
"Kiya, aku ingin kamu malam ini" Kiya mengangguk, ia cium Qur'an miliknya, ikut bergabung dengan Zidan di atas kasur , Kiya duduk dengan kaki terlipat ke belakang di hadapan Zidan.
Zidan mengelus lembut wajah Kiya, Kiya bisa merasakan bulu halus di tubuhnya mulai berdiri.
Zidan mengikis jarak di antara mereka, menyatukan bibir mereka, Zidan memulai permainannya, kiya hanya bisa duduk pasrah dengan apa yang Zidan lakukan padanya, Zidan menuntun tubuh Kiya untuk berbaring, di lepasnya tautan kancing piyama yang Kiya kenakan, Zidan juga membuka bajunya sendiri, kembali ia melakukan penyatuan bibir mereka.
"ok adegan ini kita skip ygy"
seperti biasa Kiya bangun di jam 4 subuh, sekujur tubuhnya terasa sakit apalagi di pusat tubuhnya, karena ulah Zidan tadi malam, pria itu bahkan tidak memberikan jeda di sela permainannya.
Meskipun lelah, Kiya harus bangun, membersihkan diri dari sisa permainan mereka, Zidan masih tertidur pulas di bawah selimut tebal, Kiya meraih baju miliknya yang Zidan lepas entah kemana, tidak enak juga jika ia harus berjalan tanpa sehelai benang ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri , Kiya membangunkan Zidan untuk mandi juga, karena sebentar lagi masuk subuh
"zi bangun , sebentar lagi sholat subuh zi
"Zi bangun" Kiya menggoyangkan bahu Zidan.
Zidan berdecak kesal tapi ia bangun juga.
"handuk ku mana"
"ini"
"Kamu sudah siapkan air hangat?"
"sudah zi" Kiya melepas seprai juga sarung bantal setelah Zidan masuk ke dalam kamar mandi, ia juga mengganti nya dengan seprai yang baru.
kiya juga menyiapkan baju yang akan di gunakan zidan hari ini. setelah nya ia bersiap untuk melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
Kiya menyiapkan sarapan untuk Zidan seperti biasa, ia duduk sambil menunggu Zidan bersiap, Kiya menyunggingkan senyum melihat zidan yang duduk di depannya tapi pria tetapi saja mempertahankan wajah datarnya.
"Zi besok kamu free kan?"
Zidan mendongak tanpa menimpali pertanyaan Kiya
"ziiii"
"iyaaa" jawab Zidan ketus
"jalan Yo zi dah lama kita nggak jalan bosen aku di rumah terus"
Zidan tidak menolak dia juga tidak mengiyakan, Zidan mengacuhkan ajakan Kiya, yang sudah sangat berharap zidan mau di ajak jalan.
"Zii, iya atau nggak,.jangan diem aja "
Kiya menuang air minum ke gelas Zidan, ia masih menunggu jawaban pria itu
lagi lagi Kiya di buat terkejut karena Zidan memukul meja dengan keras, menatap tajam ke arah Kiya, Kiya mengusap dadanya yang masih berdetak tidak karuan karena terkejut.
"Bisa diam nggak sih, banyak mau kamu, nggak liat aku lagi makan"
"zii nggak baik kaya gitu di meja makan zi" Kiya mencoba menasehati sehalus mungkin takut Zidan malah tersinggung dengan ucapannya.
"Nggak bisa sehari aja nggak buat emosi " Zidan meraih tasnya dan kembali Zidan tidak menghabiskan sarapannya, Kiya hanya bisa melihat dari jauh punggung pria itu, helaan nafasnya terdengar prustasi.
"aku kan cuman nanya zi, kalo kamu nggak bisa nggak papa atuh"
"Malas aku makan gara gara kamu "
__ADS_1
Kiya tersenyum getir mendapatkan dengan respon suaminya.
...
Kiya duduk didepan cermin meja riasnya, di tatapnya wajah sendu yang selalu berusaha terlihat baik baik saja akan semua sikap kasar Zidan padanya.
Kiya bahkan tidak punya tempat untuk mengadu kecuali Tuhannya, Kiya kehilangan orang tuanya sejak kecil, Kiya tumbuh dan besar di panti asuhan, Kiya anak yang pintar ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya. Kiya memilih hidup mandiri saat kuliah, ia keluar dari Panti yang sudah membesarkan nya.
Kiya dan Zidan memulai hubungan sejak duduk di bangku SMA, mereka satu kelas waktu itu, Zidan tanpa ragu menyatakan rasa padanya, ia Suka karena Kiya siswa yang pintar di kelas, Kiya juga selalu mendapat ranking. sampai akhirnya Zidan melamarnya, mereka menggelar pernikahan satu tahun setelah adiknya Zidan, zila, menikah. Zidan mengajak Kiya untuk tinggal di Korea karena Zidan tau, Kiya begitu menyukai negara itu, Kiya juga pernah mengatakan keinginannya untuk tinggal di sana. mereka hidup bahagia awalnya, sampai di mana Kiya mendapatkan tawaran untuk bekerja di Inggris sebagai peneliti, itu impian kiya , ia begitu girang saat mendapat kan tawaran itu,zidan awalnya menolak tapi lagi lagi karena cinta Zidan akhirnya mengijinkan Kiya untuk bekerja di sana, mereka hidup berpisah, mereka jarang bertukar kabar karena kesibukan masing-masing, Zidan selalu meminta Kiya untuk berhenti dari pekerjaannya tapi Kiya enggan, mimpinya terlalu besar untuk di lupakan begitu saja, rumah tangga mereka perlahan merenggang, sering terjadi pertengkaran berakhir diam diam, dan sampai di mana peristiwa besar itu terjadi, Kiya mengakui kesalahannya dan mengundurkan diri dari pekerjaannya, mereka tinggal di satu atap lagi tapi Zidan nya berubah, tidak ada lagi Zidan yang sama ,tidak ada lagi Zidan yang ia kenal, tidak ada lagi Zidan yang menyayanginya.
Kiya kehilangan sosok Zidan yang dulu, yang sekarang hanyalah Zidan yang dingin, pemarah, bahkan Zidan tak segan berbuat kasar padanya.
entah dengan cara apa lagi Kiya harus meminta maaf pada Zidan, semuanya telah ia lakukan, Kiya mengorbankan impian untuk menjadi peniliti hebat, Namun Zidan enggan menerima maafnya.
di usapnya foto Zidan di bingkai foto pernikahan mereka, Kiya menghapus air mata yang lancang turun menetes mengenai wajah Zidan di bingkai foto itu.
"Harus dengan cara apa lagi zi, aku harus apa agar kamu mau memaafkan aku, apa aku terlalu menjijikkan untuk mu zi , sampai menatap ku saja kamu enggan zi, apa aku boleh berharap Zidan ku yang dulu kembali. Aku mengaku salah zi, aku minta maaf, aku istri yang pembangkang, kamu Benar, aku nggak pantas mendapat maaf dari mu" tangis wanita itu terdengar pilu menyayat hati, Kiya memeluk erat bingkai foto itu, menumpahkan semua air matanya untuk yang kesekian kali.
...
Kiya menunggu Zidan di ruang tamu, ia ingin menyambut suaminya seperti biasa dengan wajah yang tersenyum, masakan juga sudah ia siapkan, tinggal menunggu Zidan pulang.
tidak lama pintu rumah terbuka,Kiya langsung berdiri mendekati Zidan, meraih tangannya untuk di salimi,
"Banyak kerjaan yaa zi, wajah kamu kelihatan lelah sekali" Kiya mengekor di belakang, Kiya tau Zidan pasti akan mengacuhkan nya, tapi Kiya tidak menyerah akan hal itu.
"sebentar ya zi, aku siapkan air hangatnya dulu" Zidan tidak menghiraukannya, mengangguk saja pria itu tidak, pria itu melonggarkan dasi yang mencekik lehernya, memandangi punggung Kiya yang sekarang ada di dalam kamar mandi.
"zi sudah, mandilah, nanti airnya dingin, aku turun dulu siapin makanan nya" Zidan masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu kamar mandi cukup keras setelah Kiya keluar dari sana.
__ADS_1
"Astaghfirullah, zidaan" Kiya lagi lagi hanya bisa mengusap dadanya yang bergemuruh karena kaget.