Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Rasa sakit


__ADS_3

Hana menarik lengan zila untuk berpindah duduk di kursi yang lain.


Di aula __Daffa sudah hampir menyelesaikan sambutan nya, tanpa ia tau apa yang terjadi dengan wanita nya di belakang


"tahun ini mungkin saya datang berdua dengan istri, mungkin tahun depan insyaallah kami datang dengan pasukan kecil , Aamiin"


Daffa kembali turun dari aula, mencari sosok sang istri yang sudah tidak ada di tempatnya.


"Daffa" Daffa menoleh mencari suara sang istri yang memanggil, Daffa terlihat Bingung kenapa zila bisa berpindah duduk


"Kenapa pindah sayang, aku sampai bingung nyariin nya"


"Ada, aww" Hana meringis kesakitan karena zila mencubit lengan nya


"sakit Zil"


zila tidak merespon dan menepuk sisi yang kosong di sampingnya meminta Daffa duduk di sana


"Ga papa ko cuman pengen pindah aja"


"kamu lapar, mau makan" tanya Daffa


"entar aja kalo acaranya dah kelar"


"Adam mana Rik"


"masih otw kayanya"


Zila tidak sedikitpun melepas genggamannya di jemari Daffa. mereka di beri snake untuk mengganjal perut.


"Daf aku mau air putih aja, ada nggak"


"kamu tunggu sini sebentar ya , biar mas cariin"


zila mengangguk, snake yang mereka dapatkan berisi teh kotak sebagai minuman nya, sedangkan zila tidak terlalu suka mengonsumsi minuman seperti itu, akhirnya Daffa pergi untuk mencari air mineral untuk zila


di jalan __Daffa bertemu gerombolan wanita yang tidak di ketahui Daffa apa mereka sudah Menikah atau belum, tapi setau Daffa geng wanita itu yang semasa sekolah nya begitu terang terangan mengejar dirinya padahal mereka adik kelasnya atau seangkatan dengan zila.


"Hay ka Daffa" sapa wanita berambut panjang dengan dress super ketat selutut


Daffa hanya tersenyum hangat dan berlalu melewati mereka, merasa di abaikan wanita tadi menahan lengan Daffa tapi dengan cepat daffa menepis tangannya hingga wanita tadi tersentak.

__ADS_1


"Jangan kurang aja ya anda" dengan nada datar


"Kaka ko Sombong banget sih, Kaka lupa sama aku ini aku ka, Aulia, yang pernah Kaka antar pulang"


"siapapun anda tidak seharusnya anda bersikap seperti itu, menyentuh seseorang yang bukan mahram anda"


"alah ka Daffa so suci banget sih, ayo lah ka, aku suka sama kaka , aku belum menikah Lo, aku dengar Kaka sudah menikah yah sama Khaira cewe aneh, pendiam , ga punya teman so__"


ucapan wanita tadi terpotong


"stop, Lo gak berhak menilai istri gw, Khaira!!, Lo jangan memancing emosi gue , yang Lo kata Katai tadi istri gue, istri yang akan gue lindungi dari manusia manusia sirik seperti lo" Daffa memilih pergi, tidak pantas rasanya berdebat dengan wanita, lebih lama lagi ia berdiri di sana, bisa bisa emosinya meledak.


"Kurang ajar Lo Khaira, Lo bukannya hanya merebut Daffa dari gue,tapi Lo juga buat Daffa gue berubah" monolog wanita tadi, dengan kedua tangan mengepal, menahan marah.


lama mencari minum buat zila tapi ta kunjung dapat, akhirnya Daffa bertemu dengan panitia dan mengantar nya ke tempat di mana ia bisa mendapatkan air mineral.


sampai lah mereka di satu ruangan , tempat panitia menyimpan makanan untuk acara.


Ternyata Bukan Hanya dia sendiri di sana, ada satu wanita yang juga berdiri tidak jauh darinya di dalam ruangan itu, wanita yang sudah ia hapal betul.


Daffa berjalan mendekat, tidak bohong Daffa masih berusaha menetralkan perasaannya yang tidak karuan, Hanya dengan berdekatan dengan wanita yang pernah hampir menjadi ratu di dalam hidupnya, setengah mati Daffa menahan debaran jantung nya agar terlihat biasa saja, hingga ia sudah berdiri di samping Zahra


"Daffa"


"iya, Lo lagi apa di sini"


"ini__"


Zahra tidak sanggup melanjutkan ucapannya


"astagfirullah, Lo sakit Ra" Daffa tidak bisa menutupi kekwatiran nya melihat wanita di depannya, Zahra sudah pucat bukan main. bahkan sudah ada darah yang menetes dari hidung nya, Zahra berusaha berpegangan di meja depannya agar tubuhnya tidak ambruk


"iya, ini kepala gue sakit banget"


"Lo harus kerumah sakit Ra, ayo" entah apa yang merasuki pikiran pria itu, dengan lancangnya Daffa menggenggam tangan Zahra yang sudah jelas itu bukan mahramnya, tidak ada perlawanan dari Zahra, ia membiarkan Daffa menyentuh tangan nya, entah faktor rasa pusing nya atau rasa rindu nya


"daf minta tolong bukain" Zahra menyodorkan satu botol Aqua pada Daffa, daffa Sampai lupa tujuan nya datang ke sana, ia lupa ada wanita hamil yang sedang menunggu kedatangannya.


di tempat lain zila akhirnya meminum teh kotak yang disajikan, Karena daffa tidak kunjung datang, acara juga sudah selesai, orang orang sudah bubar, untuk menikmati makanan di prasmanan, tapi Daffa belum juga kembali


"Daffa mana sih, di telpon ga di angkat"

__ADS_1


"Lo makan dulu Zil, Lo belum ada makan kan, mungkin Daffa ketemu teman-teman nya di belakang Zil" bujuk Hana, yang sejak tadi mencoba membuat zila untuk makan tapi zila tidak juga ingin makan , sebelum Daffa datang.


"Lo makan aja dulu Han, gue mau cari daffa ke belakang dulu"


"biar gue temenin, ayo"


"ga usah Han, Lo di sini aja gue ga papa ko"


"ya udah Lo hati hati yah, gue mau nyamperin intan dulu"


"iya Lo juga yah hati hati"


zila menyusuri hampir seluruh ruangan untuk mencari Daffa, tapi pria itu juga tidak terlihat di mata zila, Zila tersenyum hangat melihat lapangan basket yang penuh kenangan untuknya, Dimana Daffa pernah tanpa sengaja melempar nya dengan bola basket hingga wajahnya memerah, perih.


zila kembali melanjutkan mencari Daffa, ingin menghubungi daffa, ponselnya tertinggal di mobil, tadi ia hanya meminjam ponsel Erik untuk menghubungi Daffa.


kemana lagi ia harus mencari Daffa, rasa lelah di telapak kakinya makin terasa, kepalanya pun mulai pusing karena belum ada makan nasi seharian.


Ada satu ruangan yang zila yakini ada Daffa di sana, ruangan dengan pintu terbuka , zila melangkah dengan pelan, zila menyunggingkan senyum melihat Daffa yang berdiri tidak jauh darinya dengan satu piring di tangan nya, tapi senyum itu memudar setelah tau Daffa tidak sendiri, di sana ada Zahra yang duduk di sudut lain menghadap jendela, dari ruangannya itu , zila memperhatikan interaksi keduanya dari balik pintu, hatinya teriris Melihat pemandangan menyakitkan di dalam sana, ingin pergi tapi zila ingin tau kelanjutan dari tontonan menarik di depannya.


Satu tetes air mata jatuh lagi di pipi berisi nya, melihat Daffa yang duduk tepat di samping Zahra, menyuapi wanita itu dengan penuh cinta, sedangkan dia sendiri menahan lapar menunggu Daffa, tapi justru kenyataan pahit yang ia terima.


istri mana yang tidak terluka Melihat suaminya meratukan wanita lain di hadapannya, andai Daffa tidak pernah berjanji sebelumnya ingin memperbaiki rumah tangga mereka dan melupakan Zahra, zila akan sadar diri dan tidak berharap lebih apalagi mengharap di cintai tulus oleh Daffa


tapi apa , semua perkataan manis Daffa, membuat nya melambung tinggi, membayangkan rumah tangga bahagia dengan Daffa juga anak di dalam kandungannya.


Zila tidak sanggup lagi melihat nya, zila memilih pergi dengan luka di hati yang kembali menganga.


dengan kasar zila mengusap air mata nya, sebelum berpapasan dengan segerombolan wanita dari arah berlawanan dengan nya.


"Kesian ga di anggap ya sama suami sendiri, makanya ngaca dong, ga punya kaca sini gue pinjamin"


yah wanita itu Aulia, zila tidak peduli dengan ucapan Aulia dan memilih tetap melangkah pergi, tapi aulia lebih dulu menarik pergelangan tangan nya , hingga zila mundur beberapa langkah.


"Lo apa apaan sih"


PLAK


PLAK


dua tamparan melayang di pipi mulus zila.

__ADS_1


__ADS_2