ga benar nyarinya"


zila meninggalkan Daffa, yang kebingungan dengan terus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jelas


jelas tadi ia sudah mencari di atas sana tapi tidak ada apapun, Daffa menggeleng karena pikirannya mulai melayang kemana-mana.


Daffa duduk sambil memperhatikan zila yang mengisi piring dengan nasi.


"sayang"


"emm" jawab zila singkat fokusnya masih pada piring di depannya


" Singkat banget jawabannya"


" iya kenapa suamiku tercinta" zila menatap Daffa dengan senyum di wajahnya, daffa Sampai terkekeh melihat respon istrinya


" Mau iku ke rumah sakit nggak"


"ngapain" zila duduk di depan Daffa


"kenalan aja sama rekan kerja ku di sana"


"engga ah males"


"kenapa sayang, kamu ga bosen di rumah terus"


" Enggak lah, aku mah sudah terbiasa daf"


"Terbiasa dengan apa?"

__ADS_1


"kesendirian"


Ok Daffa merasa ucapan zila menyinggung sikapnya yang dulu.


"Kalo sekarang gimana"


"gimana apanya" zila menyendok nasi ke mulutnya, kemudian menatap Daffa sekilas dan kembali fokus dengan makanannya.


"gimana sekarang masih merasa sendiri nggak sih"


"emmm gimana yah"


zila mengangkat Piring nya berdiri berjalan mendekati Daffa duduk untuk di samping Daffa, zila menyuapi daffa yang memang sejak tadi tidak menyentuh makanan nya , zila jadi kesal juga padahal Daffa sebentar lagi harus bekerja.


" makan sayang, jangan ngomong terus dong"


Siapapun tolong Daffa , sekarang ingin rasanya daffa terbang mendengar panggilan sayang zila.


zila Secara bergantian menyuapi makanan ke Daffa dan dirinya sendiri.


"kamu juga makan yang banyak"


"kamu nyuruh aku makan banyak daf, ga Liat aku sekarang gimana bentuknya, kamu sengaja ya ngingetin aku tentang bentuk badan ku yang kaya gini"


waduh kenapa zila bisa berpikir sejauh itu, jujur Daffa tidak pernah berniat menyinggung mengenai perubahan bentuk tubuh istrinya itu, Daffa tulus meminta zila makan yang banyak, tapi kenapa wanita itu justru mengarah ke bentuk tubuhnya, emang yah wanita itu memang sangat sensitif mengenai bentuk tubuh.


"enggak sayang, enggak sama sekali" Daffa menggenggam tangan zila, zila melepaskan genggaman tangan daffa karena ia kesusahan makan jika daffa terus memeganginya


Daffa kembali membuka mulutnya setelah zila mengarahkan sendok ke sana, tapi tatapan nya terus memandangi wajah sang istri yang terlihat datar


"sayang"


" kamu ga marah kan sayang"


"marah?, kenapa aku harus marah, orang aku lagi makan sambil nyuapin suami kesayangan ku ini"


"belajar dari mana sih kamu , jadi pintar ngegombal kaya gini"


"emm dari mana yah"


cup


Daffa mencuri satu kecupan di pipi kanan zila, bukan cuman itu, Daffa juga mencubit gemas pipi gembul zila, zila hanya pasrah menerima perlakuan Daffa.


"sayang banget aku sama kamu Zil"


"aku juga, bedanya kamu sayang nya semenjak ada mahakarya kamu di perut aku , kalo aku mah jauh sebelum kamu jadi Suami aku"


"loh ko mahakarya"


"terus, aku harus bilang utung ku ini buah cinta kita?, orang jelas jelas kamu bikinnya ga ada cinta cintanya sama aku, untung aja Tuhan langsung titipin dia setelah malam itu, jadi aku ga perlu merasakan sakit untuk kedua kalinya" zila berucap sambil mengusap perutnya

__ADS_1


"maaf" Daffa meraih tangan Zila, ia cium berkali-kali kemudian menarik zila kedalam pelukannya


"Mau di ulang" Daffa tersenyum jahil , tangan nya ia letakkan di atas tangan zila


"ngulang apa"


"proses pembuatan utung"


zila bersandar di kursi, setelah meneguk minumannya


"Enggak ah, proses pembuatan utung kemaren Sangat menyakitkan, baik raga juga batin ku utungnya juga sudah jadi"


"sakit banget yah sayang"


"menurut kamu" zila menutup matanya, merasakan usapan Daffa di perut nya mampu membuatnya ingin tidur


"Maaf yah, gara gara aku paginya kamu ga bisa jalan"


"ga usah minta maaf, orang sudah kejadian juga, hasilnya juga sudah hampir keluar"


Daffa membalik kursi zila agar menghadap sempurna di hadapannya, tangan nya ia telusupkan di belakang leher zila, zila yang tadinya memejamkan matanya, sekering membola sempurna karena kelakuan Daffa


perlahan Daffa mengikis jarak di antara mereka dan bibir Daffa berhasil menempel sempurna di bibir merah ranum milik zila


kali ini bukan hanya menempel, mereka saling bertukar rasa, menutup mata merasakan sentuhan demi sentuhan yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.


Tangan Daffa mulai turun meraba punggung zila, bergerak abstrak di sana


perlahan penyatuan bibir itu terhenti, Daffa menurunkan kecupan nya di sekitar perpotongan leher zila, zila sampai menutup mata merasakan sengatan di sekujur tubuhnya setelah Daffa mendaratkan bibirnya di sana


"daa_ _ _ daf, jangaaan"


"Kenapa" tanya Daffa dengan mata yang Mulai berkabut dan suara berat


"Kamu harus bekerja daf"


"pulang kerja Gimana"Daffa mengusap bibir zila dengan jari jempolnya


zila menggeleng, sedangkan Daffa mengerutkan keningnya Bingung


"kenapa" tanya Daffa heran


"tunggu utung kita lahir, aku ga mau di kenapa kenapa"


"jadi aku harus puasa lagi niyh"


"iyaah" setelah berucap singkat, zila mengelus kepala Daffa dan berdiri membawa piring bekas makan nya di pencucian, Daffa memajukan bibirnya dan bersandar di kursi kesal, lagi lagi ia harus menahan hasratnya yang sudah ia tahan lama demi sang anak.


"sudah ga usah cemberut itu liat udah mau jam 8 kamu mau duduk aja ga mau kerja "


"aku ga mau kerja sebelum dapat sesuatu dari kamu" zila mengeringkan tangannya setelah mencuci piring dan kembali berjalan mendekati Daffa

__ADS_1


cup


satu kecupan mendarat di bibir Daffa, zila juga melakukan hal yang biasa Daffa lakukan, setelah bibir zila mengecup pipi kanan dan kiri Daffa secara bergantian


__ADS_2