Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Sakit


__ADS_3

"Daf makan dulu, Lo sakit daf, kita harus kerumah sakit__ ayo"


"Lo pulang aja dam, gue mau sendiri"


"jangan keras kepala daf, kalo Lo sakit Gimana Lo nyari Khaira, kalo ga mau kerumah sakit, ya udah makan aja , biar Lo ada tenaganya"


sudah 30 menit Adam membujuk Daffa seperti ini, tapi pria itu enggan untuk membuka mulutnya, kerumah sakit untuk berobat pun Daffa tidak mau,. entah harus seperti apa lagi Adam lakukan, Adam tidak tega melihat keadaan sahabatnya yang memprihatinkan seperti ini, satu satunya jalan membawa Khaira kembali.


"Kalo gitu gue ke rumah sakit dulu yah, obat lo jangan lupa di minum"


Daffa Hanya menganguk


"assalamualaikum"


"waalaikumsallam"


.....


Daffa berusaha bangun dari tidurnya, waktunya sholat Dzuhur, Daffa yang biyasanya sholat di masjid sekarang hanya mampu sholat di rumah, Daffa mengabaikan tetesan darah yang keluar dari lubang hidungnya, seakan hal itu tidak penting untuk kesehatan nya, darah itu terus mengalir bersamaan dengan air yang ikut mengalir ke lubang pembuangan.


selesai sholat _ daffa menengadahkan tangannya, berdoa pada sang khalik, segala pujian untuknya dan kekasihnya ia awali untuk memulai doa , baru kemudian Daffa memulai doanya yang selalu sama__di setia harinya, di mana ia meminta agar ia bisa bertemu lagi dengan istri yang ia kasihi


Di tempat lain, zila sedang mengayun ayunan kan ayunan yang ia duduki dengan pelan, tidak jauh berbeda dengan Daffa, wanita itu juga sangat merindukanmu suaminya.


Bohong memang jika ia bilang tidak ingin lagi menemui Daffa, nyatanya ia sangat ingin kembali, tapi rasa kecewanya juga begitu besar terhadap Daffa.


"Zil makan dulu nak"


"iya Bun" zila turun dari ayunan melangkah bersama sang Bunda


zila menggandeng lengan sang bunda , kepalanya ia sandarkan di bahu


"Kamu kangen Daffa"


Zila lebih memilih diam, orangtuanya memang tidak ingin ikut campur dengan urusan sang putri, baginya zila sudah cukup dewasa menyelesaikan permasalahannya dengan Daffa, ta jarang juga__ibunya meminta zila untuk pulang , tapi zila lebih memilih mempertahankan egonya, begitu pula dengan sang ayah, ayahnya memang sangat menyayanginya lebih dari apapun, tapi untuk ikut campur lebih dalam dengan urusan putrinya sang ayah merasa tidak pantas, sampai sekarang zila sendiri tidak menceritakan masalah rumah tangganya dengan orangtuanya, baginya cukup ia dan Daffa yang tau mengenai masalah mereka, tapi tidak dengan Zidan, pria itu bahkan sampai ikut pulang setelah kedatangan Daffa ke Korea mencari adiknya, Zidan menolak keras jika zila harus kembali dengan Daffa, sampai kapan pun Zidan tidak ingin adiknya hidup dengan Daffa, bahkan Zidan sendiri yang bilang ke zila ia yang akan mengurus surat perceraian zila dengan Daffa


"Sayang kamu kangen kan sama ayah anak kamu"


"Ga papa ko nak, kalo kamu bilang ia, ga akan juga runtuhin Harga diri kamu"

__ADS_1


"iya Bun zila kangen banget sama daffa, beberapa hari ini perasaan zila ga enak, zila mikirin daffa terus"


"kamu beneran mau pisah sama Daffa"


hening tidak ada Jawaban


"Hem"


"kamu beneran mau pisah"


"menurut bunda zila harus apa"


"pulang dan bicarakan semuanya dengan Daffa"


zila menimang kembali ucapan ibunya, kembali__dan membicarakan lagi dengan Daffa?, bukannya hal itu sudah sering ia lakukan, dan lagi - lagi Daffa membuat nya kecewa.


....


di meja makan keheningan terjadi, Anggota keluarga sibuk dengan makanan nya masing masing tapi tidak untuk zila, wanita itu hanya mengaduk aduk makanan nya


"Makan Zil" tegur Zidan


"iya bang"


"BANG ZIDAN, pria yang Abang sebut brengsek itu masih suami zila, zila ga suka Abang menyebut suami zila dengan sebutan brengsek" zila menghempas sendok nya Hingga terdengar bunyi nyaring Antara benturan dari piring dan sendok, sungguh zila tidak suka mendengar Zidan menyebut Daffa dengan sebutan brengsek.


zila pergi tanpa menyelesaikan makanan nya


"Zila, makan dulu" teriak sang bunda"


"zilaaa, maafin Abang , Abang ga maksud"


Teriakkan teriakan itu ia abaikan, zila membanting pintu kamar dan lebih memilih mengurung diri di sana


"Kamu si dan"


"lah, Emang Zidan salah, emang kan _ Daffa pria brengsek, bisa bisanya dia nyakitin zila"


"terus kamu di sebut apa, bukannya kamu juga sudah nyakitin istri kamu,apa kamu mau di sebut pria brengsek di hadapan kiya, seperti apa perasaan Kiya kalo ada yang menyebut kamu pria brengsek?"

__ADS_1


Zidan hanya menunduk sambil mengaduk aduk makanan nya, sulit untuk menimpali ucapan sang ayah.


"Ga usah sedih, sekarang kamu bawain makanan ke kamar adik kamu gih, bujuk dia, kan kamu yang tadi bikin dia kesal"


Zidan berdiri dari duduknya, Meraih Piring milik zila dan melenggang pergi, orang tuanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkat anaknya yang masih sama seperti mereka kecil dulu, Zidan yang Suka menjahili zila dan berkahir zila ngambek dan Zidan juga yang harus kembali membujuk nya


"anak anak sudah besar ya yah"


"Iya Bun, ayah yakin mereka pasti bisa nyelesaiin masalah mereka tanpa ikut campur kita Bun"


"Iya yah, bunda juga yakin anak kita sudah dewasa, mereka sudah bisa mencari jalan untuk kehidupan mereka"


...


"Zil, sudah Napa ngambeknya, makan dulu Yo"


"zila ayo makan , iya Abang minta maaf, suami kamu ga brengsek cuman ga baik aja buat kamu"


"ABANG KALO MAU JELEK JEL'LEKIN SUAMI ZILA, MENDING ABANG PERGI DEH, ZILA GA MAU MAKAN"


"Iya deh iya, Abang minta maaf, makan dulu yok"


"kamu ga kesian sama anak kamu, ibunya ngambek anaknya kena batunya"


"BAWA AJA NANTI ZILA BISA AMBIL SENDIRI"


Ok sekarang Zidan menyerah, zila masih sama seperti adik kecilnya yang keras kepala.


Zidan memilih pergi membawa kembali Piring zila ke dapur.


di dalam , zila duduk di depan meja riasnya, sekarang mereka masih berada di Aceh, tapi bukan di rumah nenek nya lagi, orang tua zila mempunyai rumah di sana, orang tuanya sudah membujuk zila untuk pulang ke Bandung tapi zila menolak dan akhirnya mereka sepakat tinggal di Aceh sampai zila melahirkan.


"Sayang kamu kangen papah yah" zila mengelus perut buncitnya, menatap nanar dengan tatapan penuh kerinduan


"Mamah juga kangen banget sama papah kamu nak, Tapi mamah juga kesal Banget, papah kamu sih nakal"


sudut bibirnya terangkat, menandakan senyum keterpaksaan di sana


"Zila meraih ponsel yang ia letakkan di dalam laci, ponsel yang tidak pernah ia buka semenjak pergi meninggalkan Daffa, zila yakin ponsel itu penuh dengan pesan pesan yang Daffa kirimkan.

__ADS_1


"Mas Daffa, apa kamu juga ngerasain apa yang aku rasain sekarang, aku kangen banget sama kamu mas, kangen di peluk sama mas"


Zila bersandar di punggung kursi, matanya menatap langit langit kamar


__ADS_2