
Dengan hati hati Daffa membantu zila duduk di kursi roda,hari ini zila pulang karena kondisinya alhamdulilah stabil.
"Daf, aku jalan aja yah, aku kuat ko, nanti kaki ku makin bengkak"
Daffa memposisikan dirinya duduk berjongkok di hadapan zila, digenggamnya jemari zila yang dulunya kecil dan panjang Sekarang terlihat lebih berisi, bahkan cincin pernikahan yang sebelumnya terpasang di jari manis harus di lepas sementara.
" Sayang__sekarang duduk di kursi roda dulu ya biar mas yang dorong , kamu kan baru keluar dari rumah
sakit, besok kan hari libur , kita keliling lapangan ya buat olahraga"
"gimana?" Daffa memiringkan kepalanya menunggu Jawaban zila
"iya deh, nanti mampir dulu ke supermarket ya , aku mau beli cemilan"
"iyaa, mau beli berapa ?"
"mau yang banyak" jawab zila antusias seperti anak kecil yang dijanjikan sesuatu oleh ayahnya, Daffa sampai terkekeh di buatnya, Daffa jadi ingat ucapan mertuanya kalo istri nya itu sangat manja. Daffa mengacak rambut zila yang tertutup hijab instan menutup dada
"ayo kita pulang istriku sayang"
"bisa melayang aku kalo terus terusan di panggil sayang, masalah Zahra jadi Hilang semua" monolog zila
Zila susah payah menahan agar terlihat biasa saja , padahal hatinya sudah melayang kemana-mana, zila masih tidak percaya dengan semua sikap Daffa sekarang, walaupun zila tidak bisa memastikan seperti apa perasaan daffa sebenarnya, tapi zila bisa merasakan ketulusan suaminya, zila masih seperti mimpi __bisa tidur di pelukan Daffa setiap malamnya, di perhatikan dengan masalah sekecil apapun, Di ajak ngobrol sebelum tidur , membahas mengenai masa lalu dan masa yang akan datang.
Daffa yang dulunya hanya bisa ia lihat diam diam dan takut mendapat dosa karena terlalu mencintai seseorang Daffa Saputra, pria idaman para wanita, sekarang zila bahkan bisa menatap mata juga senyum pria itu Tanpa takut adanya dosa lagi, dan tidak perlu lagi secara diam diam pastinya.
Daffa mendorong hati hati kursi roda zila , selama menyisir lorong rumah sakit, Mereka bertemu beberapa rekan kerja Daffa, rata rata mereka tidak tau hubungan daffa dengan wanita yang ia dorong di kursi roda, ya __karena selama ini daffa tidak pernah memperkenalkan istrinya di mata publik, mereka bahkan tidak tau Daffa sudah menikah, pernikahan daffa dan zila di lakukan sederhana atas permintaan Daffa.
jadi tidak heran sekarang mereka jadi bahan perbincangan di antara orang orang yang mengenal daffa masih sendiri.
^^^"itu Siyapa woy cantik banget ade nya dokter Daffa, tapi mukanya beda banget , tu cewe juga hamil besar"^^^
^^^"apa jangan jangan istrinya daffa"^^^
^^^"nggak gua ga rela kalo Daffa sudah menikah"^^^
Daffa yang awalnya hanya tersenyum jika berpapasan dengan dokter atau perawat lain , setelah mendengar beberapa perawat perempuan yang berpapasan dengannya, Daffa mengehentikan kursi roda zila, Daffa memutar kursi roda zila , dan mendorong nya mendekati perawat yang bergerombolan tadi
Daffa memasang wajah bersahabat, tersenyum hangat pada rekan kerjanya, zila jadi bingung apa Yang akan di lakukan Daffa, zila juga mendengar orang-orang mempertanyakan kedekatannya dengan Daffa tapi zila juga tidak berharap Daffa memperkenalkan dirinya sebagai istri di hadapan rekan kerja Daffa.
zila mendongak menatap Daffa, berharap mendapatkan jawaban dari tindakan daffa, Daffa hanya mengangguk menandakan semua baik-baik saja.
tiga orang perawat tadi tertegun melihat Daffa dan zila yang berdiri di depan nya
"perkenalkan Khaira fazila istri saya" Zila langsung menggenggam tangan Daffa untuk menyalurkan kegugupan nya, sedangkan satu perawat yang mengaku Suka ke daffa mendadak melemas mendengar ucapan Daffa, sementara dua lainnya mengulurkan tangannya untuk berkenalan
"Khaira" ucap zila setelah perawat itu memperkenalkan nama mereka
"cantik banget dok istrinya cocok banget sama dokter"
daffa tersenyum mendengarnya
__ADS_1
"Sudah berapa bulan" tanya satu perawat lagi
"tujuh bulan" jawab daffa
"kalo gitu kami duluan yaa, istri saya baru keluar dari rumah sakit harus banyak istirahat"
"iya dok, hati hati" ucap dua perawatan bersamaan, sedangkan yang satunya hanya diam mematung
melihat punggung daffa yang sudah menghilang di Balik tembok , mereka bertiga kembali membicarakan pasangan itu, mereka tidak percaya dokter Daffa ahli bedah terbaik ternyata sudah menikah dan istrinya pun cantik bukan main.
"pasangan yang serasi"
...
dreet
drett
drett
ponsel di dalam tas zila berdering, ternyata panggilan dari sang bunda, senyum zila mengembang melihat benda pipih di tangan nya , di usapnya layar hijau untuk terhubung dengan bundanya di sebrang sana
"*assalamualaikum"
"waalaikumsallam bunda, apa kabar bunda __zila kangen banget Bun"
"bunda juga nak, kamu lagi di jalan yah"
"anak bunda apa kabar sehat aja kan"
"iya Bun zila sehat, ayah mana Bun"
"ayah tadi keluar, nak panggilan nya ubah jadi Panggilan Vidio yah"
Sekarang mereka bisa saling menatap
"Zil, kamu sehat nak, mukanya kok pucat banget"
zila sekilas menatap Daffa, sebenarnya zila tidak ingin memberitahu keadaannya yang baru keluar dari rumah sakit, zila tidak ingin orang tuanya kawatir
"zila sehat Bun, cuman kemaren ga enak badan aja , Alhamdulillah sekarang sudah mendingan"
"syukurlah, bunda Kawatir banget nak, kamu sama Daffa?"
.
"iya Bun" zila mengarah kan ponselnya menghadap Daffa, Daffa tersenyum hangat menyapa mertuanya
"assalamualaikum Bun"
"waalaikumsallam nak ,Daffa bunda titip zila ya nak"
__ADS_1
"iya Bun , bunda ga perlu kawatir"
zila kembali mengarahkan ponselnya ke wajahnya,
"bunda mau kemana"
zila hapal betul dengan orangtuanya, ucapan bundanya mengatakan mereka akan pergi dan menitipkan dirinya dengan Daffa
"bunda sama ayah mau ke Korea nak ,jenguk Abang kamu sama istrinya"
"yah, zila pengen banget ikut Bun, tapi!!!" zila menatap perut nya sendu, zila sangat ingin ke Korea, impian nya ingin lanjut S2 ke Korea tapi perjodohan dengan Daffa lebih dulu di rencanakan, impian nya untuk lanjut ke Korea pun gagal.
zila menatap Daffa setelah tangannya di genggam erat Daffa, Daffa bisa merasakan kesedihan zila yang sangat ingin ke Korea tapi keadaan nya tidak memungkinkan sekarang.
"bunda sama ayah hati hati yah, jangan lupa kasih kabar kalo sudah nyampe"
"iya nak, sudah dulu ya nak, takut Daffa ga fokus nyetirnya, nanti bunda telpon lagi kalo ayah sudah pulang"
"iya bunda"
"assalamualaikum"
"waalaikumsallam*"
"nanti yah, kalo sudah lahiran kita ke Korea__ bertiga sama bayi kita"
"janji yah"
"Iyah"
"kenapa kamu pengen banget ke Korea sayang"
" sebelum nikah cita cita aku pengen lanjut S2 di sana, selain lanjut S2 aku pengen ekspor Korea lebih jauh, aku ingin mengenal lebih dalam tentang negara itu, mungkin karena sejak kecil aku sudah Suka sama yang berbau Korea aku sempat pengen tinggal di sana"
"kenapa kamu ga lanjut kuliah nya Zil, kan bisa S2 di Jakarta aja"
"emm, pertama aku pengennya di Korea kalo ga di Korea ya ga usah, karena ayah sudah lebih dulu mengatur perjodohan Dengan kamu , ya impian aku ke Korea aku kubur dalam dalam, aku pengen jadi istri yang berbakti dengan suami, melayani kamu sepenuh hati, sebenarnya ayah sudah menawarkan untuk tetap kuliah, kata ayah nanti di bicarakan sama kamu , kalo kamu selaku calon suami aku waktu itu ngasih ijin , aku tetap bisa lanjut ke Korea, tapi aku pilih tetap jadi ibu rumah tangga aja, dan mengabdi sepenuhnya sama kamu" jelas zila panjang lebar
Daffa terenyuh mendengar nya, zila rela mengorbankan cita cita nya untuk menjadi istri yang Baik untuk nya, tapi apa yang ia dapatkan hanya kebencian dari suami yang tidak pernah menganggap nya ada. Daffa berjanji akan selalu membahagiakan zila seumur hidupnya, tidak akan membiarkan wanita di sebelahnya ini menderita lagi karena ulahnya.
"Zil"
.
"Hem"
"Maaf"
"untuk"
"untuk semua rasa sakit yang mas berikan di hati kamu"
__ADS_1