
PLAK
PLAK
"dua tamparan mendarat mulus di pipi zila, zila merasakan amis di sudut bibirnya yang mulai berdarah karena tamparan aulia, pipinya perih.
zila memegang pipi kanannya, menatap tajam Aulia yang berani menamparnya, zila ingin membalas tamparan aulia, tapi dengan cepat satu wanita lagi menahan lengannya.
"lepasin gue, gue ga ada masalah sama kalian" zila memberontak , berusaha melepas cengkraman tangan wanita itu yang mulai terasa sakit di pergelangan tangan nya, di tambah kuku kuku panjang nya menancap di kulit tangannya.
"lepas"
Aulia menyunggingkan senyum kemenangan, Aulia yang lebih tinggi dari zila , sedikit menunduk agar bisa menatap wajah zila yang sudah memerah karena tamparan nya tadi.
dengan tangan terlipat di dada, Aulia berucap
"Daffa tu ga pernah cinta sama Lo, entah apa yang Lo lakuin samping Daffa mau Nerima Lo, atau jangan jangan" Aulia menatap ke bawah, lebih tepatnya menatap perut buncit zila
"atau jangan-jangan Lo jebak Daffa ya, Lo ngaku di hamilin Daffa, terus minta pertanggungjawaban nya, padahal ni anak bukan anak Daffa, IYAAA, licik juga Lo ya"
"STOPPP, LO GA TAU APA APA YAH, TENTANG ANAK GUE DAN KELUARGA GUE, LO HANYA WANITA GA TAU DIRI, YANG CINTANYA DI TOLAK OLEH DAFFA, LO WANITA MURAHAN YANG DENGAN TANPA MALUNYA , MENGGODA SUAMI ORANG, LO _ _"
PLAK.
satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus zila, bahkan Aulia menarik rambut nya yang tertutup hijab Hingg zila mendongak ke atas
"APA LO BILANG WANITA MURAHAN, LO WANITA GA TAU MALU GA SADAR DIRI, SUDAH TAU DAFFA GA CINTA MASIH AJA DI PAKSA BUAT BERTAHAN" cengkraman di tangan dan di kepalanya Semakin mengeras
Demi apapun zila ingin menangis sekarang, tapi ia tahan, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan wanita penggoda ini, yang ada mereka semakin senang, zila hanya takut kerudungnya terlepas karena terlalu kuat di tarik, zila juga menahan perutnya yang mulai terasa sakit. zila hanya berharap ada yang datang menolongnya, ingin melawan pun zila tidak sanggup
di tempat lain
Daffa selesai menyuapi Zahra, Zahra kini terlihat lebih bertenaga Setelah makan, mereka melupakan wanita lain yang sedang tersiksa di tempat lain.
Daffa menyunggingkan senyum melihat keadaan Zahra yang mulai membaik, Daffa membukakan lagi satu botol air mineral untuk Zahra.
" Lo tu ga boleh telat makan Ra, dari dulu Lo ga berubah ya, masih sama kaya dulu ga Suka makan, tapi paling Suka nyari penyakit Lo"
Zahra memberanikan diri menatap Daffa, ingin rasanya ia peluk pria di depannya ini, ingin rasanya ia tumpahkan semua keluh kesahnya, ingin rasanya ia menceritakan Seperti apa ia bertahan selama daffa memberitahu dirinya ingin menikahi wanita lain selain dirinya.
"daf" sebegitu lirih nya Zahra memanggil daffa, dengan mata berkaca-kaca, hati daffa teriris Melihat wanita di depannya ini
__ADS_1
"kenapa Ra"
Zahra menunduk kembali, bahunya naik turun, Isakan kini dapat di dengar oleh daffa, tanpa pikir panjang akal sehatnya mengalah kan semua nya, daffa menarik Zahra ke dalam pelukannya.
Tanpa mereka tau ada orang lain yang merekam apa yang mereka lakukan.
....
"Erik, Lo liat Khaira ga"
"ga ada bukannya tadi bareng Lo yah"
"iya, terus dia nyusul Daffa, dari tadi belum balik, perasaan gue ga enak nih"
"yaudah kita cari bareng"
"aduh Zil, Lo kemana sih ya Allah__ buat gue kawatir aja" Hana mengusap wajahnya dengan kasar, setelah tidak kembali menemukan zila di ruangan ke sekian ia datangi bersama Erik
"tenang Han, siyapa tau Khaira udah bareng Daffa"
"tapi perasaan gue ga enak Rik"
....
"Lo mau liat nggak Daffa lagi mesra mesraan tau sama Zahra" Aulia mendekat kan layar ponselnya ke wajah zila, dengan jelas zila melihat suami yang ia kasihi memeluk erat wanita lain yang ia tau betul siapa itu , Zahra.
untuk satu ini zila tidak bisa lagi menahan tangisnya, air matanya jatuh, zila membuang wajahnya ke arah lain, tidak sanggup lagi Jika Terus melihat suami sendiri memeluk wanita lain__sakit rasanya.
Melihat ada orang yang mendekati mereka, Aulia melepaskan cengkraman tangannya, mendorong zila hingga terbentur ke tembok
"Kesian ga di anggap sama suami sendiri, makanya ngaca" Aulia dan gengnya melenggang pergi meninggalkan zila yang merosot duduk dilantai
"Khaira, Lo di apa in sama Aulia" mereka terbelalak melihat luka di sudut bibir zila, merah di kedua pipinya.
Mereka membatu zila berdiri, dengan tatapan kosong zila pergi dengan terus memegangi perutnya yang rasa sakit kini hilang berganti sakit yang teramat sakit di bagian perasaan nya
mereka tidak bisa berbuat apa apa, Hanya bisa melihat punggung zila menghilang di balik tembok
....
"DAFFA" teriak Hana melengking ke penjuru ruangan
__ADS_1
Daffa melepaskan pelukannya, keduanya kaget bukan main
"L__lo apa apa an daf" Hana masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat , Erik bahkan Hanya bisa diam mematung melihat daffa memeluk Zahra, daffa berdiri berniat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi
memang apa yang sudah terjadi, daffa menyuapi wanita lain sedangkan istrinya menahan lapar karena menunggu nya, atau Daffa yang dengan lancangnya memeluk wanita lain ,
"gak Han, Rik, ini gak seperti yang kalian kira"
Hana mengangkat tangan nya mengisyaratkan daffa berhenti menjelaskan karena sudah jelas apa yang ia lakukan
"di mana sahabat gue daf, di mana zila"
Daffa baru ingat dengan istri nya yang sedang hamil tua itu, ia meninggalkan zila untuk mencari air untuknya, tapi ia justru berakhir memeluk Zahra
"Han" panggil Zahra lirih berharap Hana mau mendengar penjelasan nya
"jangan katakan apapun, gue cuman nanya di mana zila"
"DI MANA ZILA" teriak Hana
"Sahabat gue, rela nahan lapar buat nungguin Lo balik daf, dia nyariin Lo daf, apa yang Lo lakuin daf"
"enggak Han ini ga seperti yang Lo bayangin"
"Hana " atensi mereka teralihkan ke sumber suara, itu wanita yang tadi menolong zila
"Lo nyariin Khaira yah"
Hana menganguk mengiyakan dan berlari mendekati wanita tadi, perasaannya sungguh tidak nyaman sebelum bertemu zila, zila memang wanita dewasa, tapi rasa khawatirnya terhadap zila juga tidak bisa di abaikan begitu saja.
Hana, Zahra juga Erik mendekat
"Gue ga tau Khaira kenapa, tapi tadi gue ketemu sama dia, gue ga tau apa yang sudah Aulia juga gengnya lakuin ke Khaira tapi , sudut bibirnya berdarah, pipinya merah, kerudungnya acak acakan, tatapannya kosong"
Hana tidak bisa lagi membendung air matanya, benar kan perasaannya__ sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja
"sekarang di mana Khaira"
"tadi kami ketemu di dekat parkiran kayanya dia keluar pagar deh"
Daffa berlari dengan perasaan bersalah, ketakutan , apa yang sudah istrinya itu lalui
__ADS_1
"Zil, maafin mas Zil" Monolog Daffa.