Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Tuduhan


__ADS_3

Kiya bergegas pulang ia lupa hari ini adik ipar dan suaminya akan berkunjung, terlalu Asik bermain dengan kucing liar membuat Kiya lupa untuk pulang.


Deret


drett


deret


ponsel di dalam tas berdering, Kiya tau siapa itu.


"waalaikumsallam zi"


"kamu kemana sih, zila sudah datang, kamu keluyuran seharian, gak usah pulang sekalian"


"maaf zi, aku lupa kalo zila mau datang, ini aku sudah di jalan , 10 menit lagi sampai"


"aku sudah bilang gak usah pulang" zidan berucap penuh penekanan, ia memutuskan panggilannya sepihak, Kiya hanya bisa menarik nafas panjang.


...


"assalamualaikum"


"waalaikumsallam"


zila berdiri meski kesusahan dengan perut buncitnya


(gess kalo heran kenapa di sini zila hamil, karena cerita ini di mulai satu bulan setelah mereka kembali dari Indonesia, di mana zila saat itu masih mengandung, jadi jangan heran ygy)


"Duduk aja Zil" pinta kiya berjalan mendekat, dua wanita itu saling berpelukan melepas rindu, Kiya mengusap perut buncit zila"


"maaf ya Zil, mbak lupa kalo kamu mau datang "


"nggak papa mbak, kita juga baru sampai kok"


sepersekian detik Kiya beradu tatap dengan Zidan yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa nampan di tangan nya, tapi dengan cepat pria itu lebih dulu memutuskan pandangan nya.


"sebentar ya Zil, mbak masakin sesuatu buat makan siang "


"nggak usah mbak, nanti aku sama Daffa makan di rumah, mbak pasti capek banget , baru datang langsung masak"


Kiya tersenyum sesaat


"enggak Zil, mbak sudah janji mau masakin kamu, mbak juga sudah belanja banyak buat kalian "


"mau zila bantu?"


"nggak usah Zil, mbak bisa sendiri ko "


zila mengangguk dan kembali duduk di samping zidan, pria itu sama sekali tidak ingin untuk sekedar menegur sapa istrinya, ia cuek dan lebih memilih menyibukkan diri dengan sang adik juga iparnya.


"ya udah, mbak masak dulu, nggak papa kan mbak tinggal"


"iya mbak gak papa"


...

__ADS_1


Kiya lebih dulu mengganti pakaiannya, terlalu gerah seharian berada di luar, hari ini Kiya berencana memasak kan makanan kesukaan adik iparnya itu, Kiya juga sudah membeli bahan bahannya.


Kiya mengupas bawang merah terlebih dulu, juga beberapa bumbu yang di butuhkan, entah kenapa rasanya perut wanita itu kembali mual, padahal tadi pagi sudah di muntah kan semuanya.


"ueek" Kiya bergegas masuk ke dalam WC , di dalam, Kiya kembali memuntahkan cairan dari dalam perutnya, seharian ia belum ada makan, karena tidak nafsu sama sekali, tapi sekarang harus di paksa mengeluarkan semua yang tersisa dari dalam perutnya


Kiya menyeka bibirnya yang terasa pahit, mata Kiya berkaca-kaca karena muntah, Kiya terduduk bersandar di dinding yang dingin.


kakinya melemas setelah memuntahkan semua isi perutnya, sebenarnya Kiya lelah, Kiya kehilangan banyak tenaga, tapi ia sudah janji pada iparnya, tidak enak juga meninggalkan iparnya untuk beristirahat.


Kiya kembali ke dapur setelah merapikan penampilannya.


Kiya melanjutkan masak masakan nya, semua bumbu sudah siap tinggal memasukkan ayam nya saja, terdengar suara berat yang membuatnya kaget


"aku sudah bilang ke kamu nggak usah pulang, nginap aja di luar sana, kenapa pulang"


Kiya hanya diam, enggan menanggapi ucapan zidan, terlalu lelah rasanya jika harus berdebat di kondisinya yang sedang tidak baik baik saja.


"ngapain aja di luar, ketemu an yaa"


Kiya beralih menatap tajam Zidan, sungguh ia tidak menyangka dengan apa yang zidan ucapkan


"kamu bilang apa zi?"


"dari mana?, dari ketemuan yaa?" Zidan mengulang pertanyaannya


"maksut kamu apa zi"


"iyaa ketemu sama itu loo, samaa cowo yang waktu itu, apa dia ikut pulang ke Indonesia "


"Mbak Kiya , kenapa " tanya zila kawatir"


"ah, enggak papa ko Zil,ini Abang kamu jail banget"


"serius mbak gak papa"


"iyaa Zil, nggak papa, kamu tunggu aja di luar yaa, Abang kamu nanti nyusul"


zila mengangguk sesaat sebelum kembali keluar


Zidan menatap tajam Kiya , wanita itu sudah berkaca-kaca.


"Kenapa nggak bilang kalo kamu teriak ke suami kamu , kenapa, hah, kenapa"


Zidan sedikit mendorong bahu Kiya yang tidak kalah tajam menatap suaminya, suaranya tercekat, Kiya tidak mampu lagi mengatakan apapun pada Zidan


"Kamu mau nunjukin Ke mereka, betapa kurang ajarnya kamu ke suami sendiri"


"iyaa"


"kenapa, kenapa diam, teriak Ki, teriak" zidan kembali mendorong bahu Kiya, kali ini cukup keras, sampai Kiya terbentur ujung meja


Kiya menahan sakit di punggungnya, tapi pria itu tidak peduli, ia melenggang pergi begitu saja"


mati Matian Kiya menahan agar air matanya tidak jatuh, di gigitannya bibir bawahnya menahan sesak yang begitu pilu ia rasakan.

__ADS_1


Kiya kembali melanjutkan masakannya dengan menahan sakit luar biasa.


Akhirnya masakan nya selesai juga, Kiya menata masakannya di meja makan sebelum meminta iparnya makan.


kepalanya mulai berdenyut nyeri, pandangannya pun mulai memburam, Kiya berpegangan di bahu kursi agar tidak limbung.


mungkin karena efek belum makan jadi Kiya merasa pusing, ia bergegas keluar memanggil keluarganya untuk makan siang bersama.


"makan Yo Zil, daf , Mbak sudah masakin kalian makan siang"


"Zidan berdiri lebih dulu, membantu adiknya untuk berdiri, Kiya hanya bisa memandangi, sebegitu sayangnya Zidan pada adiknya, padahal ada Daffa juga di sana, tapi zidan tetap memberikan perhatian untuk adiknya, jujur Kiya cemburu, ia tidak pernah lagi mendapat perhatian zidan setelah ia membuat pria itu kecewa .


Kiya mengusap perut yang masih rata, menelan salivanya susah payah, zidan melewati nya begitu saja tanpa mau menatap wajahnya, apa zidan sungguh tidak merasakan sakit yang kini ia tanggung.


"mbak ayo" ajak Daffa, yang melihat iparnya hanya berdiri, Kiya tersenyum sesaat sebelum ikut masuk ke dalam dapur


..


"makan yang banyak Zil" Kiya menyendok nasi ke piring zila, kemudian daffa, tapi saat Kiya ingin mengambil piring milik Zidan, pria itu lebih dulu mengangkat piring nya dan mengambil sendiri nasinya.


Kiya kembali duduk, dengan tetap mempertahankan senyuman nya, ia begitu lapar ingin segera makan.


"mbak __enak banget" ucap zila antusias


"masa sih Zil"


"iya mbak, nanti ajarin aku resepnya ya mbak"


"makasih Zil, iyaa nanti mbak ajarin kapan kapan"


"makan daf, mau nambah nasi"


"nggak usah mbak aku, sudah banyak tadi ngambil nasinya, takut mubasir"


Zidan kesusahan meraih gelas yang ada di depan Kiya, Kiya membantu suaminya untuk mengambil gelasnya, tapi justru tatapan dingin yang ia dapatkan dari pria itu


"ini zi"


..


"Nggak usah Zil, biar mbak aja kamu istirahat aja sana"


"mbak _biar aku bantu yaa, Mbak sudah masak, masa aku nggak bantu sama sekali "


"nggak papa Zil, beneran deh"


"kalo mbak gak ngijinin aku cuci piringnya, aku gak akan mau datang lagi ke rumah Kalian "


"ya Allah zila__ya udah deh mbak ngalah "


zila tersenyum kemenangan.


Pandangan nya kembali memburam, sakit di kepala nya semakin menjadi,


"Zil mbak tinggal bentar gak papa kan"

__ADS_1


"iyaa mbak gak papa "


__ADS_2