Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Aku mencintaimu


__ADS_3

keadaan Daffa semakin membaik, sudah satu Minggu zila terus setia merawatnya, Adam datang setiap hari untuk mengecek kondisi daffa, Daffa menolak keras untuk di bawa ke rumah sakit, dan akhirnya zila yang mengalah, rumah juga sudah kembali bersih, zila menyewa beberapa orang untuk membersihkan rumah mereka, kulkas kembali di isi penuh, sedangkan Zidan kembali ke Bandung, sebenarnya Zidan menolak dan akan terus bersama zila, tapi setelah di jemput paksa orang tuanya akhirnya Zidan mau ikut pulang


"Masak apa sayang"


" emm, masak sayur , kamu ga bosen kan makan sayur tiap hari"


"apapun yang kamu masak akan aku makan tanpa ada rasa bosen" Daffa memeluk zila dari belakang , tangan nya mengelus permukaan perut zila.


"ya udah kamu duduk dulu sana biar aku gampang masaknya, kalo kamu kaya gini Makin lama Lo selesai nya"


Bukannya menjauh Daffa malah mematikan kompor zila, zila sampai membolakan matanya__tidak percaya dengan apa yang Daffa lakukan


"Daffa" zila ingin meminta penjelasan Daffa, tapi Daffa lebih dulu membalik tubuhnya dan menggeser tubuhnya agar menjauh dari kompor


"Daffa, aku mau masak, kamu apa apan sih" jujur zila kesal sekarang.


tapi emosinya meredup setelah melihat tatapan Daffa, zila jadi salah tingkah sendiri di buatnya


"aku ga mimpi kan"


"aww" Daffa mengaduh, Zila mencubit pinggang nya


"sakit nggak"


"sakit sayang"


"berarti ga mimpi kamunya"


Daffa mengusap lembut wajah Zila, hingga tangan turun perlahan sampai ke leher jenjang zila


Perlahan Daffa terus mengikis jarak di antara mereka dan


cup


satu kecupan berhasil mendarat di bibir bawah zila


Daffa juga mengecup kelopak mata zila bergantian dan pipi gembul zila, berakhir di bibir zila, lama Daffa menempelkan bibirnya di sana, Hanya menempel tidak lebih. hingga bunyi ketukan melepas penyatuan bibir mereka


"siyapa sih ganggu aja" gerutu Dafa, zila Hanya tersenyum melihat kekesalan suaminya


"sana bukain Siyapa tau teman kamu "


zila kembali menghidupkan kompor sedangkan Daffa keluar untuk melihat siyapa orang yang berani mengganggunya


"waalaikumsallam"


Daffa ingin menutup pintunya lagi tapi di tahan kuat oleh Zahra, iya Zahra yang datang


"aku ingin ketemu zila, aku mohon, aku ingin minta maaf"


"baiknya kamu pulang aja Ra, aku ga mau ada masalah lagi sama rumah tangga ku"


"ga aku ga akan bikin masalah, aku cuman mau ketemu zila aku mohon, aku kangen banget sama dia daf"


Zahra terus memohon, agar Daffa mau mengijinkan nay bertemu dengan zila, Daffa tau Zahra bukan orang jahat, dia percaya Zahra tulus ingin minta maaf pada istrinya, tapi Daffa Hanya takut, takut zila salah paham lagi dan pergi lagi meninggalkan nya.


Daffa membuka pintunya dengan berat hati mempersilahkan wanita di hadapannya itu masuk


"tunggu sebentar aku panggil zila dulu"


Zahra mengangguk dan duduk di ruang tamu

__ADS_1


"siyapa daf" teriak zila


Daffa menemui zila yang sudah selesai dengan masakan terkahir nya


"sayang ada yang nyariin kamu"


"siapa" zila masih sibuk menata meja makan, sedangkan Daffa terus menatapnya


"Zahra" sontak zila langsung menatap balik Daffa, mencoba berharap apa yang ia dengar salah, jujur zila sendiri belum siap bertemu dengan Zahra, rasa sakit melihat suaminya memeluk Zahra masih sering melintas di pikirannya


"mbak Zahra"


"iyaa" Zila menarik nafas panjang, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin sebelum bertemu dengan Zahra lagi


"sebentar biar aku siapin minum dulu, kamu keluar dulu Gih, temani mbak Zahra"


Daffa menggeleng dan malah memeluk wanita hamil tua itu


"Apa aku perlu minta dia pergi aja"


"jangan lah, kamu nggak sopan Banget"


"aku tau kamu masih kesal kan sama dia"


"emm, sama kamu juga aku masih kesel, kesel banget malahan"


Daffa melepas pelukannya menatap dalam wajah zila


"iya, aku masih kesel sama kamu, tapi aku coba buat maafin kamu, dan memulai semuanya dari awal bareng kamu, jadi ga salah kan kalo aku juga harus belajar maafin mbak Zahra, iyakan?"


"kamu ko punya hati lapang banget sayang"


" Sekarang aku boleh minta tolong nggak ambilin kerudung ku, aku mau nyiapin minum dulu"


Daffa mengecup singkat kening zila, dan merapikan anakan rambut zila ke belakang telinga nya


"mbak Zahra" Zahra berdiri dan mengambil alih nampan di tangan zila, Zahra memeluk zila meski susah karena perut zila yang semakin membesar


"Zila maafin mbak" Zahra tidak kuat menahan tangisannya, tangisnya pecah


"Maafin mbak Zil, semuanya cuman salah paham, mbak sama daffa ga ada niat buat nyakitin kamu Zil, Dafa cuman mau nolongin mbak"


"iya mbak, zila sudah maafin mbak kok, sudah yah mbak jangan di bahas lagi, toh semua nya juga sudah terjadi"


Zila mengusap punggung Zahra memberi ketenangan pada wanita itu. sedangkan Daffa lebih memilih masuk ke dalam kamar, memberikan waktu untuk zila dan Zahra memperbaiki hubungan mereka


Zahra mengurai pelukannya, zila menuntun wanita itu untuk duduk di sofa


" di minum dulu mbak" zila mengarahkan gelas untuk Zahra,


"makasih Zil"


"Kamu kemana aja Zil, mbak nyariin kamu "


"zila di Aceh Mbak nenangin diri, ga lama ayah sama bunda zila jemput,terus di bawa ke Bandung"


" Zillaa"


"iya mbak"


Zahra kembali memeluk wanita itu

__ADS_1


" jangan pergi lagi yah, jangan buat mbak Kawatir lagi"


zila mengangguk di dalam pelukan Zahra


.....


Sepulang nya Zahra __mereka akhirnya makan siang yang sempat tertunda tadi.


"Zahra bilang apa "


"emm, cuman minta maaf, terus ngobrol ngobrol doang"


seperti biasa zila selalu memotong lauk daffa agar daffa bisa langsung memakannya


"Emm, sayang suapin dong"


"iyh, kaya anak kecil aja kamu, makan sendiri aja lah"


"enggak aku maunya di suapin kamu"


zila menyerah dengan kemanjaan suaminya itu, zila menarik kursi agar bisa lebih dekat dengan Daffa


zila menyuapi daffa terlebih dahulu sebelum menyuapi dirinya sendiri


"sayang aku sudah ga kerja di rumah sakit yang lama, sekarang aku kerja di rumah sakit kecil, ga papa kan"


"Daffa di mana pun kamu kerja itu bukan masalah buat aku daf, yang penting kamu bisa bertanggung jawab sama pekerjaan kamu, kamu dokter suamiku, tugas kamu nolongin orang, mulai sekarang janji sama aku kalo kamu bakalan bertanggung jawab sama kerjaan kamu, Gimana janji ?"


Daffa mengangguk


"sayang selama di Aceh ngapain aja"


"emm, makan tidur makan tidur, itu aja , terus olahraga"


"kamu ga Kangen sama aku, aku aja hampir mat__"


Ucapan daffa terhenti, zila menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya


"jangan di lanjutin, kalo kamu lanjutin aku yang bakalan lebih dulu pergi, setiap hari aku nahan rindu daf, setiap hari kamu selalu ada dalam pikiran ku daf, hampir setiap hari nenek sama kakek ku liat aku nangis di kamar, aku ga bisa makan sama kaya kamu daf, aku sama tersiksa nya


sama seperti kamu daf, tapi ada bayi kita aku ga bisa egois aku tetap berusaha buat makan,tapi semua makanan yang aku telan rasanya hambar"


"kamu tau setiap malam aku natap langit , aku berharap kamu juga natap langit yang sama seperti aku, walaupun kita nggak berada di dalam satu rumah yang sama,tapi kita masih di langit yang sama"


"aku tersiksa daf setia hari, menahan rasa rindu buat kamu pria yang paling aku sayangi"


"pria yang paling aku cintai, walau sebanyak apa kamu nyakitin aku daf, rasa cinta, rasa sayang itu akan Selalu ada buat kamu daf , akan selalu ada"


zila meletakkan piring yang ada di tangan nya, memeluk Daffa dengan posisi duduk , menyadarkan kepala di dada bidang Daffa, zila tidak ingin Dafa Melihat nya menangis


"aku mencintaimu daf, sangat mencintai mu"


" aku mohon jangan pernah memberi perhatian lebih pada wanita lain selain aku daf, aku cemburu, sungguh aku cemburu daf, demi Allah aku ga rela, aku akan mengutuk Siyapa aja wanita yang berani menyentuh pria ku, sekalipun itu mbak Zahra , wanita yang kamu cintai di masa lalu"


"jangan pernah beri pundak kamu untuk sandaran Wanita lain daf , aku mohon , aku sakit daf, sakit , aku ga mau. berbagai apapun tentang kamu dengan wanita lain"


Ini kali pertama daffa mendengar semua pengakuan zila, Daffa semakin mempererat pelukannya, Daffa meletakkan dagunya di atas kepala zila, sesekali Daffa menghirup aroma rambut zila


"makasih sudah mencintai ku, makasih sudah menyayangiku, makasih sudah bertahan sejauh ini dengan ku, makasih sudah memaafkan ku"


"aku mencintaimu Zil, aku sungguh-sungguh mencintai mu, maaf baru menyadari perasaan itu sekarang, maaf, jangan pernah pergi lagi, aku sungguh ga sanggup buat jauh dari kamu__ istriku"

__ADS_1


__ADS_2