Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
wanita murahan


__ADS_3

"iya , ayo membuat bayi"


"tidak, saya tidak mau, pergi anda dari kamar saya" zila mundur perlahan, begitupula dengan Daffa yang terus melangkah maju"


"Kenapa bukan kah kamu juga menikmatinya, bahkan kamu menutup mata saat saya melakukannya"


"tapi sayang sepertinya __satu kali percobaan kamu belum juga hamil, terpaksa kita harus melakukannya lagi"


"kamu senang kan, ini kan yang kamu mau, bisa tidur dengan saya"


"STOOOOOP, PERKATAAN ANDA SUNGGUH MENGINJAK HARGA DIRI SAYA, SAYA INI ISTRI ANDA, KENAPA ANDA BEGITU TEGA MEMPERLAKUKAN SAYA LAYAKNYA WANITA MURAHAN, KENAPA, KATAKAN, APA SALAH SAYA"


" SETIAP HARI ANDA MENOREH KAN LUKA DI HATI SAYA, SAYA SELALU MEMAAFKAN PERLAKUAN ANDA SELAMA 2 TAHUN INI, TAPI TIDAK SEKARANG ANDA KETERLALUAN ANDA MELEWATI BATAS , ANDA SANGAT MENGHINA KEHORMATAN SAYA"


Sungguh zila tidak bisa lagi menahan emosinya, perlakuan Daffa sudah melewati batas kesabarannya


Daffa sampai melongo dibuatnya ini kali pertama zila menangis di hadapannya, terbesit perasaan bersalah di hati Daffa, apa sungguh ia sudah keterlaluan memperlakukan wanita di depannya ini, Daffa memperhatikan zila yang menatap nyalang padanya


Tapi karena ego , lagi lagi Daffa tidak menggubris perasaan istrinya


"KARENA LO , SEMUA YANG GUA RENCANAKAN GAGAL, GUA GAGAL MENIKAH DENGAN ZAHRA, WANITA YANG SEMPURNA JAUH DI BANDINGKAN DENGAN LO, LO MEMANG LAYAK MENDAPATKAN SEMUA PERLAKUAN KASAR DARI GUA"


"kenapa, kenapa nggak bilang dari awal kalo anda menolak perjodohan ini, kenapa, kenapa daf , gua minta ampun , gara gara gua Lo batal nikah sama Zahra, aaaah" zila meringis menahan sakit di perutnya, Daffa yang tadi tersulut emosi, kini ekspresi nya berubah bingung


"Sudah cukup daf, gua juga capek gini terus, cerai in gw daf, talak gua sekarang daf" lanjut zila dengan suara lirih , tangan nya terus meremas perutnya yang sakit bukan kepalang


"agh" zila terduduk di tepi ranjang


"Lo kenapa Zil"


"bunda, sakiiitt"


"Zil, kaki Lo berdarah" zila menunduk menatap kebawah, benar ada darah yang mengalir di telapak kakinya tapi bukan karena kakinya luka, tapi karena zila mengalami pendarahan, zila dengan susah payah berjalan tertatih tatih, tanpa memperdulikan Daffa yang masih menatap bingung ke arahnya.


"zila Lo hamil" teriak Daffa saat zila memasang hijab instan nya, zila tidak menggubris Daffa, dengan menahan sakit zila keluar dari kamarnya.


belum sempat kakinya menyentuh anak tangga pertama, tubuhnya sudah terangkat, iya itu Daffa yang menggendongnya, dengan cemas Daffa menuruni anak tangga , di tangannya sudah ada kunci mobil, zila menutup mata menahan sakit.


"aghh, sakiit"

__ADS_1


"bertahan Zil sebentar lagi kita sampai di rumah sakit"


sesampainya di rumah sakit, zila langsung di tangani dokter kandungan , karena sudah jelas zila mengalami pendarahan, di luar ruangan, Daffa mondar-mandir cemas, lisannya tidak henti memanjatkan doa pada sang khalik agar istri dan anaknya baik baik saja.


lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan zila, Daffa mengekor di belakangnya. Rumah sakit itu bukan rumah sakit tempat Daffa bekerja, tapi kepopuleran nya sudah meluas sampai sana, siyapa yang tidak mengenali Daffa sebagai dokter muda berprestasi.


" Istrinya, atau saudara" tanya dokter kandungan wanita di depan Daffa


"istri saya dok"


"em, dok istri anda hamil muda , ini juga kehamilan pertama kan"


"iya dok"


"Kandungan nya lemah, sebisa mungkin jangan buat istrinya stres , jangan banyak pikiran apalagi tertekan, itu bisa mempengaruhi kandungan nya"


"iya dok, istri sama anak saya ga papa kan dok


"Alhamdulillah mereka ga papa, hanya saja ibunya sangat lemah sekarang jadi kita akan rawat inap beberapa hari"


setelah selesai mendengarkan penjelasan dokter, Daffa kembali masuk ke ruangan zila, duduk di samping wanita itu, wajah pucat, tubuh kurus , kenapa Daffa tidak memperhatikan perubahan pada zila , padahal mereka tinggal di satu Rumah, sebegitu tidak pedulinya Daffa dengan zila.


" Harusnya Lo bisa bahagia dengan pria lain diluar sana Zil, gua ga bisa bahagiain Lo,gua ga bisa jadi suami baik buat Lo, harusnya Lo Nolak waktu orang tua kita merencanakan perjodohan, Lo ga akan bahagia sama gua Zil, Lo cewe baik gua yakin di luar sana banyak yang bisa bahagiain Lo, sekarang Lo hamil, entah gua harus bahagia atau menyesal, dengan seperti ini hubungan kita akan terus terikat karena adanya anak kita sekarang" Daffa berucap pelan , sedangkan tangannya memegang erat jemari zila.


"Zila, kamu sadar"


"ada yang sakit, katakan"


zila yang sadar tangan nya di genggam daffa dengan cepat menarik tangan nya. Zila menatap tembok membelakangi Daffa, masih sakit rasanya dengan perkataan daffa.


"Kamu hamil 2 Minggu dan saya tau dari orang lain, kenapa ga ngasih tau saya bagaimana pun saya ayah nya"


"CK" zila berdecak kesal


"Saya kira anda tidak akan mengakui anak saya, saya kira anda akan mempertanyakan kehadirannya"


"maksud kamu apa Zil" sungguh Daffa tidak paham atau pura pura bodoh, itu yang ada di pikiran zila sekarang


"anda bodoh atau apa, setau saya anda cerdas saat sekolah Bahkan menjadi wisudawan terbaik, masa ini saja tidak paham"

__ADS_1


"jangan menyulut emosi saya Zil"


"Bukankah Anda menganggap saya wanita murahan, wanita yang ingin tidur dengan anda, mungkin saja kan anda juga mengira saya hamil dengan pria lain diluar sana, sebegitu murahan nya kan saya bagi anda" terlalu sesak rasanya , zila menahan sekuat mungkin agar air matanya tidak jatuh, di remasnya kuat selimut yang menutupi tubuhnya untuk menyalurkan rasa sakit di hatinya.


Daffa tidak bisa lagi beradu argument dengan zila, biyasanya zila hanya diam tapi semua yang zila katakan mampu membuatnya tertohok


"Saya juga tidak berharap anda mengakui anak saya, ucapan anda saat di rumah sudah cukup membuktikan betapa hinanya saya di mata anda"


"segera lah urus surat perceraian kita"


"apa yang kamu katakan,kamu mau anak kita tumbuh tanpa orang tua yang lengkap"


"bukan saya yang menginginkannya tapi anda, ini kan yang anda inginkan, perpisahan!!!"


"saya tidak mau bercerai, saya tidak mau anak saya tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap"


Ok sekarang ada alasan bagi daffa untuk tidak menceraikan nya __Sekarang , tapi tidak tau nanti.


flashback of


"kenapa liatin aku kaya gitu aku risih tau"


"Hem, kamu cantik sayang"


"gombal"


"bener tau, gak nyangka aku punya istri secantik kamu"


zila memasukkan satu potong buah mangga ke mulutnya, mereka sedang duduk santai di balkon kamar zila, dengan sepiring mangga di depannya


"pelan pelan makanya sayang, nanti tersedak"


"kamu nih sama aja kaya bunda, selalu minta aku makan hati hati takut tersedak, aku ini sudah dewasa daf sudah 25 tahun , kesal tau kalo di suruh hati hati terus waktu makan, kan akunya makan santai aja tu ga buru buru"


"itu tandanya kami sangat menyayangi mu Zil"


"masa" Ucap zila dengan nada mengejek


"anak kita kuat banget ya daf, dua kali aku hampir kegugupan tapi dia masih bisa bertahan"

__ADS_1


"karena dia punya ibu sekuat kamu, sehebat kamu sayang, jadi dia juga hebat dan kuat seperti ibunya"


Daffa mengusap perut buncit istrinya, 2 bulan lagi mereka bertemu bayi kecil yang sudah membuat hubungan kedua Semakin membaik setiap harinya, kehidupan keduanya sudah seperti kehidupan rumah tangga normal pada umumnya, Daffa menjadi suami siaga untuk zila di mana pun dan kapan pun.


__ADS_2