Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Kopi caramel kesukaan zidan


__ADS_3

Zidan dan Kiya baru saja sampai di Korea, lelah sudah pasti mereka rasakan, Zidan sama sekali tidak membantu Kiya membawa barang bawaannya, Zidan hanya menggeret koper miliknya sendiri ia sama sekali tidak ada niat atau sekedar menawarkan bantuan.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Kiya menarik koper berukuran besar itu sendiri, dari tangan yang lain tidak ia biarkan menganggur, kiya membawa satu tas besar berisi oleh oleh yang Zidan beli saat di Indonesia.


"Zidan kamu mau makan"


Pria itu mengacuhkan pertanyaan Kiya, ia yang tadi tidur terlentang berubah menjadi membelakangi Kiya


"Zidan mau aku masakan sesuatu"


"KALO MAU MASAK YA MASAK AJA, NGGAK USAH BANYAK NANYA, PAHAM GAK SIH AKU CAPEK"


wanita itu hanya bisa menelan salivanya mendengar bentakan Zidan, Kiya kembali ke dapur untuk membuat sesuatu.


Kiya bahkan tidak mengganti pakaiannya, ia langsung memasak makanan kesukaan suaminya, padahal pinggangnya seperti ingin lepas dari tempatnya.


Tidak ada keluhan yang keluar dari mulut indah wanita itu, ia terus memasak Dengan cinta, berharap masakannya itu bisa di terima suaminya.


Selesai sudah masakannya, kiya duduk bersandar di kursi makan, tengkuknya terasa kaku, entahlah mungkin karena sudah terlalu mengantuk Kiya sampai tertidur di sana.


Zidan yang sudah rapi dengan baju koko nya, keluar menuju dapur , ia melihat Kiya yang ketiduran di meja makan, di tatapnya dalam wajah sang istri yang ia nikahi satu tahun lalu itu.


dulu Zidan begitu mencintai kiya, Zidan berharap bisa terus bersama dengan Kiya , tapi karena satu peristiwa membuat kepercayaan Zidan hilang begitu pula dengan cintanya pada Kiya


"Harusnya kamu nggak lakuin, yaa, harusnya kamu nurut apa kata aku, kalo kamu nurut kan hubungan kita pasti akan baik baik aja, rasa benci ini tidak akan pernah muncul" Zidan meraup oksigen dengan kasar, begitu pusing memikirkan keadaan rumah tangganya yang begitu pelik.


Zidan menatap nanar masakan yang sudah Kiya susah payah masak, Zidan mengambil piring juga sendok, Zidan mengakui masakan istrinya sangat enak tidak kalah dengan masakan ibunya


Semua yang kiya masak adalah makanan kesukaan Zidan, ada ayam sambal bawang juga tempe Orek.

__ADS_1


Mungkin karena bunyi sendok dari Zidan , membuat Kiya terjaga dari Tidur tidak nyamannya, Kiya menetralkan pandanganya hal pertama ia lihat Zidan , suaminya yang sedang menikmati masakannya. Kiya membenarkan posisi duduknya, ia tatap Zidan dengan tatapan sendu.


"Mandi sana, liat badan kamu kucel kaya gitu" suara Zidan memecahkan lamunan Kiya, ia tapa dirinya dari pantulan cermin lemari.


"Gimana enak nggak"


"B aja"


Sakit, sudah pasti, Kiya hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan sesak di hati, sebegitu teganya Zidan mengatakan hal itu padanya, tidak tau kah Zidan perjuangan Kiya membuat itu semua hanya untuk mendapatkan perhatian Zidan, tapi sedikitpun Zidan tidak menganggapnya


"Mau nambah nasi nggak" Kiya kembali menawarkan, tapi justru tatapan dingin mengintimidasi yang ia dapatkan dari Zidan


Kiya lebih memilih menjauh dari sana dari pada tetap menemani Zidan yang jelas tidak menginginkan hadirnya.


Di kamar , Kiya duduk di depan meja riasnya menatap dalam wajahnya, terpancar jelas kesedihan dari manik indah milik kiya, hanya ada penyesalan yang selalu menghantuinya, andai saja ia mendengar apa yang Zidan katakan, kalo saja ia tidak membantah apa yang Zidan perintahkan, semuanya tidak akan serumit ini, kiya kehilangan sosok pria yang begitu mencintainya, Kiya kehilangan Zidan, pria yang sangat menyayanginya.


...


Selesai membersihkan diri , Kiya kembali ke dapur, niatnya ingin makan bersama Zidan tapi nyatanya pria itu sudah menyelesaikan Makannya hanya tertinggal piring kotor dan sisa makanan milik Zidan.


Kiya tidak langsung makan ia membuat kan kopi kesukaan Zidan , kopi Carmel yang selalu Zidan minum setiap malam saat mengerjakan yang tidak selesai. Kiya membawa kopi itu ke ruang kerja Zidan. pria itu terlihat sangat berwibawa dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.kiya meletakkan kopi buatannya di meja Zidan


"KAMU BISA MIKIR NGGAK SIH, BERAPA KALI LAGI ALU BILANG, JANGAN LETAKKAN DI SINI, LETAKKAN DI SANA, APA KAU TIDAK MENGERTI BAHASA YANG AKU GUNAKAN, HAHHHHH"


Kiya terperanjat kaget saat Kopi buatannya melayang karena Zidan dengan emosinya melempar kopi itu hingga pecah


"z__zidan, Kenapa kopinya di lempar, aku bisa pindahkan ke tempat yang kamu minta, nggak seharusnya kamu lempar kaya gini"


"Keluar dari ruangan ku"

__ADS_1


"tapi zi___"


"KELUUARRR" Kiya menutup matanya sesaat, ia tidak keluar ia justru memunguti pecahan gelas yang Zidan lempar tadi.


karena kurang hati hati membuat jari tangannya terkena serpihan kaca,


"aww, sakit" Zidan sebenarnya kawatir tapi ia di kalahkan oleh ego , Zidan sama sekali tidak membantu Kiya, padahal luka yang Kiya dapatkan lumayan besar, Kiya tetap membersihkan pecahan kaca itu meski tangannya terus mengeluarkan darah.


Sebelum seutuhnya keluar dari ruangan Zidan ,Kiya berhenti sesaat tepat di samping pria itu, kemudian berucap


"Sebegitu bencinya kah kamu denganku Zi?, apa nggak ada lagi maaf untuk ku"


Zidan bungkam dan terus menyibukkan dirinya dengan laptop yang menyala, Kiya akhirnya Keluar dari ruangan itu, Kiya meremas dadanya yang kian sesak karena ulah suaminya, mati Matian kita menahan agar air matanya tidak keluar di hadapan Zidan, tapi sayang air mata itu keluar juga, terlalu sesak rasanya mendapat perlakuan kasar dari pria yang begitu ia cintai.


kiya kehilangan selera makannya, ia membersihkan bekas makan Zidan dan kembali ke kamarnya, Kiya lebih memilih duduk di balkon kamar menikmati langit malam yang begitu indah


Kiya menghapus air matanya yang lancang turun tanpa di perintah, tidak ada isakan di sana.


mendengar bunyi pintu yang di tutup membuat Kiya mengangkat kepalanya, Zidan , pria itu baru saja kembali ke kamar, Zidan menutup gorden kamarnya padahal ia melihat ada Kiya yang duduk di balkon.


Kiya hanya bisa menyunggingkan senyum miris melihat perlakuan Zidan yang begitu menyayat hati.


Kiya juga masuk setelahnya, ia ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Zidan, mereka tidur saling membelakangi.


Mungkin sekarang Zidan bisa tidur dengan nyenyak tapi tidak dengan Kiya, matanya enggan terpejam.


masalah keluarganya terus berputar di kepalanya, entah sampai kapan ia mampu bertahan dengan Zidan,entah kapan ia berhasil merebut Zidan nya kembali, entah kapan ia bisa kembali merasakan kasih sayang Zidan.


Kiya begitu merindukan Zidan nya yang dulu, sekarang Kiya hanya bisa berdoa dan berusaha, hasil akhirnya ia serahkan semuanya pada sang maha kuasa.

__ADS_1


__ADS_2