Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
rasa takut


__ADS_3

"ZILAAAAAA" dengan kening yang dipenuhi peluh,air mata yang jatuh, nafas yang memburu, mimpi yang baru saja Daffa alami__ seakan nyata terjadi, tidak menunggu ritme jantungnya kembali normal __Daffa bergegas kembali ke rumah sakit , rasa takut kian menyelimuti sesat Daffa datang melihat orang tuanya yang saling menguatkan.


"maaah, kenapa"


"masuk lah nak, mamah yakin zila wanita kuat"


dengan perasaan takut, Daffa lekas membuka pintu rawat zila, di dalam zila hanya sendiri, dengan berbagai alat bantu untuk membuatnya tetap bernafas.


"sayaaang"


"jangan gini dong, ayo aku tau kamu kuat, kamu ga Kesian liat anak kita, kamu ga mau ngasi asi kamu buat anak kita yaa"


"hemm"


Daffa mengigit bibir bawahnya, menahan sesak yang kian memenuhi relung hatinya, daffa menunduk tak sanggup lagi melihat keadaan istrinya


"Da___daffa" samar Samar Daffa mendengar panggilan hangat itu lagi


Di angkatnya kepalanya, hal pertama kali ia lihat __zila yang yang sudah membuka matanya, sudut mata zila mengeluarkan air mata


"sayaaang kamu sadar" Daffa berlari mencari keberadaan tenaga kesehatan untuk memeriksa istrinya, selagi zila di periksa__ Daffa dan keluarganya menunggu di luar, tangisan bahagia tidak dapat mereka bendung lagi


Daffa ta luput dari doa, ia terus memanjatkan puji dan doa pada sang pencipta untuk istrinya


tidak lama tenaga kesehatan keluar dan meminta Daffa untuk masuk


"Daffa"


"zila"

__ADS_1


"anak kita mana daf"


"ada sayang __dia nggak papa"


zila bernafas lega


Daffa mendekat duduk di samping zila, tangan kiri. zila ia genggam erat, air matanya menetes lagi, entah apa arti air mata itu , ke bahagian atau penyesalan, karena lalai menjaga sang istri


.


"Daffa kenapa menangis"


"maaf aku ga ada saat kamu butuh aku, maaf aku ga ada waktu kamu sakit, maaf aku ga bisa jadi suami yang becus buat kamu"


"kenapa ngomong gitu daf, kamu suami terbaik buat aku, aku pendarahan itu emang dasarnya aku yang ceroboh bukan kamu"


Daffa menggeleng, kemudian memeluk zila, menumpahkan semua air matanya di bahu zila, dengan lemah zila mengusap punggung Daffa yang terisak


"aku juga takut waktu liat darah yang keluar, aku takut ga bisa bertahan tapi Tuhan berkehendak lain, aku masih di beri kesempatan buat rawat bayi kita bareng kamu"


....


kondisi zila semakin membaik, hari ini dokter sudah menginjakkan ia pulang, zila duduk bersila sambil memberikan asi pada putri kecilnya, sedangkan Daffa merapikan pakaian zila ke dalam tas


"dari tadi aska ***** terus ya Zil"


"iyaa daf, kayanya dia haus Banget" kekeh zila sambil menatap wajah bayinya


Daffa ikut duduk di depan zila, Daffa membuat wajah kesal, seakan bayinya itu sudah merebut seluruh perhatian istrinya

__ADS_1


"kamu kenapa daf"


"dari tadi kamu merhatiin Aksa terus, aku kapan di perhatiin".


"kamu cemburu sama anak kamu daf"


Daffa tidak menjawab ia kembali turun , melanjutkan pekerjaannya


"masaa cemburu sama anak sendiri daf"


"enggak cemburu sayang cuman kesel aja"


"kesel Kenapa"


" tau ah Zil"


kesal Daffa, zila semakin terkekeh di buatnya


....


"assalamualaikum" ucap Daffa setelah membuka pintu rumah mereka, Daffa membantu zila untuk duduk, setelahnya Daffa kembali untuk mengambil barang barang di dalam mobil.


"anak mamah yang tampan masyaallah"


"iya Aksa laper lagi nak, iyaaa lapeer"


bayi mungil itu menguap di dalam gendongan zila


" anak mamah ngantuk ternyata. ,iyaaa ngantuk nak"

__ADS_1


zila sedikit kesusahan untuk berdiri, hampir saja ia jatuh, Untung aja daffa dengan cepat menahan tubuhnya


__ADS_2