
Kiya segera menutup buku bacaannya setelah mendengar suara kaki Zidan yang baru pulang, ia bergegas keluar menemui suaminya.
"sini zi biar aku yang bawa" Zidan menyerahkan tas kerjanya, ia berjalan lebih dulu di ikuti Kiya di belakang.
"pasti kamu capek banget yaa"
"mau mandi air hangat nggak?"
Zidan menatap dingin wanita yang duduk bersimpuh di hadapannya itu.
"aku mau kamu pergi dari hadapan ku"
deg Kiya beralih duduk di samping Zidan, ia genggam tangan suaminya tapi dengan cepat zidan menepis kasar tangan nya
"aku ada salah apa lagi sama kamu zi, ko ngomong nya gitu"
"kamu emang nggak pernah bener di mataku setelah kejadian itu" Kiya menggigit bibir bawahnya, sesak di dada sekuat mungkin ia tahan.
"ya udah kalo kamu lagi ga mood , aku paham pasti kamu Lelah kan ,lagi banyak kerjaan yaa, aku turun dulu siapin makanan, kamu mandi gih biar lebih seger"
Kiya tersenyum singkat sebelum berlalu dari sana, Kiya menutup matanya, meraup oksigen sebanyak banyaknya, mengatur nafas yang kian sesak ia rasa.
Kiya sudah memasak tinggal di panaskan saja, Hari ini ia memasak cukup banyak, entahlah ia juga tidak tau, semuanya ingin di misak.
Kiya meletakkan lauk di piring Zidan,ia duduk di hadapannya, dari semua yang kiya masak hari ini , hanya perkedel kentang yang ia ambil.
"kamu masak sebegini banyaknya buat apa,mau hajatan kamu" Zidan memasukkan makanan ke mulutnya setelah berucap, ia tidak menatap wajah lawan bicaranya.
"enggak tau, pengen aja "
"Belajar hemat Ki, kalo nggak perlu perlu banget jangan di beli, kamu masak semua ini untuk kita berdua, emang mampu kamu ngabisin semuanya, kita baru pindah, keuangan kita juga belum membaik, kalo bisa masak satu menu aja setiap kali masak"
Kiya hanya mengangguk pasrah, ia salah lagi di mata Zidan.
"besok zila mau main kerumah, aku harap kamu nggak bikin masalah selama mereka ada" Kiya menatap Zidan ia sedikit tidak terima dengan apa yang zidan ucapkan
__ADS_1
"kamu ngomong apa tadi zi?" Kiya Hanya ingin memastikan jika ia tidak salah dengar
"jangan buat masalah saat adik aku dan suami nya ada di rumah"
"Kamu bilang aku bikin masalah?"
"iyaa"
"aku bikin masalah apa , sampai kamu tega ngomong kaya gitu"
Zidan meletakkan sendok dan garpu cukup keras,. denting di antara keduanya terdengar jelas.
"Semua masalah yang ada di rumah tangga kita, semua yang terjadi di rumah ini, Semua pertengkaran kita, itu semua ulah kamu"
"aku?"
"iya kamu!!"
Kiya hanya menunduk, ia kembali memasukkan makanan ke mulutnya yang sempat tertunda, Kiya begitu lelah jika harus berdebat lebih jauh lagi, diam adalah pilihan terbaik untuk menyudahi pertengkaran yang tidak ada habisnya.
Kiya penasaran siapa yang menelpon suaminya berkali-kali seperti itu, tapi zidan tidak mengangkat nya itu berarti panggilan nya tidak penting.
"Zi kenapa nggak di angkat, siapa tau penting" Kiya menuang air dari teko untuk Zidan. Zidan pergi begitu saja setelah meneguk habis airnya, Kiya dapat melihat dari jauh, pria itu akhirnya mengangkat panggilan yang masuk.
...
Baru aja selesai makan Kiya merasakan perutnya di putar di dalam sana, seakan ia di minta memuntahkan kembali semua makanan yang baru masuk tadi, Kiya menyeka mulutnya dari sisa muntahan. kakinya melemas, tenaganya terkuras, Kiya benar benar memuntahkan semua makanan nya.
"aku sudah telat satu Minggu, apa aku harus periksa"
sebenarnya sudah beberapa hari ini ia merasakan hal itu, makan muntah, makan di muntah, Kiya juga sudah telat satu Minggu, ia juga merasa ingin memakan sesuatu dengan tiba tiba, Kiya sebenarnya tau itu tanda apa, tapi ia takut kecewa lagi, takut hasilnya sama , makanya sampai sekarang Kiya belum berani memeriksakan kondisinya, tapi hari ini Kiya ingin tau hasilnya , ia hanya ingin memastikan, jikapun hasilnya sama, Kiya akan tetap berusaha ikhlas, mungkin belum waktunya.
Kiya sudah menyimpan alat tes kehamilan itu beberapa hari lalu, ia juga sudah mengenakan alat itu urinnya, Kiya tidak berani melihat hasilnya takut kecewa lagi.
Kiya menarik nafas panjang sebelum melihat hasilnya dan....
__ADS_1
positif, hasilnya positif, air mata kebahagiaan jatuh begitu saja, kiya tidak menyangka, sungguh semuanya masih terasa mimpi untuknya, ada malaikat kecil yang hadir di hidupnya
"Aku hamil" dengan suara bergetar
"ada bayi di Perut ku" di usapnya perut yang masih rata itu.
" enggak aku nggak boleh senang Dulu, baiknya aku periksakan ke dokter, sebelum ngasih tau Zidan, takutnya ada yang salah di alat ini"
"Kiya kamu tidur ya di dalam" Kiya memang sudah hampir satu jam di dalam sana, tidak heran kenapa Zidan bisa ngomong kaya gitu.
Kiya akhirnya keluar dengan perasaan bingung, sebenarnya ia ingin segera memberitahu Zidan kalo iya positif, tapi ia juga ragu takut hasilnya salah, Zidan bisa semakin kecewa di buatnya.
"Kenapa kamu liatin aku kaya gitu"
"hah, enggak " Kiya meletakkan hasil tes tadi ke dalam laci mejanya, kiya juga mematikan Lampu kamar setelah melihat Zidan yang sudah tidur menenggelamkan dirinya di dalam selimut.
malam belum terlalu larut baru saja mereka melaksanakan sholat isya, mungkin karena kelelahan jadi Zidan ingin tidur lebih awal
Kiya merasakan Zidan menarik tubuhnya agar lebih dekat dengan nya, Zidan merengkuh tubuh kecil.itu di dalam dekapannya, tangan Zidan tidak tinggal diam di perutnya, bergerak abstrak di sana, Kiya merasakan desiran karena ulah Zidan, Kiya menahan tangan Zidan yang sudah masuk ke dalam bajunya, Kiya paham maksud Zidan Jika sudah bertingkah seperti sekarang.
Zidan menepis tangan Kiya dan terus mengusap perut istrinya, menyentuh daerah sensitif milik kiya, Zidan memiringkan kepala Kiya agar menghadap nya, menyatukan bibir mereka, Kiya melepas tautan bibir itu
"kamu kenapa sih" Zidan mulai kesal , ia merasa Kiya menolak nya, Kiya tidak nya menolak ,ia Hanya takut, takut Jika ia sungguh sedang mengandung,takut anaknya kenapa Kenapa, kiya tidak ingin anaknya terluka di dalam sana, Kiya sudah menunggu hadirnya, Kiya tidak ingin kehilangannya.
"zi jangan malam ini yaa, aku lelah" Kiya berusaha memberitahu Zidan selembut mungkin , berusaha agar Zidan tidak tersinggung dengan ucapannya.
"kamu lelah? yang benar saja" Zidan menyunggingkan senyum. senyum merendahkan.
"aku yang lelah, aku yang harusnya mengeluh, aku kerja seharian, dan ku cuman mau kamu ngelayani aku malam ini"
"ok kalo kamu nggak mau , aku akan cari wanita yang bisa di bayar di luar sana, yang bisa melayani aku"
"ZIDAN KAMU NGOMONG APA SIH" Kiya bangun duduk di hadapan pria itu, jujur Zidan Hanya mengancam, ia tidak serius dengan ucapannya, tapi respon Kiya sungguh Zidan lebih tidak menyangka akan hal itu.
__ADS_1
"kamu sudah berani membentak suami kamu "