
Setelah memikirkan sehari semalam zila akhirnya mau ikut reuni sekolah yang akan di adakan besok. awalnya zila menolak dan Daffa juga tidak memaksanya, tapi Daffa tidak akan pergi jika zila tidak pergi, dan akhirnya zila setuju untuk ikut.
Dan sekarang zila sedang berdiri di depan lemarinya memilih baju yang akan ia gunakan untuk hari ini. Daffa yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya menghampiri zila yang ia lihat sudah berdiri di situ sejak ia masuk kamar mandi dan sampai sekarang masih di situ dengan posisi yang berbeda.
"kenapa, Hem"
"aku Bingung daf, mau pake baju apa"
"kenapa bingung, bajunya ga muat atau apa"
"Muat ko, kemaren aku baru beli baju"
"lah terus kenapa sayang, apa masalahnya"
"takut ga cocok di akunya"
"Apapun yang kamu pakai bagus ko Zil, pakai apa yang nyaman di kamunya yah"
"gimana kalo ini" zila mengangkat satu gamis berwarna hitam di hadapan Daffa
"bagus, cantik, lebih cantik lagi kalo sudah kamu pakai"
"sejak kapan laki gue pintar ngegombal kaya gini ya tuhan, siyapa yang sudah ngajarin sih" batin zila dan berlalu dari hadapan Daffa
Daffa juga mengenakan pakaian yang sudah di siapkan zila untuknya.
Sudah 1 Minggu mereka pindah kamar__ ke kamar tamu untuk sementara, karena zila sudah tidak sanggup lagi untuk bolak balik naik turun tangga , jadi mereka pindah ke kamar tamu, Daffa juga sudah tidak pernah lagi tidur di kamarnya, setiap malam ia habiskan tidur dengan zila di kamar tamu, semua pakaiannya pun juga sudah di pindahkan ke dalam kamar tamu.
selesai siap siap mereka langsung berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu seperti biasa, karena acaranya di mulai pagi hari , jika mereka sarapan dulu takutnya , acaranya sudah di mulai toh di sana juga sudah di siapkan makanan.
Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di sekolah mereka, tempatnya tidak jauh Hanya saja daffa mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati hati, zila sampai jengah sendiri dibuatnya, alasannya takut terjadi apa apa dengan istrinya, posesif memang.
zila gugup bukan main saat mobil Daffa sudah terparkir di parkiran sekolah. banyak alumni berlalu lalang, sedangkan mereka masih di dalam mobil
"Ayo sayang, mau berapa lama lagi kita di dalam mobil"
"kamu duluan aja deh , entar aku nyusul"
"kok gitu, nanti aku di kira datang sendiri terus ada godain gimana"
"idiyh, pede banget ya Allah, suami aku ini"
Daffa terkekeh mendengar nya
__ADS_1
"makanya ayo, kamu ga gerah di sini terus, aku yakin Hana sudah ada di dalam"
"aku Gimana__ cantik gak"
"selalu" Daffa mengusap pelan kepala zila, zila menurunkan tangan daffa dari kepalanya
"Iss, rusak kerudungnya daf"
"makanya ayo turun mas sudah lapar nih, kita belum ada makan kan di dalam ayo"
Daffa menyatukan jemarinya dengan jemari zila, berjalan beriringan hingga sampai di tempat duduk yang sudah di sediakan. mereka yang baru datang terpaksa duduk di barisan paling belakang, acara juga sudah di mulai ternyata , dan sekarang acara sambutan dari para alumni, di wakili Daffa yang waktu itu sebagai ketua OSIS untuk mewakili siswa laki laki, sedangkan Zahra wakil ketua OSIS yang akan akan mewakili siswa perempuan.
zila menyusuri semua bangku dari ujung ke ujung untuk mencari keberadaan Hana, di mana sahabatnya itu , Hana bilang ia sudah di jalan tapi sampai sekarang zila belum melihat batang hidungnya.
"Sambutan selanjutnya kita persilangan Dari ketua OSIS kita dan sekarang sudah menjadi dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta, siapa lagi kalo bukan Daffa Saputra" Mc
semua orang bertepuk tangan riuh, mencari cari keberadaan Daffa
zila Yang duduk di sebelah Daffa mempererat genggaman tangan nya di jemari Daffa, Daffa mengusap usap punggung tangan istrinya memberikan ketenangan di sana,Daffa Bingung juga ada apa dengan istrinya kenapa ia merasa takut seperti itu.
"Aku ke atas dulu yah, kamu tunggu sini"
zila enggan melepaskan genggaman tangan nya,
"sudah di telpon hana nya"
"katanya sudah datang tapi ga tau di mana"
Daffa melihat seseorang dari jauh yang ia kenal betul siapa dia , Erik sahabat nya tapi wanita di sebelahnya , benar itu Hana, Hana?, dengan Erik"
oh mungkin mereka baru datang pikir Daffa
"sayang itu Hana di belakang, kamu panggil dia yah, aku ke atas dulu ga enak di tunggu lama"
zila mengangguk
"Dari mana aja Lo, gue dari tadi nungguin Lo" zila baru sadar sahabatnya itu tidak datang sendiri ada Erik di sampingnya
"kalian bareng" zila menunjuk Erik dan Hana bergantian
"iya tadi mobil gue macet , kebetulan pas banget ada di , ya udah gue Nebeng"
zila hanya berooh ria
__ADS_1
Mereka duduk berdampingan, dan ternyata daffa juga baru sampai di atas aula, karena Daffa harus mampir beberapa kali menyapa teman teman nya.
"*Hay bro apa kabar niyh, makin ganteng aja Lo" tanya MC
"Alhamdulillah, Lo juga apa kabar"
"Alhamdulillah, sama siyapa Lo , sama istri atau masih sendiri, kalo masih sendiri masih banyak ko yang ngantri" ejek sang MC basa basi, tali bagi zila yang duduk di barisan belakang sangat basi.
"sama istri"
"wow, istri Lo alumni sini juga atau lain"
"alumni sini juga tu orangnya yang duduk paling belakang Baju abaya hitam" dengan bangganya Daffa menunjuk zila di barisan belakang
ok ini yang tidak di sukai zila, kini pandangan mata semua mengarah padanya, Hampir semua alumni kaget setelah tau zila lah wanita beruntung yang berhasil menikah dengan Daffa, banyak juga dari mereka bertanya tanya Kenapa zila bukan Zahra.
"Khaira fazila, istri gue"
sama seperti lainnya MC itu juga kaget bukan main, setau dia Daffa dekat dengan Zahra, kenapa menikah dengan wanita yang sama sekali jauh dari tipe ideal seorang Daffa.
MC itu yang kebetulan teman kelas juga satu organisasi dengan Daffa sudah pasti tau kedekatan Daffa dengan Zahra, tapi tidak mau juga banyak bertanya dan mempersilahkan Daffa memulai sambutannya
zila di belakang merasa gelisah karena banyak orang yang membicarakan dirinya, mempertanyakan keputusan Daffa untuk menikahinya.
Bahkan beberapa wanita yang duduk di depan mereka harus kena tegur Hana, karena terang terangan membicarakan sahabatnya
Hana menendang kursi yang wanita itu duduki, orang lain bahkan sampai terkejut mendengar bunyinya
"Lo apa apa an sih"
"Lo yang apa apa an, punya mulut bukannya di pakai buat dzikir, malah di pakai buat ngomongin orang"
"tapi apa yang kami omongin benar kan, teman Lo ini makai pelet buat memikat Daffa" wanita dengan rambut sebahu itu merupakan teman sekelas Daffa,
"kurang ajar Lo" Hana berdiri berniat menjambak rambut wanita itu, tapi dengan cepat Erik menahannya
"Han, tahan emosi lo"
zila yang mendengar umpatan demi umpatan yang di lontarkan untuknya, membuat hatinya sakit, sebenarnya ia ingin membalas semua ucapan orang orang itu, tapi ia rasa apa yang mereka ucapkan benar, tentang Daffa yang seharusnya tidak pernah menikah dengannya
Zila bahkan mencoba menenangkan Hana, takut terjadi perkelahian yang tidak di inginkan, harusnya ia yang diberi ketenangan di sini justru malah sebaliknya.
"sudah Han, biarin aja napah"
__ADS_1
"ga bisa Zil, ni cewe so tau , keterlaluan"