
Nyatanya semarah dan se kecewa apapun Zidan dengan Kiya tapi rasa sayang itu masih ada, Zidan juga sama, ia belum tidur, Zidan yang sejak tadi sudah gelisah memilih bangun dan keluar dari kamar, tidak lama Zidan masuk lagi dengan kotak obat di tangannya, ia duduk di pinggiran rajang, Kiya yang memang belum tidur menyadari kehadiran Zidan .
"Coba liat tangan kamu" Benar saja yang dipikirkan Zidan , wanita itu tidak mengobati lukanya, bahkan darah yang sudah mengering tidak Kiya bersihkan.
"Bangun" dengan nada dingin pria itu meminta Kiya duduk di samping nya agar lebih mudah untuk di obati, Kiya menurut dan membiarkan Zidan mengobati lukanya, Kiya menatap wajah Zidan yang telaten mengoleskan obat di lukanya, perasaan kiya menghangat dengan sikap Zidan.
"Zidan__" belum selesai ucapan Kiya , Zidan langsung memotong nya
"kenapa? sengaja lukanya di biarkan, biar aku iba terus ngobatin kamu, iyaa"
"ko ngomong gitu sih zi" baru aja Kiya merasakan kehangatan dari Zidan, tapi lagi lagi pria itu membuat hatinya luka dengan semua ucapan yang menyakitkan dari mulutnya.
"Jangan besar kepala kamu, aku ngobatin luka kamu , biar nggak banyak ngeluarin biyaya kalo lukanya infeksi" Zidan melepas kasar tangan Kiya yang tadi ia genggam erat, kotak obat ia simpan di atas nakas, lampu kembali ia padamkan, menyisakan Kiya yang duduk menahan sesak, Kiya menatap langit-langit kamar, menahan agar air matanya tidak lancang keluar.
"Tidur jangan nangis, kebanyakan drama kamu, kalo mau nangis keluar Sana, aku mau tidur"
Kiya membalik, di tatapnya Nanar punggung pria yang tidur membelakanginya.
...
Selesai sholat subuh Kiya bergegas membuat sarapan, takutnya ia telat lagi seperti beberapa hari lalu, Zidan sampai tidak sempat sarapan sebelum bekerja karena ia kesiangan.
nasi goreng cumi yang menjadi menu sarapan pagi, di tambah segelas teh hangat sudah siap tersaji di atas meja makan, tidak lama Zidan keluar dengan penampilan yang sudah rapi, duduk di kursi berhadapan dengan Kiya,
"Kamu mau aku bawain bekal nggak zi"
"jangan aneh aneh kamu, kamu mau aku di ketawa in mahasiswa di kampus"
__ADS_1
"kenapa zi" nggak ada salahnya juga kan, banyak ko Suami di luar sana yang bawa be___"
pukulan meja menghentikan ucapan Kiya, Daffa dengan emosinya meletakkan sendok dengan cukup keras hingga meja makan berdentum cukup kuat.
"Zidaaan" tegur Kiya
"bisa nggak sih jangan buat mood ku rusak, ini masih pagi Lo yaa, kamu sudah ngajak aku berdebat, aku bilang aku nggak mau ya nggak mau, kamu ngerti ngga sih"
"tapi aku kan cuma____"
pria itu menyeruput tehnya, ia teguk hingga sisa setengah, nasi gorengnya tidak ia habiskan, Zidan pergi dengan emosinya.
"Zi habiskan sarapannya dulu" teriak Kiya tapi jelas di abaikan oleh Zidan
kaki Kiya tersandung kaki meja saat mencoba mengejar suaminya.
...
sesampainya Zidan di kampus ia langsung memulai harinya dengan masuk di kelas pertama, Zidan mengajar ilmu sosiologi di fakultas internasional yang ada di Korea.
Zidan di kenal dengan dosen yang sangat berwibawa , bukan hanya di kalangan mahasiswa tapi juga dengan rekan kerjanya, Zidan bahkan dikenal dengan ketampanannya, pria Tampan, pintar, juga berwibawa.
Zidan berencana akan pindah kembali ke Indonesia dalam waktu dekat, sekarang pun ia mulai mengurus berkas yang di perlukan, alasan ia memilih bekerja di Korea karena Kiya begitu menyukai hal hal yang berbau Korea, karena cintanya dengan Kiya Zidan memilih untuk tinggal bersama di Korea tapi semenjak kejadian yang membuat hubungan mereka renggang, Zidan ingin kembali ke Indonesia dalam waktu dekat, mungkin dalam waktu dekat Zidan dan Kiya sudah di Indonesia, alasan mereka ke Indonesia waktu itu , juga untuk mengurus kepulangan mereka. Tidak ada alasan lagi untuk Zidan tetap bertahan di Korea.
...
sedangkan di rumah , tidak ada yang bisa kiya lakukan selain duduk melamun di balkon kamar, memandangi bangunan tinggi bertingkat yang mengelilingi tempat tinggalnya.
__ADS_1
Kiya pernah bekerja di Inggris sebagai peneliti, tapi karena Zidan tidak Suka, ia akhirnya berhenti bekerja di sana dan menjadi ibu rumah tangga biasa, Kiya mengubur dalam impiannya yang ingin menjadi peneliti.
sampai sekarang mereka belum juga di karuniai momongan, entah lah lah apa yang salah mungkin belum rejeki aja, Kiya sebenarnya sangat berharap bisa segera mengandung, ia berharap Zidan bisa sedikit melunak jika di tengah rumah tangga mereka yang mulai merenggang ini hadir seorang anak yang menjadi penghangat.
setiap hari setiap waktu kiya selalu meminta maaf pada Zidan tapi pria sama sekali tidak mau menerima permintaan maafnya, begitu kecewanya kah Zidan akan kesalahannya , tanpa mau lagi mendengar penjelasannya, Kadang Kiya merasa lelah, ia ingin pergi jauh dari hidup Zidan tapi cinta yang lagi lagi menghentikannya.
Kiya bergegas keluar untuk menyambut Zidan seperti biasa, dengan senyum yang mengembang Kiya meraih tangan Zidan untuk di salimi, Kiya juga membantu Zidan membawa tas kerjanya
"Aku sudah siapakah air hangat , kamu mandi dulu aja , aku mau panaskan masakannya dulu" Zidan tidak merespon ucapan Kiya , ia menuju dapur untuk mengambil minum. Kiya ingin membantu Zidan melepas dasinya tapi dengan kasar Zidan menepis tangannya.
"Sini biar aku bantu zi"
"nggak usah" tapi Kiya tidak perduli ia tetap berusaha membantu Zidan melepas tautan kancing bajunya, Zidan yang mulai tersulut emosi mendorong tubuh kecil Kiya hingga Kiya jatuh ke lantai.
"AKU BILANG KAN NGGAK USAH YA NGGAK USAH, KAMU INI AGGRHHH" Zidan mengusap wajahnya prustasi, ia memilih menjauh dari sana tapi panggilan Kiya menghentikan langkahnya
"Zidaaan" panggil Kiya lirih menahan sesak
"aku minta maaf, aku salah zi, aku minta maaf, jangan kaya gini zi, aku sayang kamu zi, aku minta maaf"
"maaf kamu nggak akan bisa merubah semuanya yaaa"
"aku harus apa agar kamu mau maafin aku zi , katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku "
"sampai mati pun aku nggak akan bisa memaafkan kamu yaa" Zidan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan zila yang masih duduk bersimpuh di lantai dingin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Zidaaaaan maaaff" teriak Kiya dari luar tapi bisa didengar jelas oleh Zidan.
__ADS_1
pria itu menghantam tembok berulang kali, menyalurkan emosi yang sudah meluap, sebenarnya hatinya sakit melihat Kiya yang selalu menangis karena ulahnya, hanya rasa kecewanya terlalu besar pada Kiya mengalahkan rasa cinta yang pernah ada.