Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Main basket


__ADS_3

cinta hadir karena terbiasa, dekat dengan seseorang bukan berarti ia yang akan menemani perjalanan hidup kita yang sesungguhnya, bisa saja orang yang bahkan tidak masuk dalam list di hidup kita yang akan menjadi sosok yang paling kita butuhkan selama menjalani kehidupan.


jangan pernah salahkan takdir yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, apa yang kita rencanakan belum tentu itu yang terbaik untuk kita, kita manusia hanya bisa berusaha serta berdoa untuk menerima takdir terbaik dari Tuhan.


terkadang hadir nya seseorang di hidup kita menjadi ujian untuk kita, apa kita sanggup atau tidak menghadapinya, intinya jangan pernah salahkan takdir yang sudah tuhan tetapkan untuk kita.


....


"Sayang mamah telpon katanya sore baru bisa mampir soalnya ada kerjaan mendadak"


zila yang duduk di meja riasnya sambil melakukan rutinitas perawatan wajah seperti biasanya tersenyum kemenangan, berarti masih ada waktu untuk nya menyiapkan sesuatu untuk mereka


"daf kita ke pasar yuk"


"ngapain sayang" Daffa mengeringkan rambutnya di samping zila


"main basket" zila melempar kapas yang ia gunakan tadi ke tong sampah di samping Daffa dengan kasar, kesal dengan pertanyaan Daffa


"tapi di sana ga ada lapangan sayang" zila memutar bola matanya jengah, berlalu memungut handuk yang Daffa gunakan tadi


"sayang __sayang gimana main basketnya jadi gak" teriak Daffa


"main sana sendiri"


"Daffa tertawa terbahak-bahak melihat respon istrinya, sampai susah berdiri menyusul zila yang sudah ia buat kesal


"sayang tunggu"


di dapur , zila menyiapkan teh hangat untuk Daffa, Daffa mendekat dan memeluknya dari belakang, zila menyenggol Daffa agar di lepaskan


"minggir"


"jangan marah dong aku kan cuman bercanda"


"minggir dulu napah, kamu mau ketumpahan air panas"


Daffa menurut bahaya negeri ngeri sedap, zila yang sedang marah dan memegang air panas bisa bisa ia meleleh.


Daffa terus mengekor kemana saja zila pergi, tidak juga ingin memulai obrolan takut benda yang sedang di pegang zila melayang ke wajahnya. sampai zila di buat Semakin kesal dan berhenti mendadak sat ingin kembali ke kamar alhasil daffa jadi tertabrak belakangnya


"Daffa, kamu ini kenapa sih, kaya anak kecil aja, kalo aku tadi jatuh karena kamu tabrak gimana"

__ADS_1


"maaf sayang, aku kan ga sengaja, ayo deyh kita kepasar"


"males"


"Katanya mau main basket di pasar"


"daffaaa" sungguh zila ingin menendang Daffa Hingga tersangkut di ujung Monas


Entahlah pria itu justru tertawa sambil memegangi perutnya yang keram karena tertawa, menjahili istrinya seperti ini sudah menjadi hiburannya sekarang, seru juga membuat zila marah, seperti sekarang, tanpa pria itu sadari , zila justru meneteskan air mata, enggan daffa melihatnya menangis zila lebih memilih masuk kedalam kamar, duduk di balkon kamar menikmati matahari pagi , sambil menatap gedung gedung bertingkat di sekitar tempat tinggalnya,


"sayang ngapain ayo siap siap kita ke pasar"


"sayang" tidak ada respon dan Daffa baru sadar istrinya itu terisak di sana


"sayang maafin aku, aku cuman bercanda" zila semakin di buat menangis dan menutup wajahnya, semakin merasa bersalah jugalah Daffa dibuatnya


"sayang, maaf"


"aku cuman mau bercanda sama kamu, aku kira kamu marah nya cuman sebentar, maaf yah kalo aku keterlaluan bercandanya


"Daffaa" zila merentangkan tangannya , mengisyaratkan Daffa masuk ke dalam pelukannya, Daffa mendekap erat tubuh istrinya yang masih terisak, membiarkan sang istri tenang dulu, tanpa mau bertanya apapun, Daffa mengurai pelukannya setelah sadar zila sudah tidak menangis lagi, di hapus nya jejak sisa air mata di wajah sang istri


"Maafin aku yah"


"sayaaang" daffa kembali memeluk zila, jadi istrinya itu menangis karena terharu bukan karena kesal, justru ucapan zila tadi membuat ia mengingat kembali betapa buruknya perlakuannya pada zila, Daffa yang dingin, tidak peduli dengan zila, bodo amat dengan semua yang zila lakukan untuknya, dan sekarang setelah semuanya membaik, istrinya sampai menangis haru melihat kondisi rumah tangganya yang sekarang.


" hust, Sudah yah__ jangan nangis lagi"


"Aku ga mimpi kan daf, kamu sungguh suamiku kan daf, ini nyata kan , aku ga lagi menghayal kan daf, Tolong jika ini mimpi aku mohon jangan bangunkan aku daf, sungguh mimpi ini terlalu indah dan terasa nyata"


"sayang, kamu nggak mimpi ini aku suami kamu"


"Daffaa" zila mengangkat wajahnya sesaat menatap Daffa kemudian kembali memeluk Daffa


"sayaaang, aku ga tau lagi gimana caranya meminta maaf sama kamu, semua perbuatan ku di masa lalu, sungguh keterlaluan, sampai kamu merasa semua perhatian ku ke kamu ga nyata, sebegitu jahatnya aku ke kamu, maafin aku Zil, maaf"


zila menggeleng di pelukan Daffa, meremas kuat baju bagian belakang Daffa,


"sudah yah jangan nangis lagi, gimana kalo kita jalan jalan, mau ke mall nggak"


"mau" jawab zila dengan suara serak

__ADS_1


"yaudah sana siap siap dulu"


Daffa merenggangkan pelukannya, menatap wajah sang istri yang lembab karena menangis


"aduh istri aku yang cantik, gemesin ini, kalo nangis jadi jelek tau "


"aku ko jadi cengeng banget kaya gini yah daf, dikit dikit nangis, salah dikit nangis"


"ga papa sayang, nangis itu hal wajar, terkadang kita perlu menangis untuk melegakan perasaan sesak di dada, apa lagi kamu kan lagi hamil, faktor hormon, jadi wajar kalo kamu nangis, tapi aku yang ga tega liat kamu nangis, aku rasa sudah cukup air mata kamu keluar gara gara sikap ku yang dulu, sekarang aku hanya ingin kamu bahagia, selalu"


zila kembali memeluk Daffa , erat Sangat erat


....


"daf, Gimana cantik nggak"


"cantik sayang, kalo orangnya sudah cantik, apapun itu akan terlihat cantik"


entah lah , mungkin sekarang pipi zila sudah memerah seperti kepiting rebus. zila jadi salah tingkah sendiri di buatnya, zila meraih slim bag di atas nakas, berlalu lebih dulu meninggalkan daffa yang sejak tadi menunggunya bersiap.


"sayang tunggu, orang dari tadi suaminya nungguin loh ko malah di tinggal sih" omel Daffa kesal


Daffa berjalan di samping zila, menyatukan jemari mereka, sambil menyusuri lorong apartemen


"Daf, aku pengen deh kita punya rumah sendiri, ga usah tinggal di apartemen lagi, walaupun kecil"


di dalam mobil yang melaju zila berucap demikian, sambil menatap setiap pemandangan yang mereka lewati, Daffa menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam tangan zila



" kamu ga betah yah tinggal di apartemen"


"bukannya gak betah , aku pengen aja rumah kita punya halaman, terus aku bisa nanam bunga di depannya, hari Ahad kita bisa duduk minum teh di sana"


"Ya Allah gemesin banget keinginan istri aku yang cantik ini"


"emangnya kamu pengen rumah yang kaya gimana sayang" lanjut Daffa


"rumah minimalis gaya Amerikan klasik gitu loh"


"Bismillah dulu yah"

__ADS_1


zila mengangguk, tersenyum manis ke arah Daffa, sungguh Daffa bisa meleleh melihat istrinya yang ia sayangi tersenyum semanis itu


__ADS_2