Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Berpisah


__ADS_3

..."Kepercayaan yang sudah kau hancurkan tidak akan mudah kembali engkau dapat kan"...


Kiya bergegas kembali ke taman, tapi ia tidak lagi menemukan Zidan di sana.


"nggak GK mungkin Zidan tega ninggalin aku" Kiya menuju parkiran, ia berharap Zidan masih ada di sana, ternyata dugaannya benar mobil Zidan masih di sana,.Kiya akhirnya bisa bernafas lega ia kira Zidan pulang meninggalkan nya.


Belum lagi kakinya melangkah mendekat, Kiya di buat terkejut karena mobil Zidan perlahan meninggalkan parkiran.


"ZIDAAAAAN" Kiya berusaha mengejar tapi nihil pria itu malah semakin melajukan mobilnya.


"ZIiii tunggu"


"zidaaaaan"


"zidaaaaan" Kiya tidak sanggup lagi berlari mengejar mobil suaminya, kepalanya kembali berdenyut nyeri, Kiya duduk di pinggir jalan , berusaha menetralkan deru nafasnya yang tidak karuan.


"zidan, teganya kamu zi" naera menghapus kasar air matanya dengan punggung tangan, bibirnya bergetar menahan sesak.


di raihnya ponsel untuk menghubungi Zidan tapi pria itu justru menolak panggilannya, berkali-kali Kiya menghubungi Zidan sampai pesan masuk dari zidan mengentikan nya


"aku sudah bilang kan, lima menit kamu nggak balik, aku pulang"


"Teganya kamu zii" baru aja ia merasakan kehangatan Zidan, tapi pria kembali melukai perasaannya untuk yang kesekian kalinya. menangis di pinggir jalan tidak akan menyelesaikan masalahnya, meminta Zidan kembali untuk menjemput pun, tidka ada gunanya, Kiya berjalan dengan tertatih menuju halte bus.


di tempat lain, Zidan merasa kawatir karena sudah meninggalkan istrinya, Zidan memukul setir mobil dan memutar arah, Zidan kembali ke taman untuk menjemput Kiya, tapi wanita itu sudah tidak ada di sana, Zidan menghela nafas panjang, ia menaikkan bahunya acuh.


Zidan tiba lebih dulu dari Kiya, zidan mengira Kiya sudah di rumah ternyata salah.


"seharusnya dia sudah di rumah, kemana lagi dia" Zidan menggerutu kesal, ia mengambil sebotol air dingin juga gelas. Zidan memeriksa ponselnya tapi tidak ada panggilan Kiya yang masuk.


Tidak Lama Kiya juga sampai, wanita itu terlihat lelah, matanya semakin terlihat teduh, sepersekian detik pandangannya dengan Zidan bertemu, Zidan bisa melihat ke putus asa an dari wanita itu, Kiya tidak menyapa seperti sebelumnya, Kiya melewati Zidan begitu saja.


"dari mana aja kamu"


Pertanyaan gila macam apa itu, Zidan bertanya dari mana?, apa Zidan sakit atau kehilangan kewarasan nya, bisa bisanya dia menanyakan sesuatu yang ia sendiri tau jawabannya apa.


jelas jelas ia sendiri yang meninggalkan tapi justru Kiya yang di pertanyakan.


"kiyaa"

__ADS_1


"Zaskia"


ia lebih memilih masuk ke dalam kamar, mengabaikan panggilan Zidan, terlalu sakit rasanya ditinggalkan seperti itu.


....


Kiya tertidur selepas sholat Dzuhur, ia bergegas bangun untuk memasak. Kiya baru sadar , ternyata ia tidak tidur sendiri ada Zidan di sebelahnya, pria itu tidur membelakanginya, Kiya mengusap kening Zidan sebelum turun dari tempat tidur.


"Aku boleh marah nggak sih zi"


"kamu masih sayang nggak sih sama aku"


"kamu ko tega banget sih zi, aku nggak nyangka kamu lakuin itu , kamu ninggalin aku zi"


"ternyata sesulit ini yaa"


Kiya yang hendak turun terhenti karena Zidan mencekal pergelangan tangan nya


Kiya kembali menatap Zidan, pria itu menatap nya dengan tatapan dingin mengintimidasi


"aku sayang, juga kecewa sama kamu" pria itu berucap dingin.


"aku nggak tau rasa sayang itu akan bertahan sampai kapan, tapi aku ingatkan rasa kecewa ku dengan mu akan terus ada Sampai kapan pun itu"


Kiya berkaca-kaca mendengar ucapan Zidan ia letakkan kepalanya di atas dada bidang zidan, memeluk erat pria itu,sebesar itu rasa kecewa Zidan padanya.


Zidan menutup matanya, ia juga sesak melihat wanita yang begitu ia sayangi menangis, tapi lagi-lagi Zidan di kalahkan akan ego.


"kenapa zi"


"karena kamu udah buat aku kecewa Ki"


"aku mau Zidan ku yang dulu, zidan ku yang bahkan gak bisa liat aku nangis, Zidan yang selalu memberiku bahunya saat aku sedang tidak baik baik aja"


"maaf aku nggak bisa kaya dulu lagi, hari itu aku sudah bilang ke kamu agar kita berpisah saja, tapi kamu nggak mau, ok aku turutin mau kamu, tapi kita jalani rumah tangga ini seperti adanya, tidak ada lagi Zidan yang rela melakukan apapun untuk wanita yang bahkan tidak pernah menghargai nya sebagai suami"


"zidaaaaan maaf"


"sudah terlambat Ki, aku sudah terlanjur kecewa banget sama kamu"

__ADS_1


Zidan bisa merasakan gelengan dari Kiya, Kiya juga Semakin mempererat pelukannya.


"kalo kamu mau nyerah nyerah aja ki, kamu bisa gugat cerai aku kapan pun kamu mau"


"kalo kamu mau pergi, pergi aja , aku nggak akan larang kamu, kamu bebas pergi, memulai hidup kamu lagi, mengejar cita cita kamu lagi sebagai peneliti, tanpa ada aku pria posesif sebagai suami kamu"


Kiya menutup mulut zidan dengan tangan nya, ia menggeleng kuat, matanya merah karena air mata


"jangan ngomong kaya gitu zi, aku nggak bisa hidup tanpa kamu,.mungkin kamu bisa tapi aku nggak, biar__biar semuanya kaya gini, nggak papa zi, nggak papa, aku ikhlas, karena semua memang salah ku, tapi aku mohon zi jangan pernah minta aku untuk pergi, jangaaan zi, aku nggak sanggup,aku nggak bisa tanpa kamu"


Zidan membuang wajahnya enggan menatap wajah wanita yang begitu hancur di hadapannya itu.


...


"Zi ayo makan" Kiya berdiri di depan pintu ruangan kerja zidan, pria itu terlihat begitu serius ketika bekerja


"zii, ayoo, nanti makanannya dingin, nggak enak lagi loh"


Zidan berdecak kesal, berjalan meninggalkan kiya yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.


..


rumah tangga mereka berjalan datar seperti biasa tidak ada yang berubah dari Zidan, pria itu tetap bersikap acuh pada istrinya.


Mereka juga sudah tinggal di Indonesia, memulai hidup yang baru tapi tidak dengan hati Zidan, ia tetap tidak bisa melupakan kesalahan istrinya.


mereka tinggal di perumahan kecil tapi elegan, zidan membeli rumah itu sebelum mereka pindah, zidan juga sudah mulai mengajar lagi di salah satu kampus yang ada di Bandung.


Sedangkan Kiya masih tetap menjadi ibu rumah tangga biasa, hari harinya ia habiskan untuk melayani suaminya, Kiya tidak pernah di ijinkan keluar dari rumah selama Zidan bekerja.


Bosan sudah pasti Kiya rasakan , setiap hari ia harus habiskan waktu nya dalam kesunyian, meskipun zidan ada di rumah pun tidak ada bedanya, hadirnya Kiya hanya di anggap patung oleh zidan, bisa dihitung berapa kali pria itu bicara saat di rumah.


Harapannya sekarang hanya satu, menanti hadirnya malaikat kecil di hidupnya, mungkin dengan hadirnya malaikat kecil itu, Zidan bisa sedikit menganggap kembali hadirnya.


Akhir akhir ini Kiya Suka mencurahkan isi hatinya di buku harian, mungkin karena Kiya tidak punya teman curhat jadi semua yang ia rasakan ia tulis di buku itu.


Kiya juga suka membaca novel untuk mengisi waktu luang nya, ia juga bisa sedikit menyibukkan diri selain melayani Zidan.


...

__ADS_1


__ADS_2