
flashback on
"selamat ulang tahun Ra, ini hadiah dari aku"
"wah, buat aku daf, isinya apa niyh" Zahra meraih paper bag berwarna coklat muda dari tangan Daffa.
"buka aja" wajah Daffa berseri , setelah memberikan hadiah ulang tahun untuk Zahra
Zahra membuka paper bag dan isinya, kotak cincin berwarna merah muda, mata Zahra membola sempurna, tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Daffa memberinya cincin, untuk apa
Daffa merebut cincin yang masih ada di dalam kotaknya dari tangan Zahra, di bukanya kotak itu, dan isinya satu cincin mewah dengan satu berlian kecil di bagian tengahnya, sederhana tapi mewah, Daffa mengantongi kotak cincin nya sedangkan cincinnya masih ia pegang.
Daffa menyunggingkan senyum pada Zahra,
"mana tangan kamu , biar aku yang pasangin"
Zahra mengulurkan tangannya dengan raut bahagia, Daffa memasang cincin pemberian nya di jari manis Zahra
"cantik"
Zahra menatap jarinya yang sudah tersemat cincin di sana.
"Cincinnya cantik banget daf, makasih"
"iya, sama sama, kamu juga cantik" Zahra berpaling menatap Daffa, Zahra menyungging kan senyum di wajahnya
"tunggu aku dan orang tua ku datang kerumah Ra, kita akan hidup bersama setelah nya"
"aku akan selalu menunggumu daf, selalu"
flashback of
di klinik nya Zahra memandangi jemari nya yang masih tersemat cincin pemberian Daffa di sana, jika dulu Zahra tersenyum manis saat menatap Cincin itu, kali ini __senyum manis itu tidak terlihat lagi, hanya ada wajah sendu di sana.
"Dimana janji itu daf, dimana janji kamu akan membawa orang tua mu ke rumah ku daf__ dimana, sampai saat ini apa aku salah terus memakainya, cincin pemberian mu, sedangkan aku tau kamu sudah memiliki Wanita lain, apa aku salah__ selama ini masih berharap kamu datang dengan orang tuamu memenuhi janji yang kamu beri untuk ku, apa aku salah daf" tangis Zahra pecah
Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, bahunya turun naik, menahan isakan di sana.
siyapa yang salah di sini, apa zila ? yang dengan senang hati menerima perjodohan dengan daffa , secara dia tau Daffa sudah memiliki Wanita pujaannya, atau Zahra ?, yang sampai sekarang masih menunggu kedatangan daffa menepati janjinya, padahal jelas ia tau Sekarang Daffa sudha memiliki wanita lain, siapa yang pantas di salahkan, atau justru Daffa __yang sampai sekarang belum bisa melupakan Zahra dan melukai hati Istri nya.
" sampai sekarang aku nggak bisa menerima siapapun di hidup ku daf, hanya ada kamu di sini , di hati aku daf" Zahra memukul dadanya yang sesak karena Tangisan nya, tangis wanita itu terdengar pilu
" Harusnya aku yang duduk di sana , di samping kamu daf, bukan Khaira, bukan dia daf" Zahra meraung di tengah tangisannya, cincin pemberian Daffa ia buka dan lempar ke sembarang arah
....
di kantor __zila melamun di mejanya, komputer di depan nya hampir meredup karena di abaikan, panggilan panggilan Hana pun ia abaikan, raga nya di kantor tapi fokusnya ke tempat lain.
"woy jangan bengong sawan Lo entar" Hana memutar kursinya agar mengahadap zila,
"Han"
__ADS_1
"apa"
zila memeluk erat Hana, tangisnya pecah di dalam pelukan Hana, Hana yang tidak tau ada apa dengan sahabatnya Hanya bisa mengusap usap punggung zila, setau Hana__ zila paling pantang mengeluarkan air mata, kalo air matanya sudah jatuh berarti zila benar benar tidak Baik baik saja__ sekarang, Hana tidak mencecar zila dengan pertanyaan tapi berusaha menenangkan zila.
"Zil, Lo pucat banget sumpah"
"Gua cape Han, cape__Daffa munafik , pembohong , semua yang Daffa ucapkan omong kosong Han"
mata Hana melirik ke kanan ke ke kiri memastikan hanya ada mereka berdua didalam ruang itu.
apa yang baru saja di ucapkan zila membuat Hana melongo tidak percaya, setau Hana rumah tangga sahabat nya baik baik saja, ada apa sekarang.
"Zil, jangan gini ga baik buat Lo ,sama janin Lo Zil"
"gua capek Han, gua capek hidup sama Daffa"
"gua ga tau apa yang terjadi sama rumah tangga kalian, tapi Lo jangan gini Zil, Lo ga boleh stress , banyak pikiran ga baik buat kesehatan lo, lo juga belum ada makan , kita makan dulu Yo"
tidak ada jawaban dari zila,
"Zil__zila"
"Zil, jangan buat gw kawatir, Zil jangan diam aja, Zil"
Hana mengurai pelukannya, memastikan sahabat nya baik baik saja, Hana kawatir bukan main, zila pingsan di dalam dekapannya,
Hana menepuk nepuk wajah zila, tapi zila juga tidak merespon, Hana berlari keluar mencari bantuan untuk membawa zila ke rumah sakit, kebetulan Hana bertemu Raka saat membuka pintu, tapi Hana juga tidak ingin Raka yang menggendong zila atau memapah tubuh zila, apa kata zila Jika sadar nanti ada pria lain yang menyentuh nya saat ia tidak sadar.
"kamu kenapa Han"
"biar saya aja Han, Dimana zila" mata Raka menyusuri ruangan Hana
"jangan pa, zila ga akan Suka, saya mau cari bantuan karyawan cewe aja"
"ya udah, saya siapkan mobil , kamu bawa zila turun, hati hati"
"iya pak" mereka berlalu meninggalkan zila di dalam ruangan.
seperti rencana awal__ Raka yang mengantar zila ke rumah sakit, Hana duduk di belakang dengan zila, Sampai sekarang zila belum juga sadar, wajahnya pucat seakan darah berhenti mengalir di tubuhnya, tangannya dingin, karena terlalu kawatir Hana lupa mengabari Daffa.
sesampainya di rumah sakit, zila langsung di tangani, selang beberapa menit zila di pindahkan ke ruang perawatan, zila masih pingsan karena pengaruh obat, tidak ada hal serius __zila hanya kelelahan, di tambah zila tidak ada makan apapun.
Raka duduk di samping ranjang zila, di sebrang nya ada Hana, sebenarnya Hana sejak tadi memperhatikan Raka, yang sangat kawatir dengan keadaan zila, bahkan tatapan Raka tidak teralihkan sedikitpun dari zila
"pak sebaiknya bapa pulang aja"
"Saya akan nunggu sampai zila sadar"
ok sekarang Hana semakin yakin pria di depannya ini masih menyimpan rasa untuk sahabat nya.
"Astaga" Hana terkejut mengingat sesuatu
__ADS_1
"ada apa han"
"saya lupa ngabarin Daffa"
Hana merogoh sakunya, meriah benda pipih di sana, Hana menepuk jidatnya , baru ingat sampai sekarang ia tidak menyimpan nomor ponsel Daffa
"yaudah kamu jagain zila, saya cari Daffa dulu, Daffa kerja di rumah sakit ini kan"
"iya pak , daffa dokter bedah di sini, maaf ya pak ngerepotin bapak"
"Santai aja Han, kalian karyawan saya, selama kalian di kantor__kalian masih tanggung jawab saya"
"iya pak makasih"
.....
Raka menyusuri lorong ruang sakit , mencari ruangan dokter bedah di sana, ada beberapa orang yang ia hentikan langkah nya untuk bertanya.
Sampai lah Raka di satu ruangan dengan bertuliskan nama Daffa di sana.
Raka sedikit merapikan bajunya, menarik napas dan di buang perlahan, Raka mengetok pintu ruangan Daffa.
"Masuk" teriak Daffa dari dalam
kening Daffa mengkerut Melihat siapa yang datang ke ruangan nya.
Raka duduk di kursi depan Daffa, Daffa menegakkan posisi duduknya, di lepas nya kaca mata baca yang bertengger di hidung mancungnya.
"Ada keperluan apa " daffa bertanya dengan wajah datar
"maaf sebelumnya anda ,suami Khaira fazila kan"
"iya" daffa kembali mengerutkan keningnya, Mendengar nama istrinya di sebut
"istri anda di rawat di rumah sakit" daffa kaget bukan main, zila di rawat apa ia tidak salah dengar .
"maksud anda apa" tanya Daffa dengan nada tegas
"Khaira pingsan saat di kantor ,. Sekarang dia dirawat di ruang VIP nomor 13"
tidak ada pertanyaan lagi , Daffa berlalu meninggalkan Raka, berlari keluar dari ruangan nya
Daffa membuka pintu kamar zila dengan terburu buru, Hana sampai kaget di buatnya, Daffa mendekati zila yang masih terbaring lemas di atas ranjang.
Daffa mengusap kepala zila dengan lembut, zila masih dalam pengaruh obat,
"zila kenapa Han ?"
"Pingsan" jawab Hana dengan nada ketus
"Kenapa bisa "
__ADS_1
"Jangan tanya gua, lo kan lakinya"
ok daffa menyerah , Hana terlihat sangat kesal dengan nya , berdebat dengan Hana Hanya akan membuat emosinya terpancing , Daffa duduk di samping zila, memegang tangan kirinya, sesekali mengecup tangan istrinya