Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
pulang


__ADS_3

flashback on


..."Tentang kisah yang belum usai...


..."Dengan lentera yang belum padam"...


......"Bimbang di Antara rasa dan iba"......


"Ka Daffa ini ada titipan dari teman gue"


Daffa mengerutkan keningnya Bingung, ada seseorang yang tiba tiba memberinya hadiah, siyapa?


"Dari Siyapa"


"Khaira fazila anak sastra"


"oh" singkat, padat dan jelas, Daffa meletakkan paper bag berwarna merah muda yang ia dapatkan sebagai hadiah yang katanya dari zila. Daffa kembali menyeruput kopi yang sempat tertunda tadi


"kenapa di anggurin daf, buka napa, kali aja kan isinya makanan"


Daffa memberikan paper bag tadi untuk teman temannya, Daffa sama sekali tidak ada niat untuk membuka apa isinya, ini bukan kali pertama Daffa mendapatkan hadiah seperti itu, jadi tidak kaget lagi untuk Daffa, yang membuat Bingung Adam juga Erik, ini kali pertama Daffa mendapatkan hadiah dari Khaira, gadis yang ia kenal akan sikap cueknya.


mereka sempat berpikir apa tebakan mereka tentang zila yang suka dengan Daffa itu benar


"Daf isinya sepatu"


"Daf gila,ini mahal coy"


Daffa merebut kembali paper bag tadi dan membawanya pergi


di tempat lain zila duduk sendiri dengan buku bacaan ditangannya, tapi banyak orang lain juga di sana


zila di kejutkan dengan Daffa yang tiba-tiba mendatangi nya dan yang lebih membuat nya terkejut Daffa meletakkan paper bag berwarna merah muda di sampingnya, zila menatap paper bag itu bergantian dengan Daffa


"Lo ambil gue ga bisa terima"


zila mengerutkan keningnya__ sungguh situasi ini sangat sulit ia pahami, Daffa tiba-tiba datang memberikannya paper bag ?


"tunggu tunggu ini apa ka" tanya zila dengan lembut


"Lo ambil, gue ga bisa terima hadiah dari Lo


"hadiah?"


enggan menjawab lebih Daffa Melenggang pergi begitu saja, meninggalkan zila dengan kebingungannya

__ADS_1


zila merasa tidak pernah memberikan Daffa hadiah apapun.


Zila meraih paper bag itu, merapikan barang-barang nya dan menyusul Daffa


"ka Daffa tunggu" teriak zila membuat anak anak lain memperhatikannya, tapi Daffa tidak peduli dan mengabaikan teriakan zila


Sampai zila tersandung batu karena kurang hati hati


"Allahu Akbar" zila menjadi tontonan sekarang, semua mata mantap ke arahnya, begitu pula dengan daffa , tapi tidak ada satupun yang membantunya, bukan karena jahat atau apa, tapi zila langsung berdiri tanpa mau menjadi tontonan lebih lama lagi


zila membersihkan tangan juga pakaian nya yang kotor, padahal masih ada kelas hari ini, tapi karena mengejar Daffa ia harus masuk kelas dengan keadaan berantakan


zila mulai kesal, Daffa tidak menjelaskan apapun, meninggal nya begitu saja tanpa penjelasan, tiba tiba datang mengganggu ketenangan nya, membuat nya merasa malu karena menjadi tontonan di tempat keramaian, ingin sekali rasanya zila mengutuk Daffa sekarang


"Daffa tunggu" zila refleks memegang lengan pria itu, dan langsung di tepis kasar oleh Daffa


"Lo apa apaan sih"


"maaf ka, saya ga sengaja, ini hadiah Kaka, ini bukan dari saya"


"Ga usah buang waktu gue deh, lo ambil balik ni hadiah, gue masih mampu buat beli sepatu itu pake duit gue sendiri"


Daffa tidak suka di beri hadiah mahal seperti itu, jika ia di berikan makanan Daffa akan menerima nya dan memberikan nya untuk Adam juga Erik, Daffa tidak suka sama sekali ada orang yang membuang buang uang nya hanya untuk memberikan nya hadiah, Daffa juga merasa masih mampu untuk membelinya sendiri.


"tapi saya ga pernah ngasih Kaka hadiah"


Ok zila tidak bisa di pancing seperti ini, Daffa mulai menyulut emosinya, zila melempar paper bag itu di hadapan Daffa, menatap Daffa dengan tatapan dingin


"Saya sudah bilang bukan saya yang ngasih hadiah ini, saya juga ga ada alasan untuk memberikan anda hadiah apapun, anda bukan siyapa siyapa bagi saya, kita tidak kenal, akrab apa lagi, gara gara anda yang tiba-tiba datang menuduh saya memberikan hadiah itu pada anda, hari saya yang tenang menjadi suram, apa anda memang seperti ini, enggan mendengar penjelasan orang lain,. saya bilang bukan saya yang ngasih hadiah itu" zila berbalik dengan emosi yang meluap, sekarang mereka menjadi tontonan,baru kali ini mereka melihat daffa berdebat dengan wanita.


Daffa menatap punggung wanita itu, dan meraih paper bag yang tergeletak tadi.


"Tapi cewe tadi bilang Khaira yang ngasih"


Dari Siyapa sebenarnya hadiah itu, Daffa harus mengembalikan hadiah nya ke siapa, sekarang Daffa merasa bersalah pada wanita itu, karena tuduhannya wanita itu harus menanggung malu.


Daffa mengejar zila tapi ia kehilangan jejaknya


"Lo liat cewe yang tadi jatuh di Taman nggak"


"em kayanya ke sana deh" mereka yang ada di sana menunjuk jalan ke arah perpus.


"oh iya makasih yah"


"iyaaa"

__ADS_1


Daffa juga yakin Jika zila masuk ke dalam perpus tidka ada tempat lain di sana, Dafa masuk tapi suasana perpus kosong , ia telusuri setiap lorong mencari sosok wanita yang baru saja berdebat dengannya, daffa merasa bersalah dan ingin meminta maaf padanya.


Tepat di lorong terkahir zila keluar dari sana bertepatan dengan Daffa yang juga ingin masuk ke sana mereka hampir bertabrakan, Daffa menatap lekat wanita di depannya mata yang tadi memerah karena emosi, sekarang justru terlihat sembab, apa wanita itu menangis?


Zila berlalu melewati daffa tanpa mengatakan apapun


"Tunggu"


ucapan Daffa mengehentikan langkahnya


"maaf"


"Tidak masalah" Zila kembali ingin melangkah tapi lagi lagi ucapan daffa mengentikan langkahnya


"Lo nangis?"


zila tidak menjawab, ia heran juga ada apa sebenarnya dengan dirinya, kenapa ia cengeng saat berhadapan dengan daffa


"Sepertinya orang yang ngasih sepatu itu ka Zahra Aulia, saya kemarin papasan sama dia waktu beli, kayanya yang ngasih hadiah nya salah kasih info"


Benar saat zila melihat isi hadiah itu zila ingat kalo tadi malam ia berpapasan dengan Zahra, Zahra tidak sadar dengan kehadiran nya, dan zila Ingat betul sepatu itu yang Zahra pilih untuk di bawa ke kasir.


Pertanyaan kenapa yang ngasih malah bilang hadiah itu darinya, apa benar orang yang Zahra titipkan salah memberikan informasi, entahlah zila tidak ingin ambil pusing, dan memilih masuk ke dalam perpustakaan , tempat ternyaman untuknya, tapi di sana malah ia tidak tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.


Zila pergi tanpa mau menatap Daffa lagi, sungguh menyakitkan mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, sedangkan pria itu diam kebingungan, pikirannya terus berputar mengenai ucapan zila, apa benar hadiah itu dari Zahra, tapi kenapa bukan Zahra sendiri yang memberikannya, dan ini juga kali pertama Zahra memberi nya hadiah, entahlah semua itu membuat kepala nya berdenyut nyeri.


Flashback off


" Bun hari ini Daffa ulang tahun"


"Hem terus?"


"Emmm, ga papah"


Sang ibu mengelus tangan zila yang saling bertaut di atas pahanya, ibunya tau betul zila Sangat merindukan suaminya, tapi ego wanita itu .


mengalahkan semuanya"


"sayang, jangan siksa diri kamu kaya gini nak, bunda tau kamu merindukan Daffa"


"apa zila harus maafin Daffa Bun"


"bunda ga akan ikut campur nak sama urusan kalian, kalian sudah sama sama dewasa nak, bunda yakin kalian lebih bisa memilih jalan yang terbaik buat rumah tangga kalian"


zila kembali menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut.

__ADS_1


"bunda, zila kangen banget sama daffa, berapa hari ini zila mikirin ga enak terus, apa Daffa ga baik baik aja ya Bun"


"pulang dan pastikan suami kamu baik baik aja"


__ADS_2