Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Pilihan sulit


__ADS_3

...Ada saatnya kita berkorban akan segala hal demi kebahagiaan orang lain, bukannya ingin menjadi bodoh hanya saja diri ini tau batasannya....


Kiya menunggu zidan pulang seperti biasa, karena zidan sebelumnya sudah mengatakan akan pulang pagi seperti hari yang lalu, Kiya sudah menyiapkannya sarapan dan menunggu di ruang tamu.


sedangkan di rumah sakit, zidan masih menunggu alesha sadar, wanita itu masih terbaring lemah di atas ranjangnya, wajahnya pucat pasih, zidan jadi semakin bersalah merasa lalai menjaga alesha.


Tapi di sisi lain ia juga mempunyai kewajiban, Kiya sedang mengandung anak mereka, Kiya juga membutuhkan kehadirannya, di usapnya wajahnya kasar sebelum beranjak dari sana.


sebenarnya zidan ingin menunggu alesha sampai wanita itu sadar, tapi Zidan sudah berjanji pada Kiya akan pulang pagi , terpaksa zidan meninggalkan wanita itu , nanti ia bisa kembali lagi setelah menemui Kiya


"aku pulang dulu ya sha, nanti aku kesini lagi, aku harap kamu ngerti dengan keadaan ku yang sulit"


...


Assalamualaikum


"waalaikumsallam" Kiya menyambut zidan seperti biasa , menyambut uluran tangan zidan, mencium punggung tangan Zidan, Kiya juga membantu zidan membawa barang bawaannya, dan tidak lupa senyum tulus selalu Kiya perlihatkan di wajah manisnya.


"pasti capek yaa zi"


"emm"


"mau mandi dulu atau makan ?"


"mandi dulu deh"


"sebentar yaa aku siapkan air panasnya dulu"


"emm" lengan Kiya di cekal zidan, wanita itu mengentikan langkahnya, ia berbalik menatap zidan heran


"kenapa zii"


zidan menggeleng mengikis jarak mereka perlahan, zidan mengusap lembut wajah sang istri yang semakin tirus.


Di satukan nya bibir miliknya dengan bibir ranum milik sang istri, awalnya Hanya saling menempel, kemudian Zidan mulai melakukan lebih, tangannya sudah masuk ke balik baju yang Kiya gunakan, mengusap punggung wanita itu abstrak.


Zidan melepas tautan mereka karena merasa sang istri butuh pasokan oksigen.


benar saja, Kiya meraup oksigen dengan kasar, Zidan mengusap lembut bibir ranum milik kiya, memeluk Wanita itu begitu erat, Zidan menciumi pucuk kepala Kiya secara berulang


"aku merindukan mu Ki, maaf dua malam ini aku gak bisa nemenin kamu di rumah, aku banyak kerjaan, semoga kamu bisa ngerti keadaan aku Ki"

__ADS_1


"iyaa zi, aku ngerti, kamu kan sibuk, aku paham ko"


"aku gak bisa janji malam ini bisa nemenin kamu lagi Ki"


"hah maksutnya"


"aku kayaknya nginep di rumah teman lagi, masih banyak kerjaan yang harus di kerjakan " Zidan mengurai pelukannya, di tatapnya dalam wajah sang istri, yang tertunduk lesu mendengar ucapannya, sungguh Zidan tidak tega melihatnya, ia sangat ingin selalu ada untuk Kiya di masa kehamilannya, tapi di sisi lain ia juga punya tanggung jawab lain, ada wanita hamil juga di tempat lain yang sekarang perlu perhatiannya lebih.


"zii, harus banget yaa nginep, hari ini kan akhir pekan, kamu bisa pergi pagi, terus malam nya pulang"


Zidan menggeleng


"kenapa? sebegitu pentingnya yaa kerjaan kamu dari pada aku dan anak kamu"


"Andai aku bisa , aku akan terus ada untuk kamu Ki dan anak kita "


"teruss Kenapa, apa susahnya kamu pergi pagi ini dan pulang malam nanti, aku cuman mau kamu ada untuk ku saat malam, aku ingin peluk kamu, apa sesusah itu membagi waktu si sibuk mu zii "


"IYAAAA" Zidan kembali membentak Kiya, sekuat mungkin zidan menahan yang memang sudah terpancing saat Kiya memulai perdebatan


Zidan pun tidak ingin melakukan hal ini, tapi keadaan lah yang memaksanya, keadaan lah yang memintanya melakukan hal yang bertolak belakang dengan keinginannya.


"ANDAI AKU BISA MEMILIH KAMU DENGAN DIA, AKU PASTI AKAN MEMILIH KAMU KII, DARI PADA DIAAA"


Zidan meneguk salivanya susah payah, ia kebablasan, apa yang baru saja ia katakan keluar begitu saja, terlalu rumit Situas yang harus pria itu hadapi.


"D__dia, pekerjaan __i__iya pekerjaan ku yang menumpuk "


"kenapa gak jujur aja sih zi" batin kiya


sakit kembali Kiya dapatkan mendengar bentakan Zidan, wanita itu berbaik ingin melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda dengan kepala menunduk, tapi lagi lagi Zidan menahannya, pria itu memeluk dirinya dari belakang, Zidan menenggelamkan wajahnya di celuk leher sang istri.


"gak bisa Kii, aku harap kamu mau ngerti keadaan aku , gak maksa aku melakukan sesuatu yang gak bisa aku lakukan, aku juga gak mau ninggalin kamu, tapi aku bisa apa , aku gak punya pilihan, aku juga punya tanggung jawab lain


Kiya menutup matanya mendengar ucapan zidan, seperti ada pedang yang menghunus jantungnya


Kiya Hanya diam dengan perasaan sesak


"sebegitu cintanya yaa kamu dengan nya zi, Sampai gak ada waktu lagi dengan ku, tapi kenapa, kenapa saat aku hamil kamu baru bersikap seperti ini, kenapa enggak dari awal, bukannya wanita itu sudah hamil juga , pasti kalian sudah lama berhubungan, tapi kenapa baru sekarang kamu kaya gini, di saat aku juga mengandung, harusnya dari awal agar aku bisa ngerti mengerti keadaan kamu yang sulit " semua itu hanya tertahan di dalam pikiran Kiya saja, ia tak sanggup mengungkap kan semua nya di hadapan zidan


yang Kiya lakukan hanya mengangguk pasrah, mengusap punggung tangan pria itu.

__ADS_1


...


Kiya menyiapkan teh hangat untuk suaminya yang sekarang duduk di ruang tamu, Kiya ikut duduk setelah meletakan gelas teh itu di hadapan zidan.


"Di minum zii tehnya, nanti dingin gak enak lagi


"emm"


"zii"


"apaa" zidan masih sibuk dengan benda pipih di tangannya


"kapan kamu ada waktu buat aku, aku pengen banget ngabisin waktu di luar bareng kamu zii"


"gak tau Ki, aku masih sibuk, aku gak bisa janji kapan"


"Sebentar aja ko zii, aku capek di rumah ter__"


"aku bilang aku sibuk yaa sibuk, jangan maksa deh, jangan bikin kepala aku tambah pusing, kamu bisa nggak sih ngertiin keadaan aku sekarang "


Kiya lagi lagi hanya mengangguk, dengan bibir bawah ia gigit menahan sesak di hati, Kiya sudah biasa mendapatkan bentakan Zidan tapi kini ia tau bentakan itu karena apa, Zidan lebih memilih wanita nya yang lain dari pada dirinya, sungguh sakitnya lebih dari pada sakit biasanya


helaan nafas pria itu terdengar jelas, zidan memperhatikan punggung sang istri yang pergi dengan perasaan kecewanya.


"arggghh"


"kenapa jadi gini sih"


...


Zidan mengikis jarak nya dengan Kiya, wanita itu tidur membelakanginya.


Zidan melingkar kan tangannya di pinggang ramping sang istri, tangannya mengusap permukaan perut Kiya yang masih rata.


"Gak lama lagi kita jadi orang tua ki, aku harap kita bisa lebih dewasa menyikapi permasalahan rumah tangga kita"


"memangnya selama ini aku ke kanak Kanakan yaa?"


Kiya tidak terima dengan apa yang zidan katakan, mungkin karena faktor hamil, wanita itu lebih mudah terpancing emosinya.


"selama ini kan kamu yang sering marah marah nggak jelas ke aku, terus kekak Kanakan yang mana kamu maksud "

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Ki, sensi Banget , aku gak bilang kamu yang. kekanak Kanakan, aku bilang kan kita, kenapa jadi kamu yang emosi "


"gak tau ah zii, aku capek jangan ajak berdebat dulu, sudah cukup yang di bawah tadi, sekarang aku ingin istirahat sebentar "


__ADS_2