
..."Jangan ambil dunia ku tuhan"...
"Daffa zila kenapa" tanya Farah kawatir yang baru saja tiba di rumah sakit.
Daffa menyalami mertuanya bergantian, dengan wajah tertunduk __Daffa menjelaskan semua tanpa ada terlewatkan, Farah begitu syok mendengar apa yang terjadi pada putrinya air matanya tumpah sudah, Ali yang duduk di sampingnya memeluk erat tubuh sang istri
"zilaaaa" panggil Farah
"tenang Bun, zila nggak papa, zila anak yang kuat' Ali hanya mencoba menenangkan, dirinya juga begitu mengkhawatirkan sang putri.
"zilaa" Daffa mengusap wajahnya prustasi, entah berapa lama lagi ia harus menunggu kabar baik dari dokter yang menangani istrinya di dalam sana.
melihat perjuangan sang istri mengingatkan Daffa kembali , tentang semua perlakuan buruk yang ia lakukan pada zila, semua rasa sakit yang ia berikan untuk wanita itu.
pintu ruang operasi terbuka beberapa petugas medis ikut keluar dengan mendorong tempat tidur bayi kecil di ikuti tempat tidur dewasa di belakangnya, Daffa langsung berlari menghampiri zila yang terbujur kaku di atasnya__ tapi pihak medis melarangnya untuk mendekati zila .
"SAYA INGIN MENEMUI ISTRI SAYA , APA APAAN KALIAN"
bentakan Daffa berhasil menyadarkan dua pasang paruh Bayah dan ikut mendekat Daffa, sang ibu langsung memegang pergelangan tangan Daffa menenangkan putranya yang sudah tersulut emosi karena tidak di ijinkan mendekati istrinya sendiri
__ADS_1
"maaf dok, istri anda kritis kita harus segera membawanya keruangan untuk mendapatkan penanganan"
tumpah sudah air mata Daffa, hatinya bagaikan di hantam jutaan batu yang menyakitkan, istri yang ia kasihi berada dalam kondisi kritis,
"mamah zilaaa, mahh" teriak Daffa di pelukan sang ibu.
tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menunggu dan menunggu, bukan hanya zila yang berada dalam kondisi kritis tapi bayi mungil yang baru ia lahirkan juga harus mendapatkan perawatannya intensif.
Daffa memandangi box bayi dari jauh, air matanya terus mengalir melihat orang orang yang ia sayangi harus terbaring lemah di ruangan rumah sakit.
Dewi yang dari tadi duduk memperhatikan Daffa mendekat, mengusap punggung sang anak , memberikan sedikit ketenangan di sana.
"mah Daffa takut mah, Daffa takut zila pergi"
"tenang nak percaya akan takdir tuhan, percaya akan semua ketetapannya, kita sudah berusaha, berikhtiar, sekarang kamu pulang bersihkan badan kamu, kamu sholat doakan yang terbaik buat mereka, kamu percaya kan dengan kekuatan doa" Daffa mengangguk, berbalik memeluk Dewi , menumpahkan semua air matanya di pelukan Dewi.
......................
Daffa berjalan dengan langkah lunglai di tatapnya lantai di mana zila terduduk menahan sakit, darah sudah mengering di lantai dingin itu.
__ADS_1
Daffa kembali dengan wadah berisi air dan lap, di bersihkannya noda darah yang tertinggal sebelum membersihkan dirinya sendiri.
meja makan juga tidak luput dari perhatian Daffa, di atas meja sudah tersusun rapi makanan yang sudah susah payah zila buat untuk menyambut mertuanya.
ingatan Daffa kembali saat di mana ia pernah meminta zila pergi jauh dari hidupnya .
"JANGAN SOK BERKUASA LO, INI RUMAH GW , GW BERHAK BAWA SEMUA TEMAN GW KE SINI SAMPAI JAM BERAPAPUN GW MAU"
"LO SAMA SEKALI GA PUNYA HAK DI RUMAH GW, SEKALI LAGI LO BERSIKAP KURANG AJAR , ANGKAT KAKI LO DARI RUMAH GW"
"GW MUAK SAMA LO, GW BERHARAP LO PERGI JAUH DARI HIDUP GW, PERGI LO, GW BENCI DENGAN TAMPANG SOK LUGU LO"
semua kalimat yang pernah ia lontarkan pada zila terus berputar di kepalanya, kalimat yang sungguh sangat melukai perasaan wanita itu . Daffa kembali menangis mengingat semua perlakuan buruknya pada zila.
"maafin aku Zil, maaf"
"aku suami jahat, brengsek, ga berguna" Daffa meraung sekencang mungkin, meratapi istrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Daffa menyesali semua ucapan yang pernah meminta zila pergi jauh dari hidupnya.
__ADS_1