Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Jangan pergi


__ADS_3

Selesai melaksanakan sholat, Daffa bersifat kembali ke rumah sakit, belum ada kabar yang ia dapat dari orangtuanya mengenai zila, Daffa memasukkan beberapa baju zila ke dalam tas, tidak lupa perlengkapan bayi yang sudah zila siapkan untuk kelahiran anak mereka.


mata yang sembab terlihat jelas dari wajah Daffa, entah berapa lama pria itu menangis, dengan kecepatan tinggi daffa melewati bangunan tinggi di tengah kota, hingga sampailah Daffa di rumah sakit


Daffa berjalan tergesa menyusuri lorong rumah sakit agar cepat sampai di ruangan zila, dari kejauhan ia melihat orang tuanya saling merangkul di tengah tangisan yang pecah, Daffa menggeleng berharap apa yang ada di kepalanya salah, berlari cepat menemui ibu dan ayahnya,


"ma__mah, Kenapa" tanya Daffa terbata


tidak ada sahutan dari ibu maupun ayahnya, Daffa menjatuhkan tas bawaan berisi perlengkapan bayi juga beberapa baju ganti milk zila,berlari masuk ke ruangan zila


"Bu___bunda" kedua paruh Bayah yang juga menangis di kedua sisi tempat tidur zila berbalik tapi enggan menjelaskan apapun, hanya tangis yang terus mengalir


"BUNDA KENAPA JANGAN DIAM AJA, JANGAN BUAT DAFFA TAKUT" bentak Daffa ta dapat menahan rasa takutnya


kedua paruh Bayah itu sama sekali tidak berniat menjelaskan, mereka hanya terus menangisi entah apa arti dari tangisan itu


perlahan Daffa mendekat, dengan keberanian, tangan nya bergetar menyentuh wajah zila yang sudah pucat, bibirnya membiru.


"sayang, kamu ko dingin banget sih"


"bentar yaa, aku matiin ac-nya dulu"


Daffa duduk di samping zila menggosok gosok tangan sang istri, dengan wajah kawatir , meski ac-nya sudah mati, zila tetap kedinginan baginya.


"nak, zila udah nggak ada nak" Farah mengusap punggung Daffa, tapi Daffa menepis nya


"bunda ngomong apa sih, jangan aneh aneh deh Bun"


"Daffa, kamu ga boleh gini, Kesian istri kamu nak"


"ayah ga sayang zila yah, zila putri ayah, tegangnya kalian ngomong kaya gitu, zila itu cuman tidur dia kelelahan"


"iya kan sayang ' Daffa merapikan rambut zila yang keluar dari hijabnya


"Daffa"


"iya kan, Zil kamu cuman tidur, zila bangun biar mereka liat kalo kamu itu cuman tidur, bangun Zil"

__ADS_1


"nak, zila udah enggak ada "


"enggak__ ga mungkin zila pergi ninggalin aku, ga mungkin"


Daffa menggeleng berharap apa yang ia dengar salah


Daffa mengangkat tubuh zila , memeluk tubuh zila dengan posisi terduduk, meraung sekencang mungkin, tangisannya terdengar pilu di pendengaran,


"banguun sayang ba___banguuun"


"ka___kamu ka____mu, gaboleh ninggalin aku Zil"


"GA BOLEH "


flashback on


"Daffa liat deh, bagus nggak "


"bagus" Daffa berucap tanpa melihat zila, zila mendengus kesal, merasa di abaikan


"sayang kenapa "


Zila yang sudah ada di atas ranjang, mengusap perut buncitnya, senyum bahagia terukir indah di wajah cantiknya


"sebentar lagi kita ketemu nak, mamah ga sabar pengen gendong"


Daffa ikut berbaring di samping zila , tangannya ia letakkan di atas punggung tangan zila,


"anak papah sehat terus ya nak" tidak seperti biasanya, zila seakan acuh dengan apa yang Daffa lakukan, padahal biasanya, zila pasti ikut menimpali ucapan Daffa,


"kamu marah yaa"


"sayang, Kenapa"


" aku salah apa lagi"


"kamu sayang aku ga sih daf"

__ADS_1


pertanyaan Tiba tiba zila, membuat daffa mengerutkan keningnya


"ko nanya gitu sih nae"


"kamu sayang aku ga"


zila mengulang pertanyaannya, meski susah menghadap Daffa sepenuhnya tapi zila berusaha agar bisa memandang wajah bingung Daffa


"jelas aku sayang banget sama kamu nae, apa perlu di tanya lagi yaa"


"hanya memastikan "


"kalo aku pergi dulu ninggalin kamu, apa kamu akan cari pengganti aku daf "


"aku ga suka ya dengan pertanyaan kamu Zil"


zila menyentuh wajah Daffa


"kumis kamu mulai tumbuh daf, kamu ga cukuran yaa"


"aku mau kamu yang cukurin "


"kamu belum jawab pertanyaan aku daf"


"Jangan mempertanyakan hal yang ga guna Zil"


"aku cuman mau mastiin orang yang bisa jadi ibu pengganti untuk anak ki____"


"ZILAAA"


"AKU GA SUKA KAMU NGOMONG KAYA GITU, KENAPA KAMU GA PAHAM JUGA, HAH"


DAFFA menyadari kesalahannya, wajahnya yang tadi tegang dengan urat leher mengeras, kembali melembut,


"sayang maaf, aku ga maksud Bentak kamu, tapi pertanyaan kamu buat aku marah Zil, aku ga suka "


zila tidak menjawab, ia lebih memilih membuang pandangannya ke arah lain, air matanya tumpah, sakit mendengar kembali bentakan Daffa, Kenapa Daffa tidak bisa mengontrol amarahnya, kenapa amarah itu terus meledak

__ADS_1


__ADS_2