
Zidan duduk di samping Kiya, tangan nya sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk
"kamu nggak lapar Ki"
Kiya menggeleng dengan posisi masih membelakangi zidan,
"Nggak mau makan sesuatu"
lagi lagi Kiya hanya menggeleng, zidan ikut tidur di samping Kiya, dengan posisi terlentang, Kiya bergeser sampai tangan nya bisa melingkar sempurna di perut sang suami.
Zidan mengelus punggung tangan Kiya,
"zii"
"Hem"
"kalo misalnya aku pergi lebih dulu dari kamu, apa kamu akan dengan mudah melupakan ku dari hidup mu"
"maksutnya"
"kalo aku di panggil duluan sama Allah, apa kamu bisa dengan cepat melupakan aku dari hidup kamu zi"
"kamu ngomong apa sih, gak jelas banget"
"kurang jelas ya zi, kalo misalnya a___"
"iya __iya aku akan mudah melupakan kamu terus mencari perempuan lain yang lebih baik, yang lebih cantik, terutama gak pembangkang seperti kamu"
sebenarnya zidan tidak suka mendengar pertanyaan Kiya, pertanyaan aneh macam apa itu.
"ziii"
"itu kan yang kamu mau dengar dari aku"
"segampang itu ya zi"
"kenapa harus sulit melupakan perempuan kaya kamu, aku bisa dapatkan jauh lebih baik daripada kamu"
"Semua tentang kita?"
"iya__semuanya"
"semua kenangan tentang kita, apa nggak akan pernah ada artinya untuk mu zi, semua yang sudah kita lewati bersama "
"iyaa"
"udah ah, aku ngantuk mau tidur, jangan ngajak ngomong lagi"
Terlalu sakit mendengar kejujuran sang suami, wanita itu sudah tidak dapat lagi membendung air matanya, Kiya melepaskan pelukannya, merubah posisinya jadi membelakangi Zidan, sedangkan pria itu merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia katakan pada sang istri, zidan tau sekarang wanita itu sedang menahan tangisannya, sebenarnya Zidan ingin berbalik memeluk wanita yang sedang hamil muda itu, tapi lagi lagi Zidan urungkan, ia tidak ingin membuat Kiya besar kepala akan sikap manisnya.
Kiya tidak tidur, ia terus menatap tembok dengan warna putih polos, Kiya juga tidak menangis, ia hanya diam dengan isi kepala yang begitu berisik di dalam sana.
"semudah itu ya zi, semudah itu kamu lupain aku zii, semua tentang kita kau anggap tidak berarti" batin Kiya.
...
melihat istrinya berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntakan isi perutnya, Zidan mengekor di belakang, Zidan mengusap punggung wanita itu, di oleskan nya minyak angin aromatherapy di punggung sang istri
__ADS_1
kaki Kiya melepas__ tubuhnya kehilangan banyak tenaga akibat muntah tadi, zidan memapah tubuh Kiya, ia dudukan wanita itu di kursi makan
"minum dulu"
Kiya meneguk habis air yang ada di gelas, pahit dapat ia rasakan dari sisa makanan yang ia Muntahkan.
"makasih zii"
Zidan menyeka sudut bibir sang istri, ia juga mengusap air mata yang jatuh ke pipi Kiya
"Sudah mendingan "
wanita itu terlalu lemas, tenaganya terkuras untuk memuntakan isi perutnya, Kiya tak sanggup lagi hanya sekedar menjawab pertanyaan Zidan, hanya anggukan kepala yang Kiya berikan, Kiya merebahkan kepalanya di atas meja, sedangkan sang suami terus mengusap tengkuk Kiya menggunakan minyak angin aromatherapy.
"kamu siap siap aja zi, kamu harus kerja, aku sudah nggak papa ko"
"nggak papa apanya, orang kamu pucat banget kaya gini, berdiri aja susah"
"aku serius zi, aku nggak papa, ini sudah mendingan ko"
Zidan merogoh sakunya meraih benda pipih di dalam sana, Zidan mengerutkan keningnya melihat nama yang tertera di panggilan itu, panggilan itu berhenti karena Zidan tak kunjung mengangkat panggilan nya
"siyapa zi, ko nggak di angkat" Kiya masih di posisi yang sama
"teman kerja" jawab Zidan seadanya, Zidan mengoleskan minyak angin ke punggung Kiya, mengusap punggung wanita itu dari balik bajunya.
lagi lagi panggilan yang sama Zidan dapat kan, Zidan mendengus kesal kemudian berdiri berlalu dari sana
Kiya bisa melihat pria itu berjalan keluar rumah, tidak lupa__ Zidan juga menutup pintunya
"aku kan sudah pernah bilang jangan hubungin aku, kalo aku sedang ada di rumah" belum sempat seseorang yang ada di sembarang mengucap salam Zidan lebih dulu memulai nya dengan emosi
"kenapa__ kamu mau apa" tanya Zidan selembut mungkin
"mas__ bisa temani aku malam ini nggak, nginep di rumah ku"
"jangan bercanda kamu sha"
"aku serius mas, aku takut sendirian di sini, mbok ati pulang kampung __anaknya sakit"
Zidan menyibak rambutnya ke belakang, kepalanya rasanya ingin pecah mendengar permintaan dari wanita itu, bagaimana mungkin ia meninggalkan istrinya yang juga sangat membutuhkan kehadiran nya
"mas!!"
"nanti aku kabarin kalo aku bisa nginep di sana, tapi aku nggak janji, kamu tau sendiri kan, Kiya sedang mengandung, aku harus selalu ada untuknya"
"iya mas aku mengerti, tapi aku juga membutuhkan kamu di sin mas"
"iya sha aku paham, aku ngerti, tapi kamu juga tau kan aku punya istri yang sedang mengandung, aku nggak bisa ninggalin dia begitu aja, aku nggak bisa"
"iya mas maaf, nggak seharusnya aku minta sesuatu yang kaya gitu ke kamu"
"jangan meminta maaf, aku akan usahakan tapi aku nggak janji sama kamu sha"
"sudah dulu, aku harus berangkat kerja, nanti aku kabarin lagi, dan satu lagi, jangan menelepon ku berkali kali seperti tadi, Kiya bisa curiga, kamu ngerti kan sha, aku nggak mau Kiya tau tentang kita"
"iya mas , aku ngerti, maafin aku yaa mas, udah ngerepotin kamu"
__ADS_1
"Hem, nggak papa, itu sudah tanggung jawab aku, ya sudah kamu mau aku bawain apa kalo pulang "
"buah apel mas"
"kalo gitu aku tutup assalamualaikum "
"waalaikumsallam "
"ziii" pria itu tersentak mendengar panggilan Kiya
"k__kiya, kamu dari tadi ya berdiri di situ, kamu mendengar apa yang aku bicarakan" Kiya menggeleng
"aku baru aja membuka pintu zii" zidan kembali bisa bernafas dengan lega
"kenapa__ ada masalah ya di kampus "
"hah, en__enggak ko"
Zidan masuk ke dalam rumah lebih dulu.
...
Kiya membantu Zidan memasang dasinya,
"mau di bawakan apa kalo aku pulang "
"emm, dari kemaren malam aku pengen banget makan martabak telor zi"
"dari tadi malam "
"iyaa"
"kenapa nggak bilang, Kenapa baru bilang sekarang, kamu mau bikin anak kita ngeces karena ulah kamu"
"maaf zi, aku cuman nggak tega bangunin kamu"
"ya sudah nggak usah di bahas lagi, kalo mau sesuatu langsung bilang aja, nanti aku bawakan martabak nya"
"tapi aku nggak mau martabak zi"
Zidan menyeringai bingung
"tadi kamu bilang mau martabak telor "
"iyaa__itu tadi malam, hari ini aku mau yang lain"
terlalu lelah memang mengurus ibu hamil seperti ini
"terus kamu mau apa"
"aku mau makan ayam goreng mentega, tapi lagi malas masak "
"ya udah nanti aku belikan, kamu istirahat aja di rumah "
"iyaa" Kiya memberikan tas kerja Daffa dan meraih tangan sang suami
"aku pergi dulu assalamualaikum "
__ADS_1
"waalaikumsallam hati hati zi" dengan senyum yang tidak pernah luntur kiya menunggu mobil Zidan sampai tidak terlihat lagi barulah ia masuk