
...Setelah hujan reda maka pelangi akan muncul...
Zila selesai dengan masakannya tinggal menunggu Daffa pulang dari rumah sakit, sambil menunggu Daffa zila duduk di depan tv yang tidak menyala dengan Al-Qur'an kecil di tangan nya.
mungkin karena kecapean zila ketiduran saat menunggu Daffa dengan posisi memeluk erat Qur'an nya. Tidak lama Daffa datang dan duduk bersimpuh di depan zila, Daffa mengelus kepala zila yang tidak tertutup hijab itu.
Daffa ingin membangunkan zila tapi tidak tega melihat istrinya tertidur pulas, Daffa meraih Qur'an dari tangan zila dan meletakkannya lebih dulu ke dalam kamar, kemudian Daffa kembali lagi dan mengangkat zila, tapi hal itu justru membuat zila terjaga dari tidurnya, zila memincingkan mata menetralkan cahaya
"sayang kamu bangun"
"Daffa" sadar akan Daffa yang menggendongnya, zila jadi panik sendiri, takut Daffa tidak kuat menopang tubuhnya.
"Daffa turunin aku daf" Daffa tidak peduli dan terus berjalan masuk ke dalam kamar, meletakkan tubuh zila di atas kasur, Daffa ikut berbaring di samping zila dengan pakaian kerja yang masih lengkap di tubuhnya
"kamu lelah" Daffa mengangguk, mendekat ke arah zila dan memeluknya
"mandi daf, setelah itu kita makan"
"sebentar aku lagi pengen peluk kamu"
"kamu bisa peluk nanti daf, aku juga ga akan kemana mana ko"
"Sebentar sayang" zila memutar sedikit tubuhnya untuk menghadap Daffa, zila merapikan rambut Daffa yang menutupi wajah lelahnya
"gimana tadi kerjanya"
"Alhamdulillah lancar, tapi pikiranku aku pengen pulang terus"
"loh kenapa, ga boleh gitu daf, kamu dokter , kamu harus bertanggung jawab sama kerjaan kamu"
"aku hanya takut kejadian satu bulan lalu terulang lagi, aku pulang kerja sedangkan kamu ga ada di rumah, aku takut kamu pergi lagi, aku ga mau di tinggal lagi" Daffa mempererat pelukannya, zila mengusap rambut Daffa , sedangkan Daffa menempelkan kepala nya di dada zila,
"Aku ga akan kemana mana lagi daf, kita akan terus bersama sampai maut memisahkan, kecuali kamu macam macam lagi, aku beneran bakal pergi daf"
"janji ga akan pergi lagi"
"iyaah, sekarang kamu bangun aku mau panaskan makanan nya dulu"
....
"enak nggak"
"enak banget"
"tambah nasi"
"boleh tapi sedikit aja ngabisin lauknya aja, sayang kalo nggak abis"
"nanti lahiran nya mau di mana"
"di klinik mbak Zahra"
"yakin mau di sana"
"iya, aku sudah janji sama mbak Zahra, Kenapa__kamu ga mau aku lahiran di sana"
Daffa menggeleng
"enggak sayang, takutnya kamu ga nyaman aja"
"nggak nyaman karena mbak Zahra masa lalu kamu"
"sayaaang"
"iya apa enggak"
"ko jadi bahas Zahra lagi sih"
__ADS_1
"kamu yang mulai"
"tapikan aku ga ada bahas Zahra sayang"
"tetap aja kamu yang mancing mancing"
"ok deyh aku salah"
mereka melanjutkan makan dengan obrolan ringan, saling bertukar cerita dan tertawa bersama, seperti biasa Daffa yang akan mencuci piring sedangkan zila selesai membersihkan meja makan, menyiapkan cemilan untuk nya dan Daffa, sebelumnya zila sudah membuat puding coklat kesukaan Daffa , juga ada teh hijau sebagai pelengkapnya
"biar aku aja yang angkat kamu duluan aja"
"ga berat daf, aku bisa ko"
"ya udah hati hati bawanya"
"iyaaah"
....
"mamah kangen kamu, besok mamah sama papah nginep"
"seriusan besok mereka nginepnya"
"iyaaa" Daffa memasang kaca mata bacanya
"aku ga ada persiapan daf, harusnya kamu bilang 1 hari sebelumnya biar bisa siap siap, kamar juga belum di bersihin"
"aku juga taunya tadi, habis makan dapat pesan dari mamah"
"tapi kamar belum di bersihin daf, aku juga belum ke pasar beli bahan buat Masakin orang tua kamu"
Daffa merubah posisinya jadi duduk bersila menghadap zila yang terlihat prustasi akan kabar mertuanya yang tiba tiba ingin menginap
"sayang, kamu ga perlu repot-repot, mereka nginep karena kangen sama menantunya, masalah kamar gampang nanti aku yang bersihin"
"nanti malah mereka yang merasa bersalah loh, karena buat menantu kesayangannya kecapean"
Daffa mengusap rambut zila
"tapi daf !!"
"ga ada tapi tapi"
"terserah deh" zila melipat tangannya di depan dada, kesal juga karena Daffa baru memberitahunya tapi bukan salah Daffa sepenuhnya kan
"Jangan ngambek sayang"
"enggak ngambek ko daf, cuman kepikiran aja"
"jangan di pikiran sayang, mending kita tidur"
Zila meriah Piring puding yang masih tersisa untuk di simpan ke dalam kulkas, juga gelas kotor bekas Daffa, Daffa menyusul setelah mematikan drama Korea kesukaan zila.
"kamu sudah sikat gigi daf"
"hampir kelupaan"
zila masuk lebih dulu ke dalam kamar meninggalkan daffa yang masih sibuk dengan rutinitas sebelum tidurnya
di raihnya selimut untuk menutupi tubuhnya dari dinginnya malam, zila sudah terbiasa dengan tidur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut termasuk wajahnya, biasanya Daffa yang akan menurunkan selimut dari wajah zila__seperti sekarang , daffa lagi lagi melihat istrinya dengan wajah yang tertutup selimut, Daffa mematikan lampu utama kamar dan mendekati zila
"sayang kamu ga bisa nafas kalo selimutnya kaya gini"
"Hem" Daffa mencium kening zila dan ikut berbaring di sampingnya.
"wangi banget sih kamu Zil"
"aku kan emang selalu wangi daf, kamu baru sadar"
__ADS_1
"Daffa mendekati zila yang tidur terlentang , karena kesusahan dengan perutnya, Daffa mendekatkan wajahnya ke bagian samping wajah zila, memeluk wanita itu dari samping.
"daf"
"iyaah"
"Aku tuh dulu bucin banget sama kamu daf" zila berucap dengan tersenyum geli, mengingat saat saat sekolah nya dulu, Daffa tidak merespon, ingin mendengar ucapan zila selanjutnya
"aku tuh sering ngajak Hana lewat depan kelas kamu, cuman buat mastiin kamu turun atau enggak, kalo seharian aku ga lihat kamu di lapangan"
"kamu sadar ga sih, kalo aku tuh sering lewat depan kelas kamu"
"emm, nanti aku jawab jujur kamu marah lagi"
"emang kamu mau bilang apa"
"aku ga pernah merhatiin kamu sayang"
"ko kesannya aku jadi kaya cewe gatel yah, pengen di perhatiin kamu"
"Loh ko ngomongin gitu sih, itu kan kamu juga masih kecil sayang, kita beda 3 tahun kan"
"emm, iyaa, aku sekolah nya kecepatan harusnya kamu lulus baru aku masuk, terus apa hubungannya sama aku yang bucin akut Sama kamu"
"em berarti dulu tu kamu wajar lah punya rasa Suka ke aku, dan bukan karena kamu cewe gatel"
"tau ah, aku bingung"
" I love you istriku"
" I love you Kaka kelas ku"
Daffa terkekeh geli mendengarnya
"kalo aku ngomong kaya gitu pas sekolah kira kira respon kamu kaya gimana"
"Gimana yah, aku ga pernah kepikiran, aku tau kamu sayang__ga mungkin kamu bakalan ngomong kaya gitu ke aku"
"kan misalnya daf"
"emm, aku bakal bilang, sekolah dulu deh yang bener"
"alah, so Soan nyuruh aku sekolah dulu, situ waktu kelulusan kan, nyatain cinta ke cewe idaman"
"iya tapi kan aku nggak ngajak dia pacaran yang"
"lah terus apa bedanya sama aku, aku kan juga nggak ngajak kamu nikah, cuman mengungkapkan perasaan aja"
"iyaa tapi kan kamu masih kecil, berapa coba umur kamu waktu SMA"
"emm, 14 tahun"
"waduh kecil banget, sedangkan aku waktu lulus udah mau 18"
"sama sama SMA juga" zila menutup matanya__ lelah sebenarnya berdebat seperti ini, tapi seru juga, mengingat masa lalu dimana ia sangat mengagumi sosok Daffa, yang tidak pernah ia bayangkan bisa memilikinya, tapi sekarang Daffa, si pria tampan, pintar, keren, tidur dengan memeluknya setiap malam, meskipun sebelumnya mereka harus melewati banyak rintangan di sebrang sana
"seterah kamu deh daf"
" utung anak ku sayang, cepat lahiryah, kesian papah kena marah mamah mu terus, kalo kamu udah lahiran kan__papah bisa cepat cepat buatkan adik lagi"
zila mencubit tangan daffa yang asik mengusap perut dari balik bajunya,
"aduh sakit sayang" daffa mengusap tangan bekas cubitan zila
"makanya kalo ngomong di saring dulu"
"lah aku salahnya di mana lagi sayang"
"semuanya salah"
__ADS_1