
Zidan menutup matanya sesaat, pria berusia menetralkan amarahnya, ia tidak ingin terpancing emosi Jika terus berusaha berdebat dengan Kiya.
"mau jalan kemana-- sih"
Kiya tidak merespon, sebenarnya Kiya tidak mengantuk Hanya sedang malas saja berdebat dengan Zidan.
"hayy, tidur yaah"
tidak mendapat respon, Zidan mempererat pelukannya.
"semenjak hamil kamu berubah ya Ki"
"berubah apanya"
"jadi pemarah"
"bawaan hamil mungkin, kamu juga berubah, lebih perhatian ke aku, yaa--meski aku tau itu semua karena kehamilan ini"
"emm, terserah kamu mau menganggap nya gimana, terserah mau menilai ketulusan aku kaya gimana, yang pasti aku gak mau terjadi apapun dengan kamu dan calon anak kita"
dering ponsel kembali berbunyi, nama alesha tertera di layar ponsel pria itu, zidan lebih memilih mematikan ponselnya dan kembali memeluk sang istri.
"maafin aku sha, nanti aku ke sana, Sekarang aku ingin bersama kiya dulu" batin Zidan, sebelum meletakkan kembali ponsel nya di atas nakas
"siapa, kenapa gak di angkat, kali aja penting"
"gak penting"
"zii kamu sayang gak sih sama aku"
"pertanyaan bodoh itu lagi, kalo aku nggak sayang, aku akan biarkan kamu jadi__"
Zidan tidak jadi melanjutkan ucapannya
"jadi apa zii, kenapa nggak di lanjutkan "
Kiya paham kemana arah ucapan zidan tadi, zidan mengingatkan nya lagi akan masa lalu yang kelam, masa lalu yang begitu ingin ia kubur dalam , tapi pria itu justru mengungkitnya lagi.
"jadi apa ziii"
"BISA DIAM GAK SIH, JANGAN TERUS MEMANCING EMOSI KU KII"
Kiya membalik badannya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang zidan, perasaan bersalah kini memenuhi hati pria itu, sebenarnya zidan juga tidak ingin membahasnya lagi, tapi kalimat itu keluar begitu saja, zidan meletakkan dagunya di atas kepala sang istri, sesekali ia membubuhkan ciuman di pucuk kepala Kiya, zidan juga mengusap punggung wanita itu, zidan bisa merasakan getaran dari pelukan Kiya, wanita itu menangis di pelukannya
"aku sayang kamu Kii, sayang banget, aku cuman kecewa sama kamu, rasa kecewa itu yang akhirnya membuat mu terus tersakiti seperti ini, maafkan aku Kii, maaf" batin zidan.
"iyaa aku sayang kamu, sayang Banget " pada akhirnya hanya itu yang bisa zidan ungkapkan sebagai penenang untuk Kiya.
"usah, jangan nangis lagi ah, baju ku basah Kii"
"udah yaa jangan nangis lagi, mau jalan nggak "
__ADS_1
tidak ada sautan dari Kiya
"Ki mau jalan nggak"
Kiya menggeleng, dan kembali mempererat pelukannya
"kenapa--katanya mau jalan"
"aku mau gini dulu, entar malam kamu pergi lagi, aku cuman bisa meluk guling, dua hari ini aku merindukan kamu zi, aku rindu bau tubuhmu ini "
"yaa udah terserah kamu aja"
..
Kiya tertidur di dalam pelukan hangat Zidan, ponsel milik zidan tidak hentinya berdering, selalu saja sama, nama alesha tertera di layar benda pipih itu.
Zidan berdecak kesal, perlahan ia melepaskan pelukan Kiya, takut Kiya terusik dari tidurnya, zidan menggunakan bantal guling sebagai ganti untuk di peluk Kiya
Pria itu turun dari ranjang, menutup pintu kamar agar suara obrolannya tidak terdengar masuk ke dalam
"kenapa sih kamu terus terusan nelpon "
"maaf mas, aku cuman butuh bantuan kamu, gak ada yang bisa di mintain tolong "
Zidan memijat keningnya yang mulai pusing karena terjebak di antara dua wanita yang sama sama sedang membutuhkan nya
"maaf aku terbawa emosi, kamu mau aku lakuin apa"
"ok nanti aku yang ambilin"
"makasih ya mas"
"emm, kabar kamu gi mana"
"Alhamdulillah baik, cuman sama dokter di bolehin pulangnya besok"
"ya udah aku langsung ke sana, aku tutup dulu assalamualaikum "
"waalaikumsallam, makasih mas"
Zidan tidak lagi menjawab, ia mematikan panggilan nya, sesaat pria itu duduk di ruang tamu memijat pelipisnya, sebenarnya berat meninggalkan sang istri, tapi lagi lagi ada tanggung jawab yang juga harus ia lakukan.
Zidan kembali ke kamar, ia menatap wajah tenang Kiya yang terlelap, di singkirkan nya rambut rambut halus yang menutupi wajah sang istri.
"maaf ya Ki, aku harus pergi lagi, aku janji bakal ajak kamu jalan" satu kecupan zidan berikan di kening Kiya.
belum sempat ia melangkah tangan nya sudah di cekal, wanita itu sadar dengan kehadiran suaminya
"kamu bangun"
"emm, kamu mau kemana zi, katanya bakal berangkat malam, ini baru jam 2 siang zii"
__ADS_1
"tadi teman ku nelpon aku di minta kesana sekarang"
Kiya melepas pegangan tangan nya, wajahnya tertunduk lesu, baru aja mereka bertemu, zidan sudah harus pergi lagi dengan alasan yang sama.
"hati hati" ucap Kiya , zidan tau istrinya tidak ingin ia pergi, tapi bagaimana pun zidan harus bisa membagi waktunya.
"aku pergi dulu jangan telat makan, assalamualaikum "
"waalaikumsallam "
Kiya mengusap air matanya, terlalu sakit melerakan suaminya pergi menemui wanita lain, istri mana yang sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah satu satunya di hidup sang suami.
ingin menyerah pun rasanya sudah kepalang tanggung, Kiya hanya ingin melihat sampai mana zidan bisa menutupi kebohongannya.
...
Masak sendiri, makan pun Kiya sendiri beberapa hari ini, sudah satu Minggu suaminya tidak pernah bermalam di rumah, sudah satu Minggu juga Kiya harus menahan sesak akan fakta suaminya yang menghabiskan waktu bersama selingkuhannya.
Zidan akan pulang pagi dan kembali bekerja, tapi pria itu tidak pernah pulang ke rumah, ia terus memberi alasan yang sama.
Kiya mendengar bunyi mobil yang masuk ke dalam parkiran rumah nya, Kiya bergegas keluar memastikan kalo itu Zidan nya.
"Zidan" Kiya berhambur ke pelukan suaminya, akhirnya setelah dua Minggu zidan bisa pulang ke rumah nya lagi.
"kamu pulang gak nginep lagi"
"emm, kerjaan ku udah beres aku bisa tidur di rumah lagi"
Kiya mendongak di dalam pelukan Zidan, begitu pula dengan zidan yang menunduk menatap wajah istrinya yang tidak pernah lepas dari senyuman.
Zidan mengecup singkat bibir ranum Kiya, dan membalas pelukannya.
"kamu lapar, atau mau mandi dulu"
"mandi lah, gerah banget ini"
"ya udah ayoo"
"kamu senang banget aku pulang yaa"
"iya lah, dua Minggu kamu gak pernah pulang ke rumah, aku jadi kangen nyambut kamu kaya gini"
"segitu nya, padahal baru dua Minggu, gimana aku yang dulu kamu tinggal berbulan bulan, tanpa kabar"
"zidaaan" di peluk nya lagi dengan erat tubuh sang suami, aroma tubuh Zidan adalah candu untuknya.
"kamu mau peluk gini terus atau biarin aku naik terus mandi, sudah gerah banget inii"
Kiya terkekeh singkat, melepaskan pelukannya, ia sampai lupa menyalimi tangan zidan karena terlalu senang.
^^^^^^hey gess apa kabar baik lah jangan sakit sakit hehehe,maaf yaa baru up, ada kesibukan di real life juga yang harus aku selesaikan, eh ngemeng ngemeng kalian ada yang baca di watpad ga sih, kali aja ada yang mau mampir ke cerita aku yang ada di sana judulnya " ELZHA" jadi cerita ini menceritakan tentang seorang pria yang tumbuh dan besar di lingkungan yang agamis, orang nya Soleh, ia juga mengajar di salah satu pesantren nah terus karena perjodohan pria ini harus menikah dengan seorang wanita yang seumuran dengan nya tapi mempunyai sifat dan watak yang jauh Berbeda darinya, wanita itu hanyalah wanita akhir jaman , yang jauh dari kata Soleha.^^^^^^
__ADS_1
^^^ok lah segitu dulu cerita dadaah^^^