
"Sudah sayang, itu sudah banyak istirahat sana, kamu gak capek"
"iyaa ini yang terakhir janji" Daffa hanya bisa menurut saja, jika pun di paksa yang ada dirinya sendiri yang bisa kena marah, Daffa Hanya bisa membantu zila menata piring dan perlengkapan makan lainnya di atas meja, ingin ikut membantu memasak__takutnya masakannya tidak sesuai dengan apa yang di inginkan istrinya.
"sayang kenapa" sungguh Daffa Kawatir wajah zila seakan menahan nyeri tangan kirinya terus mengusap perutnya"
"perutku keram"
Daffa mendekap tubuh zila dari belakang, mengusap perut sang istri dengan kelembutan, sesekali Daffa juga membubuhkan ciuman di pundak sang istri, zila menyenderkan kepalanya sambil menikmati usapan lembut Daffa di permukaan perutnya.
melihat perjuangan zila saat mengandung seperti ini, membuat Daffa teringat lagi semua perlakuan buruk yang ia lakukan dulu, belum lagi saat zila melahirkan nanti __ia harus mempertaruhkan nyawanya untuk kelahiran bayi yang mereka tunggu, Setega itu ia menyakiti wanita yang rela mempertaruhkan segalanya demi lahirnya bayi kecil di keluarga mereka
Sudahlah semua sudah menjadi kenangan, dan pelajaran untuk dirinya, sekarang Daffa harus bisa menjadi suami terbaik untuk zila, ingin memperbaiki hal yang lalu pun tidak akan bisa.
Daffa masuk ke dalam kamar setelah sholat Dzuhur di masjid seperti biasa, Daffa ikut bergabung tidur dengan zila yang ketiduran selepas sholat, zila tidur dengan posisi terlentang, Daffa tidur dengan menghadapnya, daffa Merapikan anakan rambut zila yang berantakan, di tatapnya dalam wajah sang istri, seulas senyum nampak terukir indah di raut wajahnya. Daffa benar benar sadar Jika ia sungguh mencintai zila, menyayangi nya setulus hati.
"Maafin semua kesalahanku Zil, maaf, aku mencintaimu zila, aku ga akan bisa hidup tanpa kamu"
zila menggeliat mungkin karena usapan tangan Daffa di perutnya.
"Daffa" zila memincingkan mata, memastikan Daffa yang tidur di sebelahnya
"Hem"
"Mamah papah belum datang yah"
"belum sayang"
"jam berapa sekarang" zila mengusap lembut rambut Daffa yang tertidur memeluk erat tubuhnya
"baru jam 2 lewat, sayaaang"
"emm"
ponsel milik Daffa di atas nakas berdering, Nama mamah tertulis jelas di atas layar ponselnya, Daffa mengusap layar dengan posisi masih sama seperti sebelumnya.
"assalamualaikum kenapa mah"
"waalaikumsallam nak bisa jemput mamah papah nggak__ di bandara"
Daffa menatap zila, seakan meminta ijin sebelum mengiyakan permintaan sang mamah
"Iya mah ini Daffa langsung berangkat"
__ADS_1
"maaf ya nak ngerepotin"
"enggak mah, yaudah yah, ini Daffa mau pergi"
"iya nak assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
"sayang kamu ikut yah, aku ga tenang kalo ninggalin kamu sendiri"
"enggak usah daf, aku capek banget hari ini, kamu aja yang jemput yah, ga papa kan"
"ya udah kamu hati hati yah di rumah, aku jemput mamah papah dulu"
zila Hanya menganguk mengiyakan
..
sebenarnya __jujur , Daffa begitu kawatir meninggalkan zila sendiri di rumah, entah ada apa sebenarnya tapi akhir akhir ini ia ingin selalu dekat dengan wanita hamil itu. seperti sekarang pikirannya terus memikirkan istrinya yang hamil sendirian di rumah.
tidak tahan akhirnya daffa meraih ponselnya dan mencari nomor sang istri, untung saja zila langsung mengangkat telpon
"assalamualaikum sayang"
"masih di jalan sayang, aku kawatir makanya nelpon kamu"
"ya Allah daf, tenang aku ga papa ko, pasti langsung ngabarin kalo ada sesuatu, jangan nelpon pas lagi di jalan, nanti ga fokus __bahaya"
"ya udah, aku lanjut jalan dulu yah, kamu hati hati, assalamualaikum"
"waalaikumsallam"
ada rasa lega setelah mendengar suara sang istri yang baru 15 menit ia tinggalkan itu, berlebihan memang tapi perasaannya juga tidak bisa bohong, Daffa sungguh mengkhawatirkan zila, mungkin karena sebenar lagi zila melahirkan, takut jika sang istri tiba tiba kontraksi mendadak.
Di rumah __zila mulai gelisah perutnya sebenarnya sudah nyeri sejak tadi hanya saja ia tahan dan memberitahu Daffa perutnya hanya keram seperti biasa, zila duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Daffa __juga mertuanya yang sudah ia tunggu sejak semalam.
matanya terpejam merasakan nyeri yang tak kunjung berhenti di perutnya, sesekali zila menggigit bibir bawahnya menahan sakit, keringat juga sudah bercucuran di sekitar keningnya, seakan pendingin ruangan tidak berguna hadirnya.
dengan bertumpu pada punggung kursi __zila berusaha berdiri, niatnya ingin mengambil ponsel di dalam kamar untuk menghubungi Daffa, tapi karena pegangannya yang tidak terlalu kuat membuatnya jatuh terduduk di atas lantai.
zila hanya bisa meringis kesakitan, air matanya jatuh seketika, punggungnya terasa remuk, rasa takut kian menjadi setelah zila melihat darah mengalir di area betisnya.
"Daffaaa"
__ADS_1
...----------------...
di perjalanan pulang __Daffa mulai gelisah, sejak tadi ia menghubungi ponsel zila tapi tak kunjung di angkat.
"Mungkin zila tidur nak"
"enggak mungkin mah, tadi sebelum jemput kalian, Daffa sama zila tidur siang bareng, zila juga bilang bakal nungguin di ruang tamu" kekwatiran terpancar jelas di raih wajahnya, Daffa menyibak rambutnya prustasi, menatap layar ponsel yang terus mencoba menghubungi sang istri.
"kamu tenang dulu nak, mungkin zila di kamar mandi" Sekarang sang ayah yang mencoba menenangkan.
Dengan kecepatan tinggi daffa mengendarai mobilnya, sebenarnya ke-dua paruh Bayah yang ada di dalam mobil ketakutan melihat Daffa membawa mobil seakan tidak peduli dengan pengendara lain, tapi mereka mengerti kekwatiran anak semata wayangnya itu.
sesampainya di parkiran, daffa berlalu lebih dulu tidak membantu orangtuanya menurunkan barang bawaan, tidka juga sekedar berbalik, sungguh perasaan daffa tidak karuan sekarang, apa yang terjadi dengan istrinya sampai tidak mengangkat Panggilan nya, semoga apa yang orangtuanya katakan benar, istrinya mungkin ketiduran karena kelelahan.
bunyi dift pada pintu menandakan pintu apartemen terbuka, alangkah terkejutnya daffa melihat sang istri dengan wajah pucat menatap nya, genangan air mata membuat hati Daffa teriris melihatnya, Daffa belum menyadari cairan merah yang mengalir di betis istrinya
"daffaa, sakiit" lirih zila
"sayang kamu kenapa" Daffa berlari cepat, menggendong tubuh zila, setelah Nya daffa sadar cairan merah yang mengotori lantai
"Daffaa__ tolong__ sakiit banget, perut akuu"
"iya sayang iya, kita kerumah sakit sekarang"
"Daffa zila kenapa nak" Teriak Dewi dari ambang pintu
"gak tau mah, kita bawa zila ke rumah sakit mah"
"nak, istri kamu pendarahan"
Daffa bisa merasakan pegangan zila di baju bagian belakangnya terlepas, Daffa di buat Semakin kawatir , zila kehilangan kesadarannya, wajahnya pucat seakan darah berhenti mengalir di tubuhnya,
"sayang, sayang, zilaa, bangun, jangan buat aku kawatir zilaa" Daffa terduduk di lantai memastikan keadaan zila, menepuk pipi zila yang mulai mendingin.
"zilaaa, bangun"
"Daffa kita harus bawa zila ke rumah sakit sekarang nak"
...----------------...
Daffa mondar mandir di depan pintu ruangan zila, karena pendarahan yang zila dapatkan ia harus melahirkan secara Caesar untuk menyelamatkan nyawanya juga bayinya, sudah 2 jam lebih Daffa menunggu.
......................
__ADS_1
...maaf kalo banyak typo...